Ketua Bidang Dakwah MUI KH Cholil Nafis
Ketua Bidang Dakwah MUI KH Cholil Nafis

Jadikan Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Insaniyyah agar Bisa Kembali ke Fitrah

Jakarta – Puasa Ramadan harus dimanfaatkan sebagai ajang pelatihan diri atau madrasah insaniyyah untuk menjadi manusia yang sejati. Penegasan itu disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis.

“Pertama, kita pastikan Ramadan menjadi latihan atau training diri, madrasah insaniyyah, untuk menjadi training kemanusiaan, menjadi manusia yang sejati. Sehingga nanti kita lulus menjadi orang yang kembali kepada fitrah,” ujar Kiai Cholil dikutip dari MUIDigital, Rabu (5/3/2025).

Kiai Cholil mengungkapkan bahwa tanda-tanda kembali kepada fitrah disebut dengan muttaqin atau orang yang bertakwa. Orang yang mencapai derajat ini tidak hanya menunjukkan ketaatan dalam aspek ibadah personal, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama. Ketakwaan sejati mencerminkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan manusia.

“Tanda-tanda kembali kepada fitrah itu disebut dengan muttaqin, orang yang bertakwa. Secara internal, dia rajin ibadah, rajin shalat, dan memiliki harta yang digunakan untuk berinfak. Itu secara internal. Nah, secara eksternal, dia menjadi pemaaf kepada orang lain. Kesalehan sosialnya semakin bertambah untuk orang lain, dan kepekaan sosialnya mendorongnya untuk berbagi,” jelasnya.

Kiai Cholil menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan juga menjadi peluang emas bagi orang-orang beriman untuk meningkatkan kualitas spiritual dan sosial mereka. Bulan suci ini menghadirkan kesempatan untuk meraih pahala yang berlipat ganda serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui berbagai amalan kebaikan.

“Momentum Ramadan ini menjadi harapan bagi semua orang yang beriman, karena pahala dilipatgandakan. Kemudian, kita diberikan ruang-ruang di mana kita bisa lebih dekat kepada Allah SWT,” katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga melatih keikhlasan serta empati kepada mereka yang kurang mampu.

Dalam bulan ini, umat Islam diajarkan untuk lebih peka terhadap kondisi saudara-saudara yang kurang beruntung, sehingga mendorong mereka untuk berbagi dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Kiai Cholil mengutip doa Rasulullah SAW yang menunjukkan pentingnya persiapan menyambut Ramadhan. Rasulullah SAW bahkan telah mengajarkan umatnya untuk berharap dipertemukan dengan Ramadan jauh sebelum bulan itu tiba.

“Beliau berdoa, Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan,” memohon keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta dipertemukan dengan Ramadhan. Hal ini menunjukkan betapa Ramadan sangat dinantikan dan diharapkan,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa ulama terdahulu membagi waktu mereka dengan merasakan kebahagiaan Ramadhan selama tiga bulan setelahnya, dan kemudian mulai bersiap menghadapi Ramadhan berikutnya setengah tahun sebelumnya.

“Oleh karena itu, jadikanlah Ramadan ini sebagai madrasah insaniyyah, sehingga kita bisa kembali kepada kefitrahan kita.

Dan kita memaksimalkan Ramadhan untuk berpuasa, bukan hanya meninggalkan lapar dan minum, melainkan bagaimana puasa itu bisa merasakan kehadiran Allah dan menjadi latihan ihsan, sehingga kita bisa dekat kepada Allah SWT,” tegasnya.

Kiai Cholil juga menyoroti tantangan global terkait krisis pangan dan ekonomi yang harus disikapi dengan bijak selama Ramadan. Oleh karena itu, selain sebagai momentum spiritual, Ramadan juga mengajarkan nilai kesederhanaan dan kepedulian terhadap kondisi sosial.

Dalam situasi global yang penuh tantangan, umat Islam diingatkan untuk lebih bijak dalam mengelola konsumsi dan tidak terjebak dalam pola hidup berlebihan.

“Kita bisa merasakan bahwa di seluruh dunia akan mengalami krisis pangan dan krisis ekonomi. Sementara itu, di Indonesia, kita memiliki program ketahanan pangan,” ujar dia.

Oleh karena itu, Kiai Cholil mengingatkan Ramadan jangan sampai menjadi paradok, justru banyak menghabiskan makanan dan berlebih-lebihan dalam konsumsi.

“Kadang-kadang, kita ini puasa seharusnya mengurangi makan, tetapi yang justru disiarkan adalah persiapan sembako yang cukup,” tutur dia.

Dia mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai momen berbagi dan meningkatkan ibadah.

“Mari kita latih kesalehan kita kepada yang lain, kemudian kita berbagi kepada yang lain. Pastikan Ramadhan ini kita bisa banyak membaca Alquran , banyak bershalawat, istighfar, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah serta berbagi,” tandas Kiai Cholil.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

radikalisme di era digital copy

Lingkungan Digital Jadi Ruang Baru Infiltrasi Paham Radikal

Jakarta – Upaya  serius sangat penting untuk menekan paparan radikalisme di ruang digital. Merujuk data …

Zohran Mamdani 1

Mushaf Ottoman di Balik Sumpah Zohran Mamdani, Jejak Panjang Islam di New York

New York — Pelantikan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York City mencatatkan sejarah baru, …