perusak agama

Kaum Perusak Agama Itu Nyata, Ini Indikatornya!

Indonesia dikenal dunia—terutama dunia Islam—sebagai role model dari pelaksanaan moderasi Islam atau Islam Washatiyah karena masyarakatnya mampu hidup harmonis dan teduh dalam masyarakat yang pluralistik (Mashuri, 2018). Bahkan Grand Syekh Al-Azhar memuji Indonesia karena bisa membina hidup damai dalam bingkai kebhinekaan.

Hal tersebut tentu saja berbeda dengan kondisi Timur Tengah. Meskipun hidup dalam kondisi seagama dan satu bahasa, tetapi konflik terjadi di mana-mana. Tak ayal jika Grand Syekh Al-Azhar selalu bertekad menjadikan Indonesia sebagai mitra untuk mengembangkan moderasi Islam di masyarakat internasional.

Pemerintah melalui kementerian dan lembaga juga sangat concern akan hal ini. Bahkan sudah menjadi komitmen bersama bahwa moderasi Islam harus menjadi arus utama dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Berbagai program, sarasehan, seminar, hingga diskusi tentang moderasi Islam dihelat di mana-mana. Hasilnya cukup signifikan memang. Setidaknya masyarakat sudah populer dengan istilah ini bahkan juga dunia.

Hakikat Moderasi Islam

Jika diamati lebih dalam, memang akan ditemukan bahwa moderasi Islam merupakan skema yang pas untuk diterapkan oleh seluruh umat Islam di dunia ini karena mengandung beberapa nilai yang sesuai dengan tuntutan keadaan dan kemajuan zaman.

Pertama, washatiyah bermakna tawassuth. Yaitu jalan tengah yang lurus. Abdul Mannan dalam Ahlussunnah wal Jamaah Akidah Umat Islam Indonesia (2012: 36) menjelaskan bahwa yang dimaksud tawassuth adalah sikap tengah atau diantara dua sikap, yakni tidak keras (ekstrem) dan terlalu bebas (liberal). Sikap tengah ini sesuai dengan sebuah riwayat. Nabi Muhammad Saw bersabda: “ perkara yang terbaik adalah yang tengah-tengah (sedang).”

Lantas Muhammad Az-Zuhaili dalam Moderat dalam Islam (2005: 1) menambahkan bahwa sikap tawassuth ini akan menghindarkan umat Islam agar tidak terjebak dalam sikap dan ajaran yang menyimpang dari syariat Islam yang membawa mereka ke jalan yang sesat. Lebih jauh, juga menjadi modal hidup rukun-damai, sejahtera, dan mempunyai tujuan hidup yang pasti.

As’ad Thoha (2013: 11) menjelaskan bahwa berkaitan dengan sikap tawassuth dalam bingkai dakwah washatiyah dapat diinternalisasikan dalam beberapa sikap; tidak bersikap ekstrem dalam menyebarkan ajaran Islam, tidak mudah mengkafirkan sesama muslim karena perbedaan pendapat, dan memposisikan diri dalam kehidupan masyarakat dengan senantiasa memegang teguh prinsip persaudaraan (ukhuwah) dan toleransi.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Instruksi yang Sia-sia

Kedua, washatiyah juga berarti i’tidal, berlaku proporsional. Dalam bahasa Alquran, I’tidal berarti tegak lurus. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8).

Dengan demikian, makna I’tidal adalah independen, tidak memimahak dan menjadi orang yang tegak dan tegar dalam membela dan menyampaikan kebenaran. Nilai-nilai ini sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat karena dengan nilai ini, masyarakat akan tenang, teduh dan damai. Berlaku adil juga ditekankan dalam konteks ini. Bahwa jangan sampai kebencian kita terhadap suatu kaum menjadikan kita berlaku tidak adil.

Ketiga, washatiyah juga berarti tasamuh (toleransi). Nilai ini menjadi kunci dalam mewujudkan kehidupan yang lestari, harmoni, damai, dan tentram. Sebab, toleransi ini mengandung sikap saling menghormati perbedaan dalam semua aspek kehidupan.

Berkaitan dengan ini, Allah SWT melalui kisah Nabi Musa dan Nabi Harun memberikan pelajaran yang sangat luar biasa. Meski Nabi Musa dan Harun menghadapi Fir’aun yang membangkan, namun beliau berdua menggunakan cara yang bermartabat, perkataan yang lembut dan syarat dengan menerima perbedaan. Hal ini sebagaimana tercantum dalam QS. Thaha ayat 44. Allah berfirman: “Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa dan Nabi Harun as) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut”.

Indikator Kaum Perusak Agama

Selain menjadi arus utama dalam kehidupan beragama dan berbangsa, dakwah washatiyah juga sudah menjadi primadona, bahkan nilai-nilainya sudah membumi dan mendarah daging pada sebagian diri umat Islam di Indonesia. Meskipun demikian, ada banyak tantangan yang menghadang. Tantangan itu lahir dari dalam maupun luar.

Baca Juga:  Teror atas Nama Agama sangat Terlarang

Di antara yang menjadi batu sandungan dakwah washatiyah adalah merebaknya kaum perusak agama. Berkaitan dengan kelompok ini, sesungguhnya Allah Swt telah memperingatkan kita melalui firman-Nya bahwa akan datang masa di mana kaum perusak agama yang menyembah hawa nafsunya ‘bergentayangan’ di muka bumi.

“.. Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran) (QS. An-Nisa’: 27). Para mufassir memahami ayat ini sebagai salah satu adanya kaum perusak agama. Mereka memprovokasi umat supaya menjauh dari ajaran agamanya yang murni. Radikalisme dan terorisme adalah ajaran yang sudah disepakati oleh semua orang merupakan bentuk penyimpangan yang nyata dalam Islam. Ia bertentangan dengan Islam yang hakiki.

Para perusak agama selalu berlindung dibalik ayat suci dan narasi yang dibumbui dengan logika-logika yang seolah kelihatan masuk akal. Mereka mengklaim diri sebagai pembela agama dan mereka juga menganggap bahwa yang ia lakukan tidaklah bertentangan dengan syariat Islam. Meskipun membodohi kaum awam dan muslim kota yang lagi angat-angatnya mencari Islam sejati.

Lantas, bagaimana mengidentifikasi bahwa seorang atau kaum itu adalah perusak agama? Allah Swt telah menunjukkan sifat-sifat kaum perusak agama Islam melalui petunjuk yang terdapat dalam kitab suci Alquran.

Pertama, berpenampilan menarik, namun sejatinya munafik.

Orang munafik memang licik. Allah dalam QS. Al-Munafiqun ayat 4 menggambarkan orang munafik sebagai berikut:

Dan apabila kamu melihat mereka (orang munafik), tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

Begitulah orang munafik. Ketika kita melihat mereka, maka kita akan takjub, ketika ia berbicara, maka kita akan mendengarkan perkataan mereka karena mereka berbicara dengan fasih. Namun demikian, kata Allah, mereka tak lebih bak kayu yang tersandar di dinding, yang menggambarkan bahwa mereka sesungguhnya kosong dari keimanan dan ilmu yang bermanfaat.

Baca Juga:  3 Sikap Islami untuk Mengais Rizki di tengah Pandemi

Orang munafik jika dikasih mimbar untuk berbicara di depan banyak umat, maka ia akan melakukan provokasi, menyulut emosi dan bawaannya selalu menaruh curiga kepada sesama muslim. Alih-alih menyampaikan dan berpegang teguh pada prinsip dakwah washatiyah, yang ada mereka malah menentang prinsip tersebut. Oleh sebab itu, waspadalah!

Kedua, mengaku melakukan perbaikan, padahal sejatinya mereka merusak agama Allah.

Dalam QS al-Baqarah ayat 11-12, Allah menjelaskan bahwa ada kaum yang mengklaim bahwa dirinya melakukan perbaikan, namun sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Kita lihat di berbagai tempat umum, baik di mimbar-mimbar dakwah, channel youtube, beranda media sosial dan lai sebagainya ustadz-ustadz atau da’i yang dengan bangga mengutip ayat suci tetapi ia gemar mengkafirkan sesama muslim. Orang yang demikian itu termasuk perusak agama. Karena ketidak mendalam ilmu agama yang ia kuasai, menjadikan ia bersikap ekstrem dan sejenisnya. Padahal, Islam sangat menentang ekstrimisme dan sejenisnya.

Sesungguhnya banyak sifat kaum perusak yang ditunjukkan oleh Allah swt dalam firman-Nya. Namun, dua sifat sebagaimana diuraikan di atas kiranya sudah lebih dari cukup bagi kita untuk mendeteksi lebih dini siapa kaum perusak agama itu.

Tentu munculnya kaum perusak agama harus kita sikapi dan carikan solusi untuk menghadapi kaum perusak agama. Dengan membumikan dakwah washatiyah, maka kaum perusak agama akan tereliminasi dengan sendirinya. Oleh sebab itu, dakwah washatiyah harus menjadi pertahian yang serius bagi kita semua yang peduli dengan kebaikan dan masa depan umat Islam yang lebih baik, damai dan teduh.

Bagikan Artikel

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir