janda menggoda MUI
janda menggoda MUI

Ketika Janda “Menggoda” MUI

Janda masih memiliki stigma negatif di Indonesia. Selain harus berjuang ekonomi secara mandiri, ia harus bertarung melawan stigma “gampangan” dan “menggoda” yang kerap dilekatkan dalam setiap gerak geriknya. Studi yang dilakukan oleh Monika Winarnita, Nicholas Herriman, dan Petra Mahy, yang dimuat Magdalene.co, pada 13 Januari 2020 menegaskan stereotip janda yang masih lekat di tengah masyarakat.

Memang budaya kita masih tertanam dalam pembedaan yang cukup tajam antara laki-laki dan perempuan dalam hal penghargaan. Janda dan duda pun menjadi berbeda. Duda bisa saja terlihat lebih terhormat, daripada status janda yang harus disembunyikan karena bisa menjadi aib di tengah masyarakat. Janda yang berarti ditinggal menjadi sangat lemah, tak berdaya bahkan stereotif penggoda suami orang dengan memanfaatkan status jandanya.

Tak heran, jika MUI merasa terganggu dengan status janda selebritis Ayu Ting Ting. Tingkah lakunya dianggap menggoda yang seolah menikmati status jandanya. Begitu lah kira-kira kabar yang beredar. Bahkan beredar kabar MUI meminta KPI untuk menghentikan acara Tv yang dibintangi sang biduan tersebut. Seberbahaya itukah seorang janda? Apakah janda cukup menggoda sehingga MUI harus turun tangan?

Menjadi pertanyaan besar apakah selebritis lain yang menikmati dan mengeksploitasi status perawan, janda, kecantikannya, dan kehidupan glamournya juga tidak menjadi masalah? Apakah memang status janda menjadi cukup persoalan serius yang menggoda MUI untuk harus memberikan larangan?

MUI Melanggengkan Stigma Janda?

Rasanya agak berlebihan jika MUI harus turun tangan memberikan sertifikasi moral janda seperti itu. Justru MUI bisa melanggengkan stigma negatif yang membebani para janda di Indonesia yang tengah berjuang hidup secara mandiri dan berjuang melawan stigma-stigma negatif.

Elvi Hudhriyah, Wakil Sekretaris Infokom MUI membeberkan alasannya bahwa “Ayu Ting Ting sepertinya menikmati, maaf, status jandanya. Ia seringkali mengatakan, ‘badan gue nih gadis apa janda? Lu bisa lihat sendiri.’ Jadi, status jandanya itu seperti dinikmati.” Cara menikmati dan mengeksploitasi status jandanya menjadi persoalan sendiri bagi MUI karena memberikan pelajaran tidak baik kepada masyarakat.

Baca Juga:  Ternyata, Ada Bid’ah yang Dianjurkan

Melihat alasan itu, rasanya Saya teringat dengan lirik lagu Mansur S yang jika memadankan alasan MUI tentu sangat melanggar. “Kau masih gadis atau sudah janda, Baik katakan saja jangan malu, Memangnya mengapa aku harus malu?
Abang tentu dapat ‘tuk membedakannya”. Lirik ini seolah juga ingin menampilkan status janda dengan istilah : Abang tentu dapat ‘tuk membedakannya. Terasa menggoda! Lagu ini masih sangat legend dan masih terdengar sampai hari ini.

Persepsi dan image janda sebagai gampangan dan penggoda memang harus dilawan. Tentu saja tokoh agama berperan penting untuk mendudukkan posisi janda yang sebenarnya. Bukan diberikan image negatif, tetapi harus memberikan keleluasaan agar para janda berjuang untuk menghidupi diri setelah sebelumnya hidup bersama.

Alasan inilah sebenarnya Rasulullah memberikan perhatian kepada janda. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan salat di malam hari.” (HR. Bukhari no. 5353 dan Muslim no. 2982).

Menghidupi bukan sekedar memberikan makan yang terlihat janda menjadi pasif dan lemah. Menghidupi termasuk memberikan peluang sekaligus melawan stigma negatif kepada para janda agar bisa bergaul di tengah komunitas layaknya perempuan lainnya.

Bagikan Artikel ini:

About Farhah Salihah

Avatar of Farhah Salihah

Check Also

lakum dinukum wa liyadin

Lakum Dinukum Wa liyadin Dalil Bersikap Ekslusif?

Menarik sekali kritik salah satu pejabat teras MUI, Amirsyah Tambunan ketika mengomentari salah satu poin …

maulid nabi

Memperingati Maulid Nabi Salah Satu Bekal Terbaik Menjemput Akhirat

“Seseorang bersama yang ia cintai dan engkau bersama orang yang kau cintai,” (HR at-Tirmidzi No.2307). …