kepanitian kurban
umat muslim menata daging kurban di atas daun jati 200717131119 379

Kepanitiaan Kurban, Apa Saja Tugasnya?

Tidak berapa lama lagi Idul Adha atau Idul Qurban tiba. Umat Islam seluruh dunia sangat antusias merayakannya sebagai apresiasi kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Sementara bagi yang sedang khusyu’ melakukan karnaval akbar kerohanian ibadah haji Idul Adha lebih bermakna lagi.

Idul Adha sangat identik dengan ibadah kurban. Pasalnya perayaan ini bermuasal dari sejarah agung pengorbanan fantastis Nabi Ibrahim yang mendapat perintah dari Allah supaya mengorbankan putranya, Isma’il. Meskipun akhirnya diganti kambing, namun ketulusan Nabi Ibrahim dan Isma’il sungguh sangat luar biasa.

Tulisan ini tak hendak mengulas sejarah tersebut. Hanya akan membahas seputar praktik ibadah kurban, khususnya tentang tugas-tugas kepanitiaan kurban dari sudut pandang hukum Islam (fikih). Sebab pada kenyataannya masih banyak yang belum mengerti tentang hal ini.

Kepanitiaan Kurban dan Tugasnya

Panitia kurban adalah sekelompok orang yang ditunjuk oleh organisasi tertentu, baik organisasi di bawah naungan pemerintah maupun swasta seperti ta’mir masjid, mushalla dan lain-lain. Kepanitiaan ini diberi amanah oleh orang-orang yang berkurban (mudlahhi) untuk menyembelih hewan kurban mereka dan membagikan dagingnya sesuai dengan aturan dalam hukum Islam.

Dari definisi ini maka dipastikan bahwa panitia kurban posisinya adalah sebagai wakil. Akad seperti ini dalam fikih disebut wakalah (perwakilan). Wakalah dalam terminologi fikih adalah seseorang mewakilkan kepada orang lain suatu pekerjaan yang bisa ia kerjakan sendiri serta bisa dikerjakan oleh orang lain dan orang yang mewakilkan masih hidup.

Tugas utama panitia kurban adalah menyembelih dan membagikan daging hewan kurban kepada orang-orang yang berhak sesuai dengan pernyataan mudlahhi (orang yang berkurban). Amanah ini tidak boleh dilanggar oleh panitia kurban.

Dalam konteks ibadah kurban, akad perwakilan mencakup empat hal; pembelian hewan kurban, niat berkurban, penyembelihan dan pembagian daging kurban. Keempat hal tersebut bisa diwakilkan kepada panitia kurban.

Baca Juga:  Sempurnakan Ramadan dengan Puasa Sunnah Syawal

Mewakilkan untuk membeli hewan kurban kepada panitia bisa dengan cara bertemu langsung, telpon, chat, surat dan lain-lain. Kesepakatan harga bisa mengikuti harga pasar atau kesepakatan mudlahhi dengan panitia. Teknis penyerahan uang bisa dengan beragam cara. Diberikan langsung atau dengan jasa bank dan lain-lain.

Dalam mewakilkan niat mudlahhi harus menjelaskan kriteria kurbannya; wajib atau sunnah. Hal ini untuk mempermudah panitia menjalankan amanahnya. Karena niat merupakan rukun kurban yang tidak boleh ditinggalkan. Kecuali kurban nadzar, ia tidak butuh niat.

Tentang perwakilan penyembelihan disyaratkan dilakukan oleh anggota panitia yang mengerti aturan dan tata cara penyembelihan. Kalau anggota kepanitiaan tidak ada yang mengerti aturan penyembelihan, maka harus mencari orang lain untuk menyembelih.

Sementara untuk pembagian daging, panitia harus menjelaskan kepada mudlahhi yang berkurban sunnah bahwa dirinya berhak memakan sebagian daging kurban sebagai tabarukan (memperoleh barokah). Sehingga apabila mudlahhi tidak mengambilnya atas kesadaran sendiri panitia tidak bersalah. Daging bisa dibagikan kepada orang lain yang berhak.

Demikian tugas kepanitiaan kurban sesuai dengan aturan hukum fikih. Panitia kurban hanya sebagai wakil orang yang berkurban. Karenanya, harus amanah dan mengerti aturan-aturan tentang kurban. Alangkah baiknya orang yang berkurban turut hadir menyaksikan penyembelihan dan pembagian daging kurban.

Referensi:

Hasyiyah al Bajuri, II, 311

Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, VIII, 419

Asnal Mathalib Syarh Raudlah al Thalib, I, 537-538

Busyra al Karim Bi Syarh Masail al Ta’lim, 702

Hasyiyah I’anatu al Thalibin, II, 380

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

samsudin jadab

Tinggalkan Perdukunan Menuju Kewarasan Beragama

Kasus Samsudin Jadab. Inilah fenomena perdukunan bertopeng agama. Agama dieksploitasi demi kepentingan “menipu kewarasan” berpikir …

tafsir surat al-ahzab

Tafsir Surat Al Ahzab Ayat 59: Perintah Memakai Jilbab Sebagai Penanda Identitas Muslimah

Allah berfirman, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang yang mukmin, “Hendaklah …