jaringan ulama pesantren
jaringan ulama pesantren

Khutbah Jumat – Pesantren Sebagai Basis Pendidikan Nilai-Nilai Agama Yang Wasathiyah, Bukan Mengajarkan Bughot

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Sidang jumat yang dirahmati Allah

Marilah bersama-sama kita memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan dan marilah bersama-sama kita terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan hanya kepada Allah Azza Wajalla. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda nabi Muhammad Saw yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh dengan rahmat yaitu Addinul Islam.

Sidang jumat yang dirahmati Allah

Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia, dahulu pesantren tidaklah diawali dengan bangunan yang megah, namun biasanya para ulama atau pengasuh pesantren mengawali dengan pengajian di Musala kecil, yang kemudian semakin hari, minggu, bulan dan tahun semakin banyaklah orang yang belajar pada ulama sehingga dibangunkanlah pondok-pondok kecil disekitar Musala atau sekitar kediaman kiai, hampir semua pondok pesantren di seluruh Indonesia mempunyai ketersambungan secara kekeluargaan maupun secara keilmuan, ambil contoh Hadrastus Syekh KH. Zainuddin Abdul Majid dari Pancor, TGH. Saleh Hambali di Desa Bengkel mempunyai sanad keilmuan yang sama dengan Hadratus Syekh KH. Hasyim As’ary, KH. Wahab Hasbullah, Syekh KH. TB Muhammad Falak TB Abbas di Pagentongan, Bogor dan semua pesantren beliau diawali dengan pengajian kecil hingga kemudian besar dan masih berlangsung pengajaran hingga hari ini. Pondok Pesantren yang lahir dari seorang kiai dan jauh sebelum kemerdekaan, pesantren tersebut bukan saja untuk mengajarkan ilmu agama namun menjadi basis perjuangan kemerdekaan Indonesia dari belenggu penjajah, bahkan beberapa diantara kiai dan bahkan semaunya mendedikasikan diri untuk perjuangan agama dan bangsa Indonesia, maka tidaklah mengherankan banyak santri atau pencari ilmu yang berdatangan ke pesantren-pesantren yang dibangun oleh para kiai yang merupakan ulama sekaligus pejuang kemerdekaan, begitu cintanya para ulama/kiai dengan bangsanya karena kiai sadar bahwa hanya dengan kemerdekaanlah masyarakat akan tenang beribadah, dakwah akan semakin lancar dan masyarakat tidak akan menjadi bodoh, maka semangat ini tercermin dalam sebuah hadist yang berbunyi :

Baca Juga:  Pandemi Covid-19 Belum Reda, Kali ini 169 Santri dan Pengasuh Pesantren di Indramayu Positif

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Artinya : “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu),

Sidang Jumat yang dirahmati Allah

Pondok Pesantren yang dibangun berdasarkan kecintaan terhadap tanah air akan melahirkan para generasi yang cinta tanah air dan membangun bangsanya dengan segala yang mereka mampu, bahkan Syekh TGH Zainuddin Abdul Majid ketika pertama kali mendirikan sekolah menamainya sekolah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) hal ini karena kecintaan beliau terhadap bangsa dan negaranya dan ingin berjuang melalui jalur pendidikan, dan ketika membaca sejarah adik kandung beliau yang bernama TGH Faisal turun ke medan pertempuran melawan penjajah dan syahid dalam upaya membela tanah air dan agama. Sejarah pesantren ini penting ketika kita akan memilihkan pondok pesantren bagi putra putri kita agar tidak salah memilih pondok pesantren. Pertanyaanya adalah apa mungkin ada pondok pesantren yang salah? jawabanya adalah bukan pondok pesantren yang salah, namun banyak diantara pemimpin pesantren di era modern ini yang tidak punya sejarah maupun sanad keilmuan secara jelas, namun tiba-tiba mendirikan pesantren, atau pemimpin pesantren yang selalu membid’ahkan amalan orang lain, mengajarkan untuk bughot (makar) terhadap negara, tidak perduli dengan sejarah perjuangan hingga ingin mendirikan pemerintahan khilafah, pesantren-pesantren seperti ini biasanya juga tidak mengajarkan atau setidaknya membidakan orang yang melakukan amalan tahlil, yasinan padahal jelas membaca amalan yang baik adalah anjuran Rasulullah dan setiap doa akan sampai kepada orang yang didoakan dalam Hadist Rasulullah bersabda :

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya: “Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga, yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR Muslim)

Sidang jumat yang dirahmati Allah

Pondok Pesantren yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas, akan mengajarkan santri akhlaqul karimah sehingga anak tidak mudah terombang ambing oleh macam-macam pergaulan yang menyesatkan, terutama dalam era media sosial seperti sekarang ini, anak-anak juga harus dikenalkan dengan jati diri bangsa Indonesia, tanah air tumpah darahnya yang wajib mereka cintai, wajib mereka jaga dan mereka bela bilamana terdapat orang-orang yang ingin memecahbelah bangsa. Tentu anak shaleh seperti ini harus diberikan pendidikan agama yang moderat, harus diberi asupan agama dari para ulama yang selalu mengajarkan Islam Rahmatan Lil’alamin. Anak yang shaleh akan menjadi generasi penerus agama dan bangsa oleh karena itulah, telah menjadi kewajiban kita sebagai orangtua untuk mengenalkan ajaran agama secara baik, mungkin dengan cara memondokkan anak ke pesantren yang di asuh oleh para ulama yang telah terkenal berjuang untuk agama dan bangsanya, karena jangan sampai kita salah masukkan anak ke pesantren yang justeru mengajarkan untuk membid’ahkan orang lain, mengkafirkan sesama muslim hingga ingin menghancurkan bangunan negara kesatuan Republik Indonesia. Akhlaq menjadi pondasi dari keseluruhan dari bangunan agar menjadi anak yang shaleh, Rasulullah bersabda :

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Berislam Secara Kaffah dan Komitmen untuk Tidak Mencaci dan Membenci

  

اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأ ُتَمِّمَا مَكَارِمَ اْلأَحْلاَ قِ

Artinya : “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah hanyalah untuk menyempurnakan Akhlaq”. (HR. Ahmad)

Sidang jumat yang dirahmati Allah

Putra-putri yang telah diamanahkan oleh Allah SWT wajib kita pelihara, kita berikan hak-haknya untuk mendapatkan pengetahuan agama secara baik karena merekalah yang nantinya akan menjadi pengganti kita semua, generasi mudalah yang akan memikul beban masa depan sehingga jika tidak diberikan pengetahuan agama yang wasathy dan akhlaq yang baik maka niscaya kita akan menunggu kehancuran. Oleh sebba itu, tiada lain jika ingin mendapatkan anak yang shaleh dan generasi yang hebat, maka marilah sedikit demi sedikit kita mencontoh Rasulullah, karena dalam diri rasulullah telah lengkap, telah paripurna baik sebagai seorang manusia terlebih seorang Rasulullah, bahkan Allah telah secara tegas kepada hambanya untuk mengikuti dan menjadikan Nabi Muhammad sebagai tauladan, sebagaimana dalam firmanya dalam surah Al Ahzab ayat 21 sebagai berikut :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzab : 21)

Ketika kita telah menjadikan Rasulullah sebagai teladan, terutama dalam membesarkan anak-anak niscaya kita akan mendapatkan anak-anak yang shaleh, dan tentunya kita juga telah benar-benar melaksanakan perintah Allah dalam surah At Tahrim sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At Tahrim : 6).

Baca Juga:  Khutbah Jumat - Peranan Akhlaq Dalam Berbangsa dan Bernegara

Sidang jumat yang dirahmati Allah

Dengan demikianlah khutbah singkat ini, marilah kita bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta bersabar atas segala ujian, dan marilah kita berbuat baik bukan saja kepada saudara sendiri, namun kepada tetangga sekitar terutama dalam masa pandmei yang mudah-mudahan segera berakhir. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diberikan usia yang diberkati Allah Subhanu wata’la. sehingga kita dapat memanfaatkan umur kita dengan sebaik-baiknya dan dapat menjalankan tuntunan Nabi Muhammad saw yang setiap harinya memohon ampun dan perlindungan Allah SWT.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمانِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Hari Kemerdekaan Agustus

Anugerah Allah SWT, Kemerdekaan Wajib Disyukuri dan Diisi dengan Kebaikan serta Kepatuhan kepada-Nya

Jakarta – Kemerdekaan adalah anugerah besar dari Allah SWT yang wajib disyukuri. Kemerdekaan juga harus …

Ngatawi Al Zastrouw

Kunci Utama Orang Terjangkit Radikalisme Karena Pemahaman Agama yang Salah

Jakarta – Kunci utama orang bisa terjangkit virus radikalisme karena pemahaman agama yang salah dan …