Jika Ingin Menumbuhkan Cinta Agama, Kenapa Harus Menanamkan Benih Benci?

Keteguhan Islam seseorang tidak diukur dengan seberapa sering ia mengkafirkan yang berbeda. Begitu pula menanamkan keislaman yang kokoh bukan dengan cara menanam kebencian terhadap yang berbeda. Orang yang taat beragama dan beriman tidak diukur sekuat apa ia membenci kepada yang tidak beragama dan beriman.

Terjadi kesalahandalam cara berpikir segelintir umat. Seorang akan diakui keimanannya manakala ia menemukan lawan untuk tidak didekati dan dijauhi. Nampaknya tidak absah keimanannya ketika belum menariakkan kafir kepada yang lain.

Islam itu bukan slogan, tetapi keyakinan yang mewujud dalam tindakan yang penuh rahmat. Jika kita merasa agama kita paling benar, tidak perlu kita teriak yang lain salah. Apakah kebenaran keyakinan kita akan terganggu apabila tidak menyalahkan yang berbeda?

Beragama itu tidak sekedar tentang keimanan tentang kebenaran, tetapi juga tentang tindakan kebaikan. “Wahai orang beriman dan beramal shaleh” begitulah dalam Qur’an berulangkali dinyatakan. Artinya, tidak cukup umat Islam memegang keyakinan, tetapi juga mewujudkan iman itu dalam kebaikan.

Umat beragama tidak sedang berlomba menuju kebenaran, tetapi dalam kebaikan. Perlombaan dimulai ketika umat sudah selesai berbicara tentang kebenaran masing-masing. Berlomba-lomba dalam kebaikan mengandung makna bahwa seluruh umat yang meyakini kebenaran masing-masing sedang menapaki jalan kebaikan.

Dalam perlombaan, menjadi pemenang dan terbaik dalam kebaikan tidak lantas mempunyai anggapan bahwa yang lain sedang tidak mengikuti perlombaan kebaikan. Mereka semua adalah peserta perlombaan menuju kebaikan. Dan Ingat! kebaikan yang kita raih tidak mungkin hilang hanya karena kita melihat yang lain melakukan kebaikan. Dan kebaikan tidak akan diraih dengan cara keburukan.

Ada banyak kebenaran untuk disampaikan, tetapi kadang kita lupa tentang cara yang baik untuk menyampaikan kebenaran. Kebenaran butuh kebaikan. Banyak di antara kita terjebak hanya pada misi menyampaikan kebenaran, tetapi menyepelekan cara yang baik.

Baca Juga:  Segerakan Amal Baikmu, Jangan Sia-siakan Waktumu

Dalam konteks ini, saya ingin menegaskan bahwa keislaman seseorang tidak akan rapuh karena melihat orang lain yang tidak Islam. Tidak perlu menegaskan keislaman diri dengan cara menafikan agama orang lain.

Saya mendapatkan kesimpulan bahwa menjadi pribadi baik itu tidak cukup memegang kebenaran dengan kokoh, tetapi harus berdampak baik terhadap orang lain. Sungguh mutiara kata yang sangat indah ketika Nabi menyampaikan: Sebaik-baiknya di antar kalian adalah orang yang paling banyak banyak berbuat baik (memberikan manfaat) untuk manusia.

Barangkali kita tidak perlu mengklaim diri sebagai pribadi yang baik apalagi terbaik sebelum kebaikan yang kita miliki disebar dan tersebar untuk orang lain. Tidak perlu rasanya kita berlomba mengkampanyekan diri sebagai orang Islam, sebelum orang lain merasakan keislaman yang anda yakini.

Rasanya tidak perlu kita mengaku paling muslim dan beriman tetapi tindakan kita justru menghancurkan citra Islam yang telah lama dibangun oleh Nabi dengan pilar akhlaqul karimah. Haruskah kita tanpa lelah mengkafirkan sehingga kita layak mendapatkan label orang islam?

Ingat! Orang beriman pasti diangkat marabat dan harga dirinya dengan tanpa mengkafirkan dan merendahkan yang lain. Begitu pula sebaliknya, orang kafir tidak akan naik peringkat beriman walaupun rajin mengkampanyekan diri sebagai orang beriman.

Bagikan Artikel

About redaksi

Avatar