Ketika Sayyidina Ali Diuji tentang Keutamaan Ilmu dan Harta

0
315
sumber foto: nulampung.or.id

Telah banyak keterangan dalam Al- Qur’an maupun hadits yang membicarakan keutamaan ilmu bagi orang yang memilikinya mulai dari ditinggikan derajat, dimuliakan, diberi ganjaran yang besar, dimudahkan jalannya menuju surga, dan lain sebagainya. Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang paling berharga dan luhur nilainya di hadapan Allah meskipun dibandingkan dengan harta.

Ada sebuah kisah menarik yang terjadi kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang berisikan tentang keutamaan ilmu dibandingkan harta. Berdasarkan keterangan yang terdapat dalam kitab mawaaidul ‘usfuriyyah, bahwa Rasulullah Saw bersabda :

انا مدينة العلم و عالي بابها” “ artinya : “Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah gerbangnya.

Mendengar sabda Rasalullah SAW yang demikian, ada sekelompok orang yang merasa iri kepada Sayyidina Ali yang disebut Rasul sebagai orang yang memiliki ilmu tinggi, bahkan disebut gerbang. Sekelompok orang tersebut berupaya untuk menguji kedalaman ilmu Sayyidina Ali sehingga mereka berunding untuk selanjutnya menemui Sayyidina Ali dan mengujinya.

Dari rundingan tersebut, terpilihlah sepuluh orang yang akan mewakili kelompok itu dalam upayanya menjatuhkan Sayyidina Ali dengan cara mengujinya. Sepuluh orang tersebut mengantongi sebuah pertanyaan untuk dilayangkan kepada Sayyidina Ali. Pertanyaan mereka yaitu “di antara ilmu dan harta manakah yang lebih utama dan apa dalilnya ?”

Kesepuluh orang tersebut akhirnya menemui Sayyidina Ali. Dalam waktu yang berbeda mereka berjumpa denganya, masing-masing dari mereka melayangkan pertanyaanya dan Sayyidina Ali menjawab dengan lugas bahwa “ Ilmu lebih utama dari pada harta” disertai dalil logis dan berbeda-beda pula untuk setiap orangnya.

Kepada orang yang pertama Sayyidina ali mengemukakan dalilnya yg menyebutkan “ Ilmu adalah warisan para Nabi sedangakan harta adalah warisan Qorun, Syadad dan Fir’aun”. Kepada orang kedua Sayyidina Ali memberi dalil bahwa “Ilmu akan menjaga manusia sementara harta manusia yang menjaganya”.

Baca Juga:  Pertanyaan yang Berujung Larangan

Selanjutnya kepada orang ketiga dan keempat Sayyidina Ali memberi dalil “orang berilmu itu akan memiliki banyak teman sedangkan orang kaya akan memiliki musuh yang banyak”, dan “bila ilmu digunakan maka ilmu akan senantiasa bertambah sedangkan harta jika digunakan maka akan berkurang”.

Begitupun seterusnya sampai dengan orang terakhir yang bertanya, Sayyidina Ali dengan mudahnya menjawab pertanyaan tersebut dengan dalil-dalil yang berbeda. Berikut ini pernyataan Sayyidina ali terkait utamanya ilmu dari pada harta kepada orang yang tersisa :

“Orang yang berilmu akan diagungkan dan orang yang memiliki harta akan dianggap pelit dan dicela.”

“Harta bisa dicuri sementara ilmu tidak mungkin bisa dicuri.”

“Orang yang memiliki harta akan dihisab di hari kiamat sedangkan orang yang memiliki ilmu dapat memberi syafaat.”

“Harta akan rusak seiring berjalanya waktu sementara ilmu tidak akan rusak sampai kapanpun.”

“Harta akan membuat hati menjadi keras sementara ilmu akan membuat hati menjadi bercahaya.”

“Orang yang memiliki harta akan dianggap layaknya seorang majikan karena hartanya sedangkan orang yang berilmu akan dianggap sebagai ahli ibadah.”

Itulah beberapa dalil yang bisa diambil untuk menunjukan lebih utamanya ilmu dari pada harta sekaligus betapa alim dan bijaknya Sayyidina Ali. Melihat pernyataan demikan di atas bukan berarti penulis mengajak untuk tidak berikhtiyar mencari harta dan bekerja, karena hal itu juga diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya melainkan untuk sekedar menambah wawasan dan semoga dapat menjadi pendobrak semangat mencari ilmu bagi para pembaca khusunya untuk penulis sendiri.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan