sebarkan kebaikan lewat media sosial 210128131334 210
sebarkan kebaikan lewat media sosial 210128131334 210

Membaca Manuver Kelompok Radikal dalam Strategi Perang Media

Salah satu bahaya terbesar dalam peradaban manusia adalah kekerasan yang dijustifikasi oleh dalil agama. Tragedi kemanusiaan atas nama agama-lebih tepatnya memanipulasi ajaran agama-telah menjadi catatan sejarah kelam yang menakutkan. Peristiwa kelam masa lalu, menjadi tanda ketika agama dimanipulasi untuk kepentingan politik di situlah tragedi kemanusiaan paling menakutkan terjadi.

Dewasa ini, kelompok radikal memainkan andil besar dalam membentuk peradaban penuh darah dengan pembenaran keagamaan. Mereka menjual ayat agama dengan harga sangat murah hanya demi kepentingan kelompok mereka yang seolah membawa nama perjuangan agama.

Selain sering menggunakan agama sebagai pembenaran tindakannya, kelompok radikal sebenarnya mudah dikenali dengan strategi dan pola gerakannya. Strategi kelompok ini mudah diamati dari cara mereka memainkan framing atau pembentukan opini publik (POP). Dalam kacamata mereka, pertempuran bukan sekedar fisik, tetapi juga perang media dan opini (ghazwul fikr) dengan cara membentuk opini umat, lebih tepatnya menyesatkan opini umat.

Jika mereka selalu berkicau dengan membentuk opini adanya buzzer yang membahayakan, sesungguhnya buzzer mereka lebih militant, solid dan membahayakan, walaupun secara kuantitas sangat kecil. Mereka memaknai perang distribusi konten sebagai ibadah sehingga tiada kenal lelah menyebarkan konten hoax, disinformasi dan komen melalui akun anonymous.

Apa kira-kira strategi yang biasa dilakukan oleh kelompok radikal dalam membelah opini masyarakat? Strategi Pertama, menyebarkan opini tokoh yang sealiran dengan pandangan mereka. Bisa pula tokoh yang tidak dalam lingkaran mereka tetapi komentar dan pemikiran dianggap menguatkan eksistensi mereka. Bahkan tokoh yang berbeda agama pun dijadikan justifikasi jika komentarnya seolah beririsan dengan kepentingan mereka.

Pemilihan tokoh sudah melalui beberapa analisa yang mempunyai kecenderungan untuk memberikan komentar yang akan memberikan angin segar bagi gerakan mereka. Tokoh dengan representasi organisasi tertentu semisal aktif di ormas keagamaan tertentu akan menjadi legitimasi kuat jika selalu memberikan komentar yang memberikan angin segar dan melindungi posisi mereka.

Baca Juga:  Pembelaan Tauhid di Indonesia sudah Selesai

Dalam pola ini bisa jadi mereka akan mengangkat tokoh dari kelompok mereka sendiri atau tokoh lain yang dalam komentar dan pernyataannya seolah memberikan pembenaran dari setiap kejadian yang mereka persepsikan. Komentar tokoh dan ahli yang mendukung kepentingan mereka akan dibesar-besarkan sebagai justifikasi yang seolah ilmiah dan obyektif.

Memang sangat mengherankan banyak tokoh-tokoh di Indonesia walaupun tidak berafiliasi dengan kelompok radikal, tetapi komentarnya seakan memberikan angina segar bagi gerakan pembangkangan mereka. Komentar tokoh ini kemudian dibesar-besarkan dengan seolah kepentingan mereka adalah benar sebagai kepentingan publik.

Cara membesar-besarkan konten inilah yang bisa dilihat dengan metode representasi. Seolah mereka representasi ulama, representasi umat Islam dan representasi ormas yang paling Islami. Dan ketika mereka merasa terdesak mereka merepresentasikan umat sedang didzalimi, agama sedang ditindas dan ulama sedang dikriminalisasi.

Metode lainnya adalah mereka akan membuat pemberitaan dengan judul yang bombastis. Kejadian yang kecil akan dibuat dengan seolah kejadian besar dengan judul yang memikat. Semisal : pilihan diksi yang menggugah emosi keagaman Allahu Akbar! Subhanallah! Zakir Naik Mengislamkan Ribuan Orang. Faktanya video tersebut mungkin hanya berupa tanya jawab biasa.

Strategi media lainnya adalah membranding tokoh baru yang bisa jadi dalam lingkaran kaderisasi mereka atau di luar lingkaran mereka tetapi mempunyai potensi untuk dijadikan legitimasi. Muncullah nama-nama ustadz baru atau tokoh politik yang sealiran atau akademisi yang kerap mendukung gagasan dan ide mereka.

Strategi kedua, menghancurkan dan mendelegitimasi tokoh moderat. Penghancuran karakter tokoh yang berseberangan dengan mereka, perlu dilakukan dengan tujuan tokoh tersebut terintimidasi dan berhenti bicara dan kedua supaya orang tidak percaya dengan kredibilitas tokoh tersebut.

Bayangkan anak-anak muda sekarang tidak lagi melihat kredebilitas tokoh dan ulama yang memang tidak diragukan ilmunya gara-gara dihancurkan dengan strategi media mereka. Seorang tokoh ahli tafsir yang diakui dunia internasional dituduh syiah dan ulama’ su’. Tokoh ulama yang lulusan Universitas Arab Saudi dan menjadi ketua Umum Ormas terbesar di Indonesia dianggap sesat, Syiah dan sebagainya.

Baca Juga:  Puasa adalah Terapi Pengendalian Diri

Sungguh media kelompok radikal tidak hanya menghancurkan cara pandang keagamaan, tetapi adab dan moralitas generasi muda Islam yang tidak menghargai ilmu dan ulama. Mereka menghancurkan karakter ulama dan tokoh yang dalam pandangan mereka akan membahayakan cita-cita politiknya.

Strategi berikutnya adalah mereka akan membenturkan satu tokoh dengan tokoh lainnya. Masyarakat Indonesia dengan karakter budaya patron akan terbelah karena tokohnya seolah saling bertentangan dan sedang diadu oleh kelompok radikal. Cara-cara ini memang sudah lama menjadi pola propaganda media mereka untuk memecahbelah masyarakat.

Strategi berikutnya dari kelompok radikal terhadap tokoh moderat adalah labelling. Istilah ulama su’, tokoh liberal, tokoh syiah, komunis dan lain sebagainya adalah cara mereka menanamkan label dan predikat untuk meruntuhkan kredebilitas ulama yang sebenarnya tidak diragukan lagi basis massa dan keilmuannya. Sementara mereka akan mengangungkan tokoh-tokoh tertentu sebagai alternatif tokoh yang dianggap paling islami dan memperjuangkan Islam.

Bagaimana cara meredam pola dan strategi media kelompok ini? Tirulah militansi dan soliditas mereka dalam menyebarkan hoax, fitnah dan adu domba. Tetapi jangan tiru konten dan subtansinya. Militansi mereka harus juga dimiliki generasi moderat saat ini. Tetapi konten mereka yang mempolitisasi agama, menebar hoax dan fitnah tidak patut diikuti.

Kelompok mereka sebenarnya kecil, tetapi mereka berisik dengan konten propaganda yang seolah paling membela Islam dan memperjuangkan syariat Islam. Namun, faktanya mereka hanyalah kelompok yang sedang mempolitisir dan memanipulasi agama. Bisa jadi mereka hanyalah obyek dari agenda besar untuk memecahbelah persatuan dan kesatuan bangsa yang sangat beragam, tetapi Islami ini.

Mereka sebenarnya sudah masuk dalam peringatan al-Quran surat Al-Baqarah 2:12 : Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Dalam ayat 2:12 itu sangat jelas bagaimana mereka ketika dinasehatkan untuk tidak membuat kerusakan, tidak memicu konflik dan tidak menyebar fitnah mereka justru dengan ponggah mengatakan : kami sedang melakukan perbaikan dan memperjuangkan agama. Itulah rasa bangga dan percaya diri mereka padahal mereka sebenarnya perusak yang tertipu oleh diri dan kelompoknya.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

berlebihan dalam beragama

Berlebihan dalam Beragama; Trik Iblis Menyesatkan Manusia

Cap iblis sebagai pembangkang setelah terang-terangan menolak perintah Tuhan supaya bersujud kepada Nabi Adam menjadi …

Ustad Adi Hidayat

Soal Adi Hidayat dan Imam al Zuhri : Kasus Sama, Endingnya Beda

Adi Hidayat kembali berulah. Setelah sebelumnya menyatakan doa iftitah tidak ada dalil hadisnya, kali ini …