Anggia Ermarini
Anggia Ermarini

Jaga NKRI, Akidah Keagamaan dan Nasionalisme Harus Terus Digaungkan Tokoh Agama

Jakarta – Tokoh agama dan ulama harus berperan aktif memberi pemahaman kepada masyarakat tentang ajaran-ajaran para nabi tentang akidah keagamaan yang benar, penuh kasih sayang, dan saling menghormati, disamping penguatan nasionalisme. Ini penting karena bangsa Indonesia dalam beberapa kurun waktu terakhir, menghadapi banyak rintangan dan problematika kebangsaan yang sangat komplek, terutama ekspolitasi agama sebagai komoditas politik.

Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU), Anggia Ermarini, MKM mengatakan bahwa terkait hal tersebut sebetulnya sudah dilakukan di Fatayat NU, mulai dari ceramah atau dakwah dan hal yang kecil dengan mengenalkan tentang kebangsaan, bendera Merah Putih, termasuk mengenalkan para pahlawan bangsa. Yang itu semua diperkenalkan di forum-forum keagamaan NU.

”Saya selalu mengatakan, ketika kita mengadakan kegiatan rutin di seluruh Indonesia, para da’iyah-da’iyah ini tidak hanya berbicara tentang menyempurnakan salat saja. Tetapi juga bagaimana menyempurnakan ibadah-ibadah ritual dan mencintai negara ini,” ujar Anggia Ermarini, MKM di Jakarta, Rabu (13/01/2021).

Menurutnya mempertahankan, membangun karakter, serta nasionalisme itu adalah sesuatu hal yang penting untuk diajarkan disamping mengajarkan tentang akidah keagamaan. Ia menilai kalau masalah soal agama menjadi komoditas politik hal tersebut sebetulnya tidak terlalu banyak, tetapi ‘suaranya’ yang terlalu banyak sehingga terblow up kemana-mana.

”Ini memang tidak bisa dibiarkan terlalu banyak karena bisa menjadi ancaman juga nantinya. Harus ada intervensi dari negara. Kalau dari NU atau Muhammadiyah, saya rasa tidak perlu diminta untuk melakukan pembekalan tentang kebangsaan karena memang mereka pasti melakukan itu,” tutur anggota Komisi IX DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Ia menyebut memang ada hal yang perlu menjadi catatan karena tantangannya juga berbeda. Pasalnya, tantangan 5 atau 10 tahun yang lalu dengan hari ini tentunya berbeda. Termasuk juga untuk isu-isu persatuan dan kesatuan, isu pluralisme Bhineka Tunggal Ika, dan isu tentang radikalisasi.

Baca Juga:  Didi Kempot, NU, dan Islam Nusantara

”Artinya kita yang produk lama ini perlu di update dan di upgrade lagi tentang kapasitas dan keterampilan untuk menyikapi isu-isu yang terus berkembang ini.” Ucapnya.

 Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya berfikir keras untuk mengikuti perubahan-perubahan yang dinamis itu teutama masalah radikalisme atau arus kanan yang radikal. Menurutnya, negara perlu untuk mengintervensi, meningkatkan kapasitas atau peran-peran dari para komunitas-komunitas seperti yang dimiliki NU atau Muhammadiyah.

”Mereka ini sudah punya potensi, sudah punya gerakan-gerakan yang mampu dijadikan sebagai alat untuk merespon isu-isu atau perkembangan hari ini dan tinggal dimanfaatkan saja,” jelas Anggia.

Ia menuturkan bahwa paham seperti terorisme dan radikalisme ini pergerakannya sangat halus sekali. Maka dari itu intervensi yang dilakukan juga harus lebih halus lagi di masyarakat, terutama kepada para ustad dan kyai-kyai atau para sepuh-sepuh di masyarakat untuk mampu merespon hal itu.

”Kalau soal politik identitas, agama dibawa dalam kepentingan politik itu adalah kejahatan kalau. Misalnya sesuatu yang seharusnya menjadi hal yang halal kemudian menjadi haram karena itu akan menguntungkan dia secara politik, menurut saya itu jahat. Dan seharusnya dalam konteks agama, ulama itu tidak boleh melakukan hal tersebut,” pungkas Anggia Ermarini.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About redaksi

Avatar