ketua umum pp muhammadiyah haedar 210516011228 220
ketua umum pp muhammadiyah haedar 210516011228 220

Ketua Umum PP Muhammadiyah: Ingatkan Jangan Terpecah Soal Palestina

JAKARTA – Penyerangan Polisi Israel di Masjid Al-Aqsa terhadap jamaah warga Palestina beberapa waktu lalu yang kemudian diikuti dengan agresi militer di wilayah Syekh Jarrah dan Gaza membuat dunia mengecam dengan keras tindakan Israel.

Di dalam negeri sendiri berbagai demonstrasi baik secara online hingga turun kejalan-jalan mengutuk serangan Israel terhadap Palestina. Namun dukungan yang diberikan kepada Palestina seringkali juga disertai dengan agenda lain yang menjadikan rentannya perpecahan sesama anak bangsa.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir menyampaikan pesan moral kepada seluruh warga Indonesia untuk tidak berpecah belah dalam merespons isu Palestina. Dia pun mewanti-wanti agar tidak simpatik terhadap Israel, khususnya para elit politik. 

“Saya hanya menyampaikan suara moral saja bahwa Ini problem kemanusiaan global sebenarnya, selain politik. Karena itu warga bangsa Indonesia jangan terpecah soal Palestina ini, termasuk bagi mereka yang lupa sejarah dengan ada simpatik pada Israel. Apalagi kalau itu menjangkiti elit,” ujar Haedar saat sambutan dalam pengajian umum PP Muhammadiyah dengan tema “Solusi komprehensif Masalah Israel-Palestina”, seperti dilansir dari laman republika.co.id Jumat (11/6) malam. 

Masyarakat mengutuk keras atas serangan yang dilakukan tentara Israel kepada rakyat Palestina beberapa hari terakhir, serta mendukung kemerdekaan bagi palestina.

Dia mengatakan, siapapun yang lupa sejarah harus membaca kembali spirit bangsa. Menurut dia, boleh saja terbawa arus suasana politik primordial, tapi jangan sampai kemudian menjadi pro Israel dan anti-Palestina.

“Karena ini adalah titik ketika kita begitu menderita panjang akibat penjajahan,” ucapnya. 

Bagi keluarga besar Muhammadiyah, menurut dia, perjalanan Palestina sebagai bangsa sudah sangat panjang. Bahkan, menurut dia, sejak abad ke-12 SM bangsa Yunani sudah mengenal bangsa Palestina, yang disebut dengan Filistin. Kemudian, pada abad ke-2 SM bangsa Romawi juga mengenal istilah Siria Palaestina.

Baca Juga:  Maroko Bergabung, Negara-Negara Negara Pengecam Publikasi Kartun Nabi Muhammad Meluas

“Bangsa ini tentu punya eksistensi yang panjang biarpun dalam perjalanan sejarahnya selalu menjadi bangsa taklukan sejak Babilonia, Yunani, Romawi sampai Arab,” kata Haedar. 

Dia mengatakan, bagi kaum Muslimin Palestina juga bukan sekadar sebuah bangsa dan jazirah, tapi ada sejarah teologis yang kental. Karena, di sana ada Masjid al Aqsa. Menurut Haedar, bagi umat Islam masjid tersebut lekat dengan kota suci bahkan diabadikan dalam surat Al-Isra’.

“Maka tidak salah kalau kaum Muslimin ada rasa keterkaitan dengan jazirah Palestina. Karena di situ ada masjid, kota suci sebenarnya. Dan punya sejarah Isra’ dan Mi’raj nabi,” jelas Haedar.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Gus Muwafiq bermain gitar dan musik

Gus Muwafiq: Musik Akan Jadi Alat Setan Bila Dipegang Orang-orang Yang Lalai

Jakarta – Pernyataan Uki Eks Noah bahwa musik itu haram berbuntut kontroversi. Raja Dangdut H. …

Khotbah Jumat

Wacana Khotbah 15 Menit, Muhammadiyah: Singkat Bukan Untuk Cegah Ngantuk, Tapi Sunah Nabi

Jakarta – Wadah Silaturrahmi Khatib Indonesia (Wasathi) mewacanakan usulan khotbah di masjid-masjid di seluruh Indonesia …