Membaca Kembali Ramalan Perang Akhir Zaman

Ada banyak hadis yang membicarakan tentang adanya perang akhir zaman atau dikenal ‘Malhamah kubra’. Suatu perang dahsyat yang akan membuat bumi menjadi karang abang, kehancuran total dan kemusnahan manusia.

Hadis-hadis tentang perang besar akhir zaman ini oleh sebagian orang lalu dikaitkan dengan fenomena kekinian yang terjadi di belahan dunia. Bahwa apa yang diramalkan oleh Rasulullah akan terjadi tidak lama lagi karena tanda-tandanya telah tampak.

Sayangnya hadis-hadis ini oleh sebagian kelompok dipolitisasi untuk kepentingan mencapai tujuan tertentu. Ketika terjadi perang berkecamuk ia larikan kepada ramalan ini untuk mendramatisir situasi. Rekayasa untuk memperoleh dukungan dari umat Islam.

Dulu, ISIS saat berjaya di Irak-Suriah juga menisbatkan perang yang terjadi di kawasan tesebut sebagai perang akhir zaman. Tak pelak, penisbatan kecamuk perang tersebut memantik saudara-saudara kita kaum muslimin terhipnotis untuk hijrah dan bergabung.

Banyak sekali penafsiran politis yang menjadikan ramalan ini sebagai tunggangan untuk membenarkan kondisi kekinian. Dan bisa jadi perang tanpa akhir di Irak juga akan selalu dimaknai sebagai tanda perang akhir zaman. Umat memang dituntut cerdas untuk menyikapi ragam tafsir tersebut.

Penelusuran Hadis

Bagaimana sesungguhnya menilai hadis Rasulullah tentang Malhamah Kubra tersebut? Di antara hadis tersebut menyatakan bahwa kemusnahan penduduk bumi mencapai sembilan puluh sembilan persen. Salah satu hadis adalah ketika Rasulullah berbicara tentang keberkahan Negeri Syam, hadis yang mengistimewakan Negeri Syam, sebagai medan pertempuran akhir zaman.

Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahwa Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya barak kaum muslimin di saat perang besar terjadi berada di Ghauthah (nama sebuah daerah di Syam), sampai ke sisi sebuah kota yang dinamakan Damaskus, kota terbaik dari kota-kota yang ada di Syam.”

Baca Juga:  Teladan Nabi yang Ramah Lingkungan

Hadis ini lalu ditasbihkan sebagai ramalan terjadinya perang besar. Umat Islam terlibat langsung dalam perang besar ini. Dan daerah Ghauthah menjadi benteng terakhir pertahanan umat Islam. Ghautah merupakan nama  tempat di Syam. Tempat yang penuh dengan air dan pepohonan. Beberapa ulama ahli hadis mengatakan bahwa perang besar yang dimaksud adalah perang besar yang terjadi antara umat Islam dan tentara Salibis.

Beberapa ulama menilai hadis yang bisa dijumpai dalam Sunan Abu Dawud ini sebagai hadis shahih. Namun ada pula ulama hadis yang menilai hadis tersebut sebagai hadis dlaif. Dalam kitab Ahadits Fadhail al Syam; Dirasah Naqdiyyah (Studi kritis terhadap hadis-adis yang berbicara Keutamaan Syam), Idlibi menyatakan bahwa hadis ini dhaif. Kesimpulan ini diperoleh setelah mengkaji seluruh jalur periwayatannya.

Dari sisi periwayatan, hadis ini diriwayatkan oleh beberapa orang sahabat, di antaranya adalah Abu Darda’, ‘Auf bin Malik, Mu’adz bin Jabal, dan beberapa sahabat Nabi lainnya yang bersumber dari Abu Hurairah dan dari riwayat mursal Abu Zahirah dan ‘Ali Zainal ‘Abidin. Sebagaimana diketahui dalam ilmu hadis, hadis yang bersumber dari Abu Darda’ pada dasarnya shahih, akan tetapi untuk hadis di atas setelah ditelusuri terdapat riwayat lain yang menyebutkan bahwa Abu Darda’ dalam riwayat tersebut tidak ada dan hanya sampai ke tabi’in yang bernama Jubair bin Nufail. Dengan begitu riwayat kedua ini mursal. Fakta ini membuat riwayat Abu Darda’ memiliki ‘illat dan tidak lagi dianggap shahih, namun dhaif.

Hadis selanjutnya adalah hadis dari ‘Auf bin Malik yang setelah ditelurusi juga termasuk hadis yang dhaif, demikian pula hadis yang bersumber dari Mu’ad bin Jabal di dalam riwayatnya terdapat seorang rawi yang dituduh sebagai seorang pendusta atau dalam studi hadis dikatakan sebagai muttaham bil kadzb. Adapun beberapa riwayat pendukung dari Abu Hurairah ternyata jalur periwayatannya sangat lemah atau sangat dhaif.

Baca Juga:  Hadis Tasyabbuh (Menyerupai Non Muslim) dan Perdebatan Selamat Natal

Dan riwayat Abu Zahirah dan ‘Ali Zainal Abidin keduanya adalah riwayat mursal, artinya hanya sampai kepada tingkat tabi’in. Oleh sebab itu riwayat tersebut tidak bisa dikatakan sebagai hadis yang bersumber dari Nabi SAW, melainkan dikatakan sebagai atsar atau khabar semata.

Negeri Syam dalam Sejarah Kecamuk Perang

Bila merujuk pada sejarah, ada tiga perang besar yang pernah terjadi di Syam. Perang Yarmuk, perang ‘Ain Jaluth dan perang Haththin. Perang Yarmuk adalah perang besar dan maha dahsyat. Momen krusial untuk membebaskan negeri Syam yang terjadi antara umat Islam yang di pimpin oleh Khalid bin Walid melawan kekaisaran Bizantium. Terjadi pada tahun 13 H.

Kekaisaran Romawi mempersiapkan pasukan yang begitu besar untuk menghadapi tentara Islam di Syam. Perang besar ini terjadi di lembah Yarmuk, utara sungai Yordan dan berdekatan dengan dataran tinggi Golan. Perang dahsyat yang terjadi selama enam hari ini dimenangkan oleh umat Islam secara gemilang. Tentara Bizantium kalah total.

Sedangkan perang ‘Ain Jalut adalah perang besar antara umat Islam pimpinan Syaifuddin Quthuz dengan panglimanya yang gagah berani, Bairbas melawan bangsa Tartar atau Barbar di bawah komando Katbugha yang mengumpulkan semua kekuatan Mongol yang ada di Syam.

Semua kekuatan Mongol yang ada di Syam bersatu dan bersiap untuk perang. Perang ini terjadi di medan ‘Ain Jalut, Syam pada bulan Ramadlan tahun 658 H, dimenangkan oleh tentara Islam dan menghapus mitos Tar tar tak bisa dikalahkan sekaligus menghentikan ekspansi  mereka ke negeri-negeri Islam lainnya.

Adapun perang Hattin adalah perang besar antara tentara Islam di bawah pimpinan Salahuddin al Ayyubi melawan tentara Salibis dari kerajaan Yerussalem. Terjadi pada tahun 584 H atau 1187 M.  Pertempuran ini dimenangkan oleh pihak Muslim. Perang Hattin merupakan perang besar dan terpenting dalam Perang Salib.

Baca Juga:  Uighur: Eksploitasi dan Militansi

Menilik sejarah tiga perang besar yang terjadi di Syam, maka kalau yang dimaksud oleh Rasulullah adalah tiga perang besar tersebut, maka cerita perang besar dalam hadis-hadis tentang perang besar akhir zaman telah terjadi. Periode prediksi Rasulullah berakhir dan tidak bisa dirunut ke belakang. Dengan demikian tidak bisa ditafsiri ulang untuk melegitimasi kekacauan yang tengah terjadi di wilayah bekas Syam saat ini, atau yang secara khusus terjadi di Suriah.

Demikian pula dengan dengan hadis-hadis prediksi lainnya, ketika yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad adalah suatu hal yang khusus, maka ketika hal itu telah berakhir, maka berakhirlah periode prediksi tersebut. Dengan kata lain, prediksi Rasulullah tentang perang besar akhir zaman telah terjadi pada masa sejarah lampau.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memaknai hadis-hadis Rasulullah secara jeli, sesuai dengan konteksnya. Apalagi sampai menarik hadis tersebut untuk sebuah kepentingan dan hasrat duniawi.

Mempolitisasi hadis untuk sebuah kepentingan duniawi sama saja dengan menginjak martabat Rasulullah. Maka, usaha untuk selalu menciptakan kedamaian di dunia menjadi pilihan utama bagi semua manusia sesuai dengan tugasnya sebagai khalifah di bumi. Untuk memakmurkan planet bumi. Bukan untuk membumi hanguskan dan menghancurkannya.

Bagikan Artikel

About redaksi

Avatar