tidurnya orang berpuasa
tidurnya orang berpuasa

Jangan Salah Memahami Hadits “Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah”

Tentunya, ada di antara kita atau bahkan kita sendiri, yang menghabiskan waktu puasa dengan tidur. Ada yang terbiasa tidur setengah hari. Setelah subuh bangun saat adzan duhur. Bahkan, ada yang tidur seharian. Masih untung kalau shalat duhur dan ashar, ada yang tidur ful sehari dan bangun sesaat sebelum berbuka puasa.

Memang ada hadits Nabi yang mengatakan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Namun demikian, kita tidak boleh memahami hadits tersebut apa adanya.

Kata Nabi, “Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan dosanya diampuni”. (HR. Baihaqi)

Awamnya, orang memaknai sabda Nabi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” sebagai anjuran untuk tidur. Sehingga tidur menjadi aktivitas paling favorit. Padahal sebenarnya tidak demikian.

Imam Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddinnya mengatakan, sebagian dari adab atau tatakrama berpuasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari. Tujuan puasa adalah supaya bisa merasakan haus, lapar dan merasakan lemahnya kekuatan tubuh supaya hati menjadi jernih.

Lalu bagaimana pemahaman tentang hadits tersebut yang jelas-jelas menyebut tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah?

Imam Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Tanqih al Qur’an al Hadits menulis, tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah maknanya kalau dengan tidur tersebut seseorang bisa terbebas dari hal-hal yang merusak puasa, seperti ghibah. Tidur, meskipun merupakan inti kelupaan namun menjadi ibadah karena dapat membantu melaksanakan ibadah.

Ibnu Hajar al Haitami dalam kitabnya Ittihaf ahli al Islam bi Khususiyyat al Shiyam mengutip pendapat Abu al Aliyah mengatakan, orang yang berpuasa tetap bernilai ibadah selama tidak menggunjing orang lain, sekalipun ia tidur di ranjangnya. Hafshah berkata, “betapa nikmatnya ibadah, sementara aku tidur di ranjang”.

Baca Juga:  Menjaga Kelanggengan Pernikahan Hingga di Surga

Penjelasan ini menjadi penegas, bahwa hakikatnya tidur saat berpuasa tidak benar-benar dianjurkan, melainkan alternatif terakhir apabila seseorang kalau tidak tidur dikhawatirkan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Dari penjelasan Imam Ghazali, Imam Nawawi dan Ibu Hajar al Haitami dapat ditarik pemahaman bahwa tidur saat berpuasa sebenarnya merupakan kerugian. Sebab, saat puasa dianjurkan memperbanyak ibadah seperti membaca al Qur’an. Puasa tujuannya supaya seseorang merasakan haus dan lapar sehingga mampu merasakan penderitaan kaum dhuafa yang selalu dilanda kelaparan dan kekurangan.

Oleh karenanya, tidak tidur tentu lebih baik dari tidur saat seseorang sedang berpuasa. Sama juga seperti hadits yang mengatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum menurut Allah dari aroma minya misik. Hadits ini tidak boleh dipahami secara sederhana. Bukan anjuran supaya mulut bau. Yang lebih tepat pemahamannya adalah, kalau mulut bau saja lebih harum dari minya misik, apalagi kalau mulut tidak bau, tentu nilainya lebih dari sekedar hal itu.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

salah kiblat

Setelah Shalat Baru Menyadari Ternyata Salah Arah Kiblat?

Titah-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram” (al Baqarah: 145) Yang dimaksud adalah menghadap …

Allah mengabulkan doa

Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya

Apakah semua doa hamba kepada Rabbnya akan dikabulkan? Kita harus yakin bahwa doa yang kita …