penceramah radikal
penceramah radikal

Jangan Undang Penceramah Radikal, Inilah Kriteria Ulama yang Sesungguhnya

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo di hadapan anggota TNI-Polri memberikan pesan tegas “ jangan undang penceramah radikal”. Pesan ini sebagai bentuk teguran karena bisa sangat mungkin institusi selevel TNI-Polti diinfiltrasi paham radikal melalui modus pengajian dan ceramah. Peringatan ini bukan bentuk anti Islam, tetapi justru ingin menyelematkan Islam agar tidak terus dijadikan tunggangan para penceramah radikal. Lalu, seperti apa penceramah radikal?

Jika pada zaman dahulu tidak gampang menyematkan gelar ulama kepada seseorang kecuali secara keilmuan dan tindakan sangat terpuji. Ulama ditentukan dengan ragam karya ilmu. Tidak heran, khazanah Islam banyak dipenuhi oleh beragam karya dari seorang ulama yang memiliki ilmu yang tinggi. Artinya, gelar ulama disematkan kepada mereka yang memiliki ilmu ilmu-ilmu di bidang ushul fiqh, fiqh, filsafat, tasawuf, logika, kalam, dan ilmu Islam lainnya lain-lain.

Namun, kini justru banyak bertebaran gelar ulama dadakan bahkan pada orang baru mengenal Islam sekalipun. Pandai bicara dan tampil ceramah sudah mendapat gelar ulama.

Sosok ustadz atau ustadzah yang tampil di layar kaca dan media sosial justru lebih mampu menarik perhatian sebagian besar masyarakat muslim Indonesia. Merekalah ulama-ulama baru yang dielu-elukan.

Ada banyak alasan mengapa masyarakat muslim Indonesia menyukai tipologi ustadz atau ustadzah yang mereka saksikan dari beberapa program televisi maupun media sosial. Ternyata, mereka menyampaikan ceramahnya dengan tema yang mudah atau bukan kategori pembahasan yang berat.

Bukan hanya itu saja, ulama dadakan ini banyak berpenampilan menarik, seperti ulama milenial, memilih gaya yang lebih santai, baju dan aksesoris yang dipilihnya pun yang sedang trend saat itu. Sedangkan ulama untuk kalangan orang tua lebih memilih gaya dengan kopiah dengan bentuk yang bervariasi ditambah dengan sorban sebagai pelengkap penampilan.

Baca Juga:  Noorsy Kutip Al Anam 162 tentang Tidak Perlu Takut Covid-19, Seperti Apa Tafsir yang Sebenarnya

Ini artinya sebuah tausiyah yang biasa dilakukan di majlis-majlis ta’lim yang bertempat di masjid kemudian mengalami metamorfosis mengikuti trend. Yang lebih jauh lagi tausiyah yang disampaikannya hanya berupa tema-tema yang selalu berangkat dari persoalan hukum Islam saja, supaya pendengarnya terbiasa dengan konteks halal dan haram saja, dan tidak lebih dari itu.

Kenapa hanya permasalahan fiqh saja yang dibahas? Itu karena ulama dadakan tidak memiliki ilmu yang cukup untuk dibagikan kepada pendengarnya. Landasan ilmu agama tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat, apalagi hanya beberapa bulan saja. Kita sebagai pendengar, seharusnya dapat memilah-milah ulama mana yang berbobot yang bisa kita ikuti tausiahnya.

Karena perkara agama memang bukanlah perkara yang mudah. Untuk pelajaran umum saja, kita harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh supaya bisa paham dan mengerti maksud dan kegunaannya. Supaya tidak salah dalam mendengarkan penceramah, perlu diperhatikan tiga poin yang harus di perhatikan.

Pertama, seorang pendakwah harus mendalami ilmu agama.

Seorang pendakwah memiliki tanggungjawab yang besar karena jika ia salah menyampaikan hal agama, maka ia akan sangat berpotensi menyebarkan pemahaman yang salah kepada orang lain yang ia dakwahi. Inilah alasan mengapa seorang pendakwah harus berhati-hati menyampaikan dakwahnya.

Seorang pendakwah tidak akan memberikan doktrin dogmatis. Menyampaikan ilmu agama sesuai dengan referensi ajaran agama yakni al-Quran dan hadist. Dalam menyampaikan al-Quran dan hadist juga didasari dengan ilmu yang mumpuni, karena dalam menerjemahkannya juga tidak boleh sembarangan.

Kedua, ikhlas dalam berdakwah.

Pendakwah sudah seharusnya menyampaikan ilmu dengan keikhlasan hati hanya karena bakti kepada Allah, bukan malah fokus untuk mengenyangkan diri. Seorang pendakwah harus paham bahwa kebaikan agama Islam bukan untuk kepentingan diri sendiri namun untuk kepentingan umat.

Baca Juga:  Lawan Radikalisme, Penceramah Harus Gelorakan Semangat Nasionalisme dan Patriotisme

Ikhlas dalam dakwah akan membuat amalan itu lebih langgeng. Pertanyaannya, mengapa perkataan pendakwah salaf dimasa silam lebih terasa manfaatnya? Jawabannya, karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan dan mereka hanya cari ridho Allah. Sedangkan, penceramah dadakan yang kini banyak terlihat, saat mereka berucap lebih dominan untuk mencari popularitas, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera umat yang mendengarkan mereka.

Ketiga, menyampaikan dengan kasih sayang

Agama Islam merupakan agama yang penuh kasih sayang, karena alasan inilah pendakwah seharusnya berdakwah tidak dilakukan dengan emosi. Mereka membimbing dan menasehati, bukan banyak mengancam dan menakuti-nakuti.

Pendakwah yang memaksakan keyakinannya kepada oranglain dengan cara kasar merupakan orang yang memiliki kedangkalan ilmu dan kelemahan pada akhlaknya. Allah saja memerintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun agar berkata lembut kepada Firaun meski sikap dan perbuatan Firaun melampaui batas (QS. Thaha; 44).

Karena itulah, pilih ustadz, ulama dan penceramah yang tidak asal popular, tetapi berkualitas. Bukan sekedar mengandalkan kelantangan suara menggebu-gebu, tetapi penuh dengan bimbingan dan nasehat yang baik. Bukan yang selalu membuat gaduh dengan halal-haram, tetapi yang memberikan ceramah dengan akhlak.

Penceramah radikal mempunyai kepentingan untuk memberikan ajaran yang selalu membuat kegaduhan di tengah masyarakat. Serangan hukum hal khilafiyah ditegaskan seolah menjadi surga dan neraka. Apalagi dalam tingkat ekstrem membajak ajaran untuk melakukan perlawanan terhadap negara dan ingkar terhadap kesepakatan berbangsa dan bernegara.

Apakah ada penceramah seperti itu? Silahkan anda yang menilai. Jika bilang ada nanti dituduh penistaan agama dan islamophobia. Tetapi jika faktanya ada para pembelanya diam seribu bahasa. Persis kejadian anggota organisasi ulama yang ternyata terafiliasi jaringan teror. Mereka mingkem tanpa kata.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

komedi dalam islam

Profesi Komedian Dilarang Agama? Ini Batasan Komedi dalam Islam

Saat ini profesi komedi khususnya yang lahir dari acara stand up comedy tengah naik daun. …

melaksanakan shalat

Semua Nabi Melaksanakan Shalat

Shalat merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh umat muslim di dunia. Seluruh …