kitab raja ali 1
kitab raja ali 1

Fikih Nusantara (12): Syair Hukum Nikah Karya Raja Ali Haji

Nama lengkap penulis kitab ini adalah Haji Raja Ali bin Haji Raja Ahmad bin Haji Raja Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali bin Engku Haji Ahmad Riau. Lahir tahun 1808 M. di Lingga, Pulau Penyengat. Sekarang masuk wilayah Kepulauan Riau. Wafat ditempat yang sama pada tahun 1873 M. Ibunya bernama Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor. Akrab disapa Putri Raja Selangor.

Selain sebagai ulama, ia yang berdarah Melayu Bugis ini juga seorang pujangga dan sejarahwan. Karyanya yang paling fenomenal adalah Gurindam Dua Belas yang saat ini ditulis disepanjang dinding bangunan makam Raja Ali Haji. Sedangkan karya beliau dalam bidang fikih diantaranya, Syair Siti Sihana, Syair Hukum Faraid dan Syair Hukum Nikah.

Kitab Syair Hukum Nikah ditulis dalam bentuk puisi berbahasa Melayu. Berbentuk mandzumah seandainya ditulis dalam bahasa Arab. Seperti kitab Nailur Roja Karya Kiai Ma’shum Siraj Cirebon yang ditulis dalam bentuk nadzam (syi’ir yang ditulis dengan wazan atau irama berbahasa Arab).

Kitab Syair Hukum Nikah terdiri dari 15 pasal dan 348 bait. Hanya membahas hukum fikih lingkup nikah. Namun dalam pembahasannya diselipi juga etika hubungan suami istri, termasuk etika bersenggama. Mirip-mirip kitab ‘Uqudul Lujain karya Syaikh Nawawi  al-Bantani.

Kelima belas pasal tersebut dimulai dari rukun nikah, kemudian sekufu’, maskawin, walimah, qismah dan nusyuz, tanda-tanda wanita nusyuz, khulu’, thalak, bilangan thalak, ila’ dan dhihar, Iddah, istibra’, ridha, nafkah dan hadhanah.

Syair-syair atau nadzam-nadzam dalam kitab ini ditulis secara apik. Satu maha karya sastra bernilai seni tinggi. Enak dibaca karena bahasanya yang menawan, indah, puitis dan bahkan romantis. Hal ini terlihat ketika Raja Ali Haji mensyairkan etika hubungan badani suami istri.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (20): Kitab Al Fawaid al Janiyyah Karya Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al Fadani

Tulis Raja Ali Haji:

Apabila sudah naik ke rumah

Istrimu itu boleh dijamah

Akan tetapi hendaklah hemah

Akan sunnat Nabi al Rahmah.

Hendaklah tuan bermain-main

Bukalah kubah bertudung kain

Cintapun jangan kepada yang lain

Daripada lubang main Mahin.

Kata Mahin dalam syair di atas adalah kosa kata Arab seperti pada al Qur’an (al Sajadah: 8). Disini, seperti termaktub dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali, Raja Ali Haji menganjurkan harus pemanasan (fore play) dulu sebelum melakukan hubungan intim.

Kealiman dan kedalaman ilmu Raja Ali Haji tergambar dari bait-bait syair keseluruhan dalam kitab ini. Sebagai misal adalah apa yang ditulisnya berikut ini yang sesuai dengan hadis Nabi riwayat Ibnu Majah. Nabi melarang menggauli istri seperti binatang buas yang menerkam. Langsung pada intinya. Tapi harus dimulai dengan peluk cium dulu serta kata-kata yang indah nan romantis apabila hendak bersenggama.

Apabila Hendak Mengerjakan

Gurau dan canda tuan dahulukan

Peluk dan cium hendak banyakkan

Pujuk dan cumbu pula sertakan.

Bermain itu hendaklah sabar

Dicelah tanjung dua sebembar

Janganlah pula gopoh dan ghubar

Agar mendapat lezat yang Akbar.

Ke atas ke bawah cuba dulu dahulu

Kanan dan kiri bertalu-talu

Apabila berdiri Roma dan bulu

Tatkala itu hilanglah malu.

Dapatkan lezat tiada terhingga

Keduanya sama memuaskan dahaga

Keuntungan tiada ternilai harga

Laut yang dalam sudah diduga.

Raja Ali Haji mengajarkan etika bersenggama yang sesuai dengan tuntutan Nabi. Suami tidak boleh seenaknya saja hanya menumpahkan hasrat tanpa peduli kepuasan istri.

Ini secuil isi kitab Syair Hukum Nikah. Bait-bait syairnya begitu sangat indah. Membaca karya ini kita akan dibawa pada suasana seakan-akan kita sedang bersenandung, namun senandung itu memberi cerah ilmu fikih, dan tak dinyana merasuk ke sanubari tanpa disadari.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

kitab wishah al ifrah

Fikih Nusantara (32): Kitab Wisyah al Ifrah Wa Isbah al Falah Karya Muhammad bin Isma’il Daud al Fathani

Kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan aksara Jawi ini sekali lagi membuktikan semangat ulama-ulama Melayu …

kitab al nadlhah al hasaniyah

Fikih Nusantara (31): Kitab Al Nadhah al Hasaniyah Karya Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani

Semakin kita membuka dan membaca karya-karya ulama Nusantara, semakin kita paham bahwa mereka telah berusaha …