hadist
hadist

Ingin Kembali Ke Sunnah? Kitab Syarah Al Nawawi ‘ala Muslim Solusinya!

Tidak salah ungkapan “al Ruju’ ila al Qur’an wa al Sunnah“, kita harus kembali kepada al Qur’an dan Sunnah. Karena benar keduanya adalah dalil primer dan warisan Rasulullah kepada umatnya. Para ulama salafusshaleh bahkan sejak dulu mendengungkan hal itu. Terbukti, mereka getol mempelajari makna-makna al Qur’an, kemudian menulisnya menjadi karya tafsir.

Tafsir al Qurthubi, al Baghawi, Ibnu Katsir, al Thabari, Jalalain, al Wasith, al Sa’di, dan al Tahrir wa al Tanwir adalah diantara karya-karya tersebut. Tujuannya tidak lain, supaya umat Islam generasi berikutnya yang tidak memiliki kapasitas keilmuan memadai untuk memahami al Qur’an secara langsung cukup membaca kitab-kitab tafsir tersebut untuk bisa memahami al Qur’an secara utuh.

Demikian juga hadis. Banyak kalangan ulama yang menulis syarah (penjelasan) hadis. Karena untuk memahami hadis secara langsung butuh kemampuan khusus. Tidak semua orang bisa. Maka untuk membantu umat Islam generasi akhir kembali ke hadis, para ulama mewariskan karya-karya mereka sebagai alternatif paling mungkin untuk memahami hadis secara sempurna. Salah satu kitab penjelas hadis yang sangat terkenal adalah kitab Syarah al Nawawi ‘ala al Muslim.

Tentang Kitab Syarah al Nawawi ‘ala Muslim

Judul aslinya adalah al Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al Hajjaj. Namun lebih masyhur dengan sebutan kitab Syarah al Nawawi ‘ala Muslim. Kitab penjelas (syarhu) dari kitab hadis Shahih Muslim. Kitab hadis paling shahih setelah Kitab Shahih al Bukhari. Dan dari sekian banyak kitab Syarah Shahih Muslim, kitab ini menempati ranking teratas dalam kualitasnya. Lebih syamil (lengkap) dan luas penjelasannya.

Imam Nawawi menyebutkan, bahwa di dunia ini hanya ada dua kitab hadis yang paling shahih, yakni kitab Shahih al Bukhari dan kitab Shahih al Muslim. Dengan demikian, kalau ingin kembali hadis dalam segala aspek kehidupan, khususnya dalam bidang hukum Islam, tidak ada cara lain kecuali memahami dua kitab hadis shahih tersebut. Dan, untuk memahaminya dengan benar salah satunya harus membaca kitab Syarah al Nawawi ‘ala Muslim.

Baca Juga:  Mengenang Kemerdekaan Indonesia dan Islam : Kesadaran yang Mengikat, Bukan Menyekat

Pada muqaddimah kitab ini Imam Nawawi menulis lengkap sanad Shahih Muslim sampai kepada Nabi, menjelaskan kelebihan dan keutamaan kitab Shahih Muslim dari kitab hadis yang lain, dan ketelitian serta kehati-hatian Imam Muslim dalam meriwayatkan hadis.

Supaya lebih sistematis, Imam Nawawi mengelompokkan hadis menjadi sub-sub judul sesuai tema sehingga lebih mudah menghubungkan satu hadis dengan hadis yang lain yang memiliki kemiripan tema.

Setelah itu, Imam Nawawi mulai menjelaskan makna hadis. Lebih dari itu, beliau menjelaskan kata-kata yang dianggap sulit. Nama-nama perawi juga tak luput dari penjelasannya, nama-nama yang populer dengan kunyahnya (gelar), dan juga dijelaskan mereka dari keturunan siapa, nama-nama yang mubham, hal-hal yang terkait dengan perawi, sanad dan matan dan lain-lainnya.

Apabila menemukan hadis, atau nama orang diulang-ulang beliau memberi penjelasan panjang lebar dan detail. Imam Nawawi juga menyebut nama ulama kalau ia menukil penjelasan dari ulama tersebut. Seperti ketika menjelaskan kalimat yang musykil (sulit). Tetapi kalau penjelasan tersebut sudah masyhur, artinya banyak ulama yang menjelaskan demikian, beliau tidak menyebutkan karena akan terlalu banyak menulis nama.

Kemudian Imam Nawawi menjelaskan makna hadis secara lebih sfesifik, menjelaskan kandungan hukum baik yang pokok (ashal) maupun cabang (furu’). Juga menjelaskan kaidah syar’i dari hadis tersebut, adab dan Zuhud. Dalil-dalil yang terkait dengan topik tertentu dijelaskan secara ringkas dan padat, kecuali kalau memang dirasa sangat butuh penjelasan rinci baru dijelaskan secara panjang lebar.

Semua penjelasan Imam Nawawi ditulis dengan padat dan dengan bahasa yang jelas sehingga mudah dimengerti. Inilah yang membuat kitab ini sangat terkenal karena banyak dibaca oleh umat Islam dan dijadikan referensi untuk memahami hadis.

Baca Juga:  PPKM Darurat, Melihat Istilah Darurat dalam Tinjauan Fikih?

Oleh karena itu, jika benar-benar serius akan kembali ke sunnah, kitab ini sangat cocok dan praktis dijadikan sumber bacaan.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

anal seks

Fikih Berbicara Anal Seks

Ramai publik membicarakan hubungan ranjang yang abnormal dan tidak semestinya. Ya, anal seks lagi hebohnya …

mahasiswi taliban

Haruskah Memisahkan Laki-laki dan Perempuan dalam Majelis Ilmu?

Taliban, penguasa baru Afghanistan melalui Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengeluarkan dekrit, mahasiswi dapat …