kitab faidul hija
kitab faidul hija

Fikih Nusantara (11): Kitab Faidhul Hija Syarah Nailul Raja

Ditulis oleh KH. Sahal Mahfudz sebagai penjelas kitab nadzam (syi’ir yang ditulis dengan wazan atau irama berbahasa Arab) Nailur Roja Syarah kitab Safinatun Naja karya Kiai Ma’shum Siraj, Gedongan, Cirebon. Syaikh Sayyid Ahmad bin Umar al Syathiri juga menulis kitab dengan judul Nailur Roja.

Nama lengkap Kiai Sahal seperti ditulis sendiri pada halaman judul kitab ini, adalah Ahmad Sahal bin Abi Hasyim Muhammad Mahfudz Al Hajaini. Lahir tanggal 17 Desember 1937 di Desa Kajen, Margoyoso, Pati.

Beliau mewarisi tradisi ulama salaf yang gemar menulis. Banyak karya yang dihasilkan sebagai buah tangannya. Menyebutkan sebagiannya, al Tsamarah al Hajainiyah, al Barakatu al Jumu’ah, Thariqat al Hushul ila Ghayah al wushul, al Bayan al Mulamma’ ‘ala Alfadz al Lumd, Luma’ al Hikmah ila Musalsalat al Muhimmat, al Faraidh al Ajibah dan masih banyak lagi termasuk tulisan berbahasa Indonesia.

Karena kitab ini merupakan penjelasan dari Nailur Roja Syarah kitab Safinatun Naja karya Syaikh Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Sumair al Hadhrami, biasa disingkat Salim al Hadhrami, sistematika penulisannya mengekor kepada kitab Safinah. Termasuk nuansa fikih dan tasawuf yang melingkupinya. Telah maklum, Safinatun Naja adalah karya yang memadukan fikih dan tasawuf.

Dari judulnya, kitab ini adalah hasil curahan pikiran Kiai Sahal untuk membantu umat Islam menumpang kapal yang akan membawa mereka kepada keselamatan. Safinatun Naja yang berarti kapal keselamatan perlu diurai lagi karena isinya yang ringkas padat supaya orang-orang awam lebih mudah memperoleh tiket untuk menumpang kapal yang akan membawa mereka ke suatu tempat yang indah. Tempatnya Nabi, para sahabat, ulama-ulama salaf, dan orang-orang shalih.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (18): Kitab Minhat al Qarib al Mujib Karya Tuan Tabal

Oleh karena itu, Kiai Sahal memulai torehan penanya dengan rukun Islam dan rukun iman beserta penjelasan masing-masing pembagiannya secara detail dan terperinci. Kemudian menjelaskan makna kalimat tauhid. Pemahaman mendalam terhadap kalimat “La Ilaha Illallah”.

Kemudian pembahasan masuk pada tanda-tanda seseorang telah masuk usia baligh. Lalu cara beristinjak dengan batu, bab wudhu, bab niat, yang mewajibkan mandi hadas, rukun-rukun mandi, syarat-syarat wudhu dan mandi, penyebab hadas, yang haram bagi orang yang berhadas besar maupun kecil, sebab-sebab seseorang boleh bertayammum, benda-benda najis yang bis suci sebab istilah, macam-macam najis, pembahasan haid dan seterusnya.

Pada bagian akhir kitab ini, Kiai Sahal menuliskan sanad keilmuan beliau yang sampai kepada Imam Syafi’i. Dengan demikian, seperti ulama-ulama Nusantara pada umumnya, sanad keilmuan Kiai Sahal bersambung langsung kepada Imam Syafi’i melalui jalur guru-gurunya.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

kitab al nadlhah al hasaniyah

Fikih Nusantara (31): Kitab Al Nadhah al Hasaniyah Karya Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani

Semakin kita membuka dan membaca karya-karya ulama Nusantara, semakin kita paham bahwa mereka telah berusaha …

sullam al munajah

Fikih Nusantara (29): Kitab Sullam al Munajah Karya Sywikh Nawawi al Bantani

Pada bagian terdahulu telah dimuat satu karya Imam Nawawi al Bantani yang memiliki nama lengkap …