Kisah di Balik Surat At-Taubah yang Tidak Dimulai dengan Basmalah

0
1966
surat at-taubah

Setiap tindakan yang baik selalu diawali dengan basmalah untuk mendapatkan keberkahan dan ridha Allah. Begitu juga dalam membaca al-Qur’an. Setiap surat dalam Qur’an selalu dimulai dengan basmalah, kecuali satu surat.

Pastinya menimbulkan banyaknya pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang sering membaca al-Quran. Apa yang menyebabkan surat at-Taubah tidak diawali dengan bacaan basmalah? Untuk menjawab berbagai pikiran tentang ini, ada beberapa kisah dan riwayat yang dijadikan dasar dalam penetapan itu.

Menurut Ubay bin Ka’ab, surat at-Taubah tanpa basmalah karena ia didekatkan dengan surat Al-Anfal. Yang satu berkisah tentang orang-orang yang menepati janji dan kisah tentang perjanjian-perjanjian, sedangkan yang kedua bercerita tentang orang-orang yang melanggar janji dan peringatan terhadap para pelanggar janji.

Penjelasan pertama, dalam tradisi bangsa Arab terdahulu, jika para kaum Arab melakukan perjanjian dengan sebuah kaum lain dan hendaknya mereka memutuskan perjanjian tersebut,  mereka mengirimkan sepucuk surat pemutusan tanpa mencantumkan kalimat basmalah.

Demikianpun, ketika umat Islam memutuskan perjanjian dengan orang-orang musyrik tersebut, Rasulullah mengutus Sayyidina Ali untuk membacakan surat di atas (at-Taubah) di hadapan mereka tanpa diawali dengan bacaan basmalah, karena mengikuti adat para kaum Jahiliyah.

Penjelasan kedua, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa beliau bertanya kepada Sayyidina Ali tentang tidak dicantumkannya basmalah dalam surat at-Taubah. Sayyidina Ali menjelaskan bahwa basmalah adalah kalimat aman sementara surat at-Taubah turun sebab perang, tidak aman.

Selain itu, Imam al-Sufyan juga mengungkapkan bahwa basmalah adalah ayat rahmah, rahmah memiliki arti aman. Sedangkan surat at-Taubah turun kepada orang-orang munafik dan mengandung perang, artinya kondisi tidak aman bagi orang-orang munafik. Karenanya, antara rahmat dan kemarahan tidak bisa disatukan.

Baca Juga:  Ketika Harta Menjadi Ujian

Dalam ilmu qiraat, dasar utama dari al-Quran adalah bersumber dari Rasulullah. Sehingga bisa disimpulkan bahwa, pada jaman jahiliyah para sahabat sepakat tidak mencantumkan basmalah dalam surat at-Taubah karena didasarkan dari periwayatan yang diterima dari Rasulullah.

Begitu pula dengan Rasulullah ketika menerima ayat tersebut dari malaikat Jibrilpun tidak disertai dengan bacaan basmalah. Hal ini juga dibuktikan bahwa tidak ada satu pun ahli qurra’ sab’ah (qira’at tujuh) maupun qurra’ asyrah (qira’at sepuluh) yang meriwayatkan membaca basmalah di awal surat at-Taubah. Artinya, mereka sepakat meninggalkan membaca basmalah di awal surat at-Taubah. 

Meski dalam surat at-Taubah tidak diawali dengan basmalah, tetapi surat ini diakhiri dengan indah. Di awal surat berisi tentang pelepasan, kemudian di tengah surat tersebar berbagai kecaman, dan pada akhir surat itu ditutup dengan indah oleh sebuah ayat kebahagiaan.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”.” (At-Taubah 128-129).

Tinggalkan Balasan