Islam agama mudah

Beragama bukan Menambah Beban Masalah

Agama itu adalah jalan menuju kebaikan. Dengan ajarannya agama menempa umatnya dalam perilaku yang baik untuk berbuat kebaikan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Karena hakikatnya sebagai jalan menuju kebaikan, agama tentu secara khittah memberikan solusi bagi masalah manusia bukan justru menjadi beban masalah bagi manusia.

Bukan cara beragama yang baik jika justru memberatkan diri di luar kapasitas yang dimampuni. Dalam konteks ini, Islam adalah agama yang sangat mengerti kemampuan dan potensi kemampuan manusia dalam beribadah. Tidak boleh beribadah justru membuat orang sengsara atau justru binasa.

Islam lalu mengenalkan konsep rukhshah (keringanan) ketika dalam kondisi tertentu yang menyulitkan. Artinya, Islam datang untuk membina kebaikan manusia, tetapi tidak dalam konteks pembinaan yang memberatkan manusia. Bahkan dalam konteks tertentu, ketika nyawa menjadi terancam, Islam membolehkan sesuatu yang haram dalam kondisi normal menjadi halal ketika darurat.

Formula fleksibilitas berislam inilah yang sebenarnya sejak awal menjadi watak ajaran Islam dan yang dipraktekkan oleh Rasulullah dengan para sahabat yang sangat beragam watak, intelektualitas dan profesinya. Rasulullah pemimpin umat dan agama yang sangat memahami kondisi sehingga mampu menerjemahkan ajaran Allah dengan kontekstualisasi umatnya.  Rasulullah seakan ingin menegaskan bahwa agama harus menjadi bagian pemecah masalah, bukan justru menjadi masalah baru bagi manusia.

Semangat Rasulullah ini bisa dilihat dari suatu cerita yang sangat menarik yang bisa diambil pelajaran berharga dari sudut pandang yang beragam. Kisah ini termaktub dalam Shahih Bukhari.

Suatu saat, Sahabat Muadz bin Jabal r.a. melaksanakan shalat Isya berjamaah dengan menjadi imam di kalangan kaumnya. Namun, di tengah shalat salah seorang makmum melakukan mufaraqah (keluar dari jamaah), dan memilih melaksanakan shalat munfarid (sendirian).

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Bersikap Adil Terhadap Sesama Menuju Keberkahan Hidup

Akibat kejadian, para sahabat berdebat, tetapi juga tidak menemukan jawaban yang lugas dan memuaskan. Mereka memutuskan untuk mengadu dan bertabayyun kepada Rasulullah. Seorang yang melakukan mufaraqah itu menjawab :

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami para pekerja penyiram bekerja pada siang hari, dan sesungguhnya Mu’adz shalat Isya’ bersamamu, kemudian dia datang mengimami kami dengan membaca surah Al-Baqarah,”.

Nabi tentu saja tidak memutuskan perkara hanya dengan mendengar satu pihak. Muadz pun mengafirmasi cerita itu. Setelah mengetahui persoalan Nabi lalu memberikan nasehat. Bukan membenarkan Sahabat Muadz tetapi justru memberikan nasehat yang sangat arif.

 “Mengapa kamu tidak membaca saja surat ‘Sabbihisma rabbika’ (al-A’la), atau dengan ‘Wasysyamsi wa dluhaahaa’ (asy-Syams) atau ‘Wallaili idzaa yaghsyaa’ (al-Lail)?” tutur Nabi. “Karena yang ikut shalat di belakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang punya keperluan.”

Narasi singkat ini sungguh luar biasa dan menyimpan banyak pelajaran berharga. Dalam aspek fikih bisa menjadi bahan untuk kajian kebolehan mufaraqah dengan sebab-sebab tertentu. Dalam kajian etika kepemimpinan bisa menghasilkan nasehat bahwa menjadi imam atau pemimpin harus mengukur kemampuan rakyatnya tidak hanya memerhatikan diri sendiri.

Namun, semangat yang penulis ambil dari cerita yang sangat luar biasa itu bahwa agama tidak boleh ditempatkan menjadi masalah bagi kehidupan manusia. Dengan adanya agama tidak boleh justru hidup manusia menjadi terbelenggu. Tidak usah berlebihan dalam beragama yang bisa menyusahkan orang lain.

Umat beragama itu beragam tidak hanya dari kalangan agamawan saja, tetapi ada orang tua, anak-anak, orang lemah dan orang dengan ragam profesi yang menuntut kebutuhan dan keperluan. Jangan pernah membawa agama justru menjadi penyebab kemusykilan, kesulitan dan mudharat bagi manusia. Agama harus ditempatkan menjadi pemecah masalah kemanusiaan.

Baca Juga:  Syukur Senjata Melawan Keterbatasan

Semangat ini penting sekali dihayati oleh umat Islam dengan tidak gampang membawa agama sebagai penghakiman dalam mempersulit kehidupan manusia. Agama harus kembali pada khittah sebagai jalan kebaikan. Hakikatnya, kebaikan harus pula disertai dengan cara yang baik. Bukan kebaikan boleh menggunakan segala cara untuk meraih kebaikan.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Farhah Salihah

Avatar