imam nawawi
imam nawawi

Alasan Imam Nawawi Membangkitkan Pengajian Hadis

Imam Nawawi (w. 676 H) merupakan sosok yang tidak hanya dikenal jasanya dalam ilmu hukum Islam, melainkan juga dalam ilmu hadis. Karya-karya Imam Nawawi banyak dijadikan refrensi wajib di lingkungan pendidikan pesantren di Indonesia, baik di bidang fikih maupun hadis. Imam Nawawi meninggalkan kitab syarah Shahih Muslim sebagaimana diterbitkan oleh Darul Fiker Lebanon setebal 9 jilid, disamping syarah Shahih Bukhari dan Sunan Abu Dawud. Di Indonesia, karya hadis Imam Nawawi yang sangat populer di kalangan ulama Nusantara adalah kitab Arbain Nawawi dan Riyadus Shalihin.

Di masanya, Imam Nawawi melihat majelis hadis mengalami penurunan yang sangat drastis sehingga gairah masyarakat terhadap hadis perlu dibangkitkan kembali. Jauh sebelum itu, posisi hadis sebagai hujjah menjadi objek perdebatan karena penghimpunannya dilakukan sekitar 90 tahun sesudah Nabi wafat. Tersirat dari pernyataan Syuhudi Ismail bahwa kebanyakan ulama hadis memandang pemalsuan hadis mulai muncul pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib.

Dalam kitab al-Faidl al-Qadir mengutip perkataan Imam al-Iraqi bahwa “Tradisi ulama mutaqaddimin/pendahulu (salaf)  tidak mengomentari hadis dalam kitab-kitab mereka, tidak menjelaskan siapa yang men-takhrij dan tidak pula menjelaskan kesahihan maupun kedlaifan hadis kecuali oleh segelintir dari mereka meskipun ulama dimaksud disebut Imam dalam hadis. Kemudian datang Imam Nawawi yang mulai menjelaskannya. Maksud para pendahulu agar masyarakat tidak melalaikan penalaran di setiap ilmu sesuai sifat ketidakpastian ilmu itu sendiri. Oleh karena itu, wajar jika Imam Rafi’i menempuh cara ahli fikih meskipun sebenarnya lebih alim dalam hadis dibanding Imam Nawawi”.

Imam Nawawi mensyarahi kitab Shahih Muslim dengan  menyebut penyebabnya adalah untuk menghidupkan kembali kajian Sunnah di masyarakat. Ini sebuah fenomena sosial yang menunjukkan kelestarian hadis saat itu semakin terancam. Para ulama yang hidup setelah abad ke-3 H lebih senang merujuk dan menilai al-Kutub al-Sittah sebagai ‘produk jadi’ atau hasil yang tidak perlu dipertanyakan lagi asal usulnya. Setelah itu, hadis itu dirujuk sebagai sumber penetapan hukum Islam. Meskipun demikian, syarah atau elaborasi yang lakukan oleh Imam Nawawi maupun ulama terdahulu merupakan syarah yang kategori ahistoris dan tekstualis, bukan elaborasi kontekstual yang mempertimbangkan asbabul wurud dan “konteks sebuah hadis” seperti yang diistilahkan oleh Prof. Quraish Shihab.

Praktek ilmu hadis di kalangan ulama kontemporer saat ini masih terbilang cukup langka. Ulama senior al-Azhar Syekh Ahmad Ma’bad Abdel Karem mengakui bahwa para ulama senior fikih dan ushul fikih dalam hal takhrij cukup mengandalkan hasil takhrij dalam kitab “Nailul Authar” karya Imam as-Syaukani. Lebih dari itu, beliau menyebut fenomena sebagian pengkaji Sunnah di zamannya yang menganggap pengabdian pada kitab-kitab Sunnah bisa dilakukan dengan membuang sanad-sanadnya.

Di era kebebasan informasi saat ini, ilmu Sunnah terutama ilmu takhrij semakin dibutuhkan oleh pencari ilmu maupun peneliti Islam dalam menjaga sikap selektif terhadap sumber informasi, keilmuan, terutama hadis-hadis Nabi. Pengajar Ilmu Sunnah Universitas al-Azhar Dr. Samih Abdallah dalam kitabnya “Thuruq at-Takhrij wa Qawa’iduhu” menyatakan bahwa Takhrij tidak hanya menunjukkan letak hadis dalam kitab-kitab sumber asli (primer), melainkan juga derajat hadis antara keberterimaan dan ketertolakannya. Ini merupakan manfatat terpenting, disamping untuk memahami pandangan para ulama terkait kritik periwayat dan hadis serta untuk mengumpulkan jalur-jalur riwayat agar bisa ditindaklanjuti, dinilai dan klasifikasikan.

Takrij juga bermanfaat untuk memastikan status riwayat yang didengar langsung atau tidak langsung dalam riwayat-riwayat mudallisin (manipulator) serta kondisi tersambung atau terputusnya sebuah sanad. Lebih dari itu, takhrij berguna untuk memahami nasikh  (penganulir) hadis dan mansukhnya, perbedaan lafadz asli riwayat dan tambahannya, illat (kejanggalan) berita, spekulasi dan kesalahan periwayat (narator/reporter), termasuk sebab kemunculan dan kondisi-kondisi hadis yang diperselisihan sumbernya serta penerapan ilmu hadis dalam mencari pemahaman yang akurat, mendekatkan manhaj para muhaddis yang beragam serta mendekatkan Sunnah kepada umat Islam sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Imam Nawawi.

Dalam perkembangan dunia keilmuan akademik, Ilmu hadis kemudian menginspirasi munculnya ilmu-ilmu penelitian terutama yang bertumpu pada nalar empiris yang mengacu kepada penangkapan pesan melalui indera sebagaimana pesan yang didengar dari Rasulullah Saw atau dipahami dengan melihat perbuatan Ralulullah. Shalat yang diamalkan oleh umat Islam sampai sekarang  merupakan hasil dari sanad pewaris para Nabi yang melihat secara berantai bagaimana Rasulullah menjalankan Shalat. Rasulullah Saw bersabda; “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat Saya Shalat”.

Di tengah menjamurnya berita hoax dan manipulasi yang menjadi konsekuensi perkembangan teknologi, melestarikan majelis Sunnah bermanfaat untuk menjaga keaslian pesan, pemahaman, perbuatan dan akhlak mulia yang diwariskan oleh Rasulullah Saw. Disamping orang yang banyak membaca hadis, secara otomatis dia akan banyak menyebut nama Nabi sekaligus bershalawat kepada Nabi beserta keluarganya. Wallahu A’lam.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

bahasa

Dengan Bahasa, Menembus Dunia

“Batas bahasaku adalah batas duniaku”. Ujar seorang filsuf Jerman Ludwig von Wittgenstein. Jauh sebelum filsuf …

escortescort