mc perempuan
mc perempuan

Kasus MC Perempuan dan Sikap Islam Terhadap Kesetaraan Gender

Belum lama berlalu, media ramai membicarakan kasus MC perempuan di Bali yang diwajibkan melakoni pekerjaannya di belakang layar atau tidak boleh menampakkan wujudnya di hadapan khalayak banyak. Bersumber dari beberapa media, alasannya karena ia seorang perempuan sehingga dilarang untuk muncul di publik.

Apapun alasannya, yang jelas telah terjadi diskriminasi terhadap hak perempuan untuk tampil dihadapan publik. Hal ini menarik untuk dikaji dalam sudut pandang agama. Dan disini akan diulas pandangan Islam terhadap perempuan di area ramai.

Dalam Islam, alasan utama kenapa perempuan dibatasi tampil di depan umum adalah karena auratnya tidak boleh dilihat oleh laki-laki. Disini ada bedanya batas aurat perempuan bagi laki-laki mahramnya dan yang bukan.

Dalam al Qur’an, ayat yang berbicara tentang aurat ada pada surat al Ahzab ayat 13 dan surat al Nur ayat 31 dan ayat 58. Kata aurat dalam surat al Ahzab ayat 13 oleh banyak penafsir diartikan sebagai peluang atau celah, lubang kecil yang terbuka bagi musuh, atau ruang kecil yang memberi kesempatan kepada musuh untuk menyerang.

Adapun kata aurat dalam surat al Nur ayat 31 dan 58 ditafsiri sebagai anggota tubuh yang tidak boleh atau tidak pantas terlihat oleh orang lain, atau anggota badan yang dianggap buruk dan tidak sopan manakala diperlihatkan dihadapan khalayak ramai.

Lebih khusus tentang aurat perempuan dihadapan publik dibahas dalam al Qur’an (al Ahzab: 59) “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”.

Dari sini ulama kemudian menyepakati bahwa seluruh tubuh perempuan dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Sedangkan dihadapan laki-laki yang menjadi mahramnya boleh menampakkan anggota tubuh sebagaimana kebiasaan berpakaian sewaktu berada di rumah, seperti betis, leher, lengan, tangan, kaki dan kepala.

Baca Juga:  Anak Kecil Berkurban, Memang Boleh?

Lebih detail tentang hal ini ditulis dalam al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (2/290). Laki-laki dan perempuan bukan mahram haram berbaur apabila terjadi khalwat (bersepi-sepi) yang menimbulkan syahwat sehingga rawan terjadi fitnah dan zina. Kedua, apabila perempuan tersebut tidak sopan, baik dalam pakaian maupun tingkah laku. Dan ketiga, terjadi persentuhan anggota badan.

Sedangkan ikhtilath atau pembauran karena suatu hajat (kebutuhan) yang disyariatkan hukumnya boleh. Seperti perempuan keluar rumah untuk shalat jamaah dan shalat hari raya. Bahkan sebagian ulama membolehkan perempuan melakukan ibadah haji disertai saudara atau teman laki-laki yang bisa dipercaya. Perempuan juga boleh melakukan muamalah dengan laki-laki seperti jual beli dan lain-lain.

Lalu bagaimana dengan suara perempuan, apakah termasuk aurat?

Menurut Abu Abbas al Qurthubi, apabila ada hajat (kebutuhan) laki-laki boleh berbicara dengan perempuan yang bukan mahramnya. Tetapi, perempuan tersebut dilarang berbicara dengan suara genit yang dapat membangkitkan syahwat.

Memang ulama berbeda pendapat tentang suara perempuan, apakah termasuk aurat atau bukan sebagaimana dicatat oleh Abu Muhammad Husain dalam karyanya Ta’liqatu li al Qadhi Husain.

Namun, dari dua pendapat ini yang shahih (benar) adalah pendapat yang menyatakan suara perempuan bukan aurat. Dengan alasan, yang disebut aurat adalah sesuatu yang bisa disentuh dan bisa dinikmati. Alasan kedua, karena perempuan yang menjadi perawi hadis sering meriwayatkan hadis dari balik hijab (tabir).

Kesimpulannya, selama berpakaian sopan dan tidak menampakkan auratnya, perempuan boleh tampil dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya. Perempuan boleh melakukan peran-peran publik seperti berceramah, menjadi guru dan sebagainya. Termasuk juga menjadi MC. Sebab yang dilarang hanya kalau berpakaian yang tidak menutup aurat dan berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya dengan suara genit yang bisa merangsang syahwat.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hari santri NKRI

Maulid Nabi, Hari Santri dan NKRI

Sederhana menjadi tanda khas kaum santri. Memakai sarung, songkok miring, dan sandal jepit. Busana yang …

toleransi sunnah nabi

Ulama Salaf Semangat Merayakan Maulid, Generasi Kini Semangat Berdebat Hujjah Maulid

Menurut pendapat yang masyhur, Rasulullah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal, Tahun Gajah. Bertepatan …