arti hijrah dalam al quran
arti hijrah dalam al quran

Kisah Rasulullah Menunda Pulang ke Kampung Halaman

Kali kedua, pemerintah melarang masyarakat untuk mudik ke kampung halaman di hari lebaran. Hal itu lantaran pandemi Covid-19 belum mereda. Sudah barang tentu, kebijakan tersebut menuai pro kontra di masyarakat. Suka tidak suka, mau tidak mau, masyarakat harus menunda pulang ke kampung halaman. Tapi tahukan bahwa hal tersebut juga pernah dialami oleh Rasulullah Saw? Ya, meski rindu sangat, Rasulullah menunda pulang ke kampung halaman. Ini kisahnya.

Kerinduan Mendalam

Dalam buku Muhammad Sang Teladan, diceritakan bahwa suatu ketika, Rasulullah Saw., menatap Hasan Husein yang sedang bermain di hadapannya. Rasulullah Saw., memperhatikan kedua cucunya tersebut dengan penuh kesedihan. Walaupun sesekali tertawa karena tingkah lucu Hasan Husein, wajah Rasulullah Saw., tetap menyimpan guratan-guratan keresahan.

Kesedihan Rasulullah Saw., ditangkap oleh putrinya, Fatimah. Fatimah lalu bertanya kepada Rasulullah Saw., perihal masalah apa yang membuatnya berduka. Rasulullah Saw., hanya diam dan meneteskan air mata. Rasulullah Saw., menangis.

Melihat hal itu, Fatimah lalu membiarkan Rasulullah Saw., bersama dua putranya. Ia juga memberikan isyarat kepada suaminya, Ali agar meninggalkan Rasulullah Saw., seorang diri.

Beberapa saat kemudian, Rasulullah Saw., menghampiri Fatimah dan Ali. Rasulullah Saw., bertanya kepada keduanya, “Tidakkah kalian ingat, bahwa saat ini, kita menghadapi bulan Dzulqa’dah? Bukankah musim haji telah datang?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Fatimah menarik nafas panjang. Akhirnya ia tahu, apa yang menyebabkan Rasulullah Saw., berduka. Ayah yang sangat dicintainya tersebut, rindu kampung halamannya. Sudah enam tahun lamanya, sejak hijrah ke Madinah, tak sekalipun Rasulullah Saw., menginjakkan kaki di Kota Suci Makkah. Wajar jika Rasulullah Saw., merasakan kerinduan yang mendalam.

Memutuskan “Mudik”      

Setelah berembug dengan para sahabat, Rasulullah Saw., bertekad bulat “mudik” ke Kota Makkah. Sekaligus melaksanakan ibadah haji. Pada hari Senin, 1 Dzulqa’dah tahun ke-6 hijriyah, Rasulullah Saw., berangkat dari Madinah menuju Kota Makkah. Bersamanya ada 1400 orang muslim, terdiri dari kaum muhajirin dan kaum ansar. Mereka juga membawa binatang kurban.

Baca Juga:  Dzul Khuwaishirah dan Prediksi Nabi tentang Kaum Pencela

Syekh Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah menyebutkan bahwa ketika sampai di Dzul Halifah, binatang-binatang tersebut diikat lehernya. Sebuah pertanda bahwa mereka berniat kurban setelah melaksanakan umrah. Mereka juga mengenakan pakaian ihram sebagai bukti bahwa niat mereka dari awal adalah beribadah.

Kabar Rasulullah Saw., dan kaum muslimin yang sedang menuju Makkah dan beristirahat di Hudaibiyah sampai juga kepada kaum kafir Quraisy. Dengan tekat bulat, kaum Kafir Quraisy berniat mencegah Rasulullah Saw., dan kaum muslimin memasuki Kota Makkah. Mereka bersiap perang jika Rasulullah Saw., tetap memaksa masuk.

Rasulullah Saw., yang mendengar kabar permusuhan tersebut, menyampaikan dengan tegas bahwa kedatangannya ke Makkah hanya untuk melaksanakan ibadah haji, bukan untuk berperang. Akan tetapi, jika orang-orang Quraisy memaksa untuk berperang, ia akan melawan hingga Allah Swt., memberika kemenangan atau mati. Demikian sikap Rasulullah Saw., menghadapi ancaman kaum Quraisy.

Kembali ke Madinah

Situasi di Hudaibiyah semakin memanas. Sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menceritakan bahwa kaum kafir Quraisy mengutus 40-50 pemuda untuk mengitari perkemahan Rasulullah Saw. Mereka berniat buruk dengan melukai salah satu sahabat Rasulullah Saw., Beruntung, mereka dapat diringkus.

Berkat kasih sayang Rasulullah Saw., mereka dibebaskan dan diijinkan kembali ke kaum mereka. Hal itu juga menegaskan kembali bahwa kedatangannya ke Makkah bukan untuk berperang.

Usai peristiwa tersebut, kaum Quraisy semakin khawatir. Mereka akhirnya mengutus Suhail bin Amr untuk mengajukan perjanjian damai kepada Rasulullah Saw. Perundingan damai yang berlangsung di Hudaibiyah tersebut berlangsung cukup lama. Suhail yang diutus oleh kaum Quraisy cukup ngotot memaksakan beberapa poin.

Akhirnya, setelah menghabiskan waktu lama, disepakatilah beberapa poin perjanjian. Perjanjian tersebut dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah.

Baca Juga:  Nabi tidak Suka Memaksakan Perjodohan

Salah satu poin dalam kesepakatan tersebut adalah Rasulullah Saw., dan seluruh rombongan harus kembali pulang ke Madinah. Mereka tidak diijinkan masuk ke Makkah tahun ini. Mereka baru diijinkan mengunjungi Makkah pada tahun depannya. Dengan syarat hanya tinggal tiga hari di Makkah dan tidak dibenarkan membawa senjata kecuali pedang yang tersarung.

Selain itu, ada beberapa poin lain dalam Perjanjian Hudaibiyah yang dirasa kaum muslimin sangat merugikan. Akan tetapi, Rasulullah Saw., menerimanya dengan lapang dada. Pasca perjanjian tersebut, turunlah ayat yang menguatkan iman Rasulullah dan menyenangkan orang-orang muslim.

Ayat tersebut berbunyi, “sungguh, kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (Qs. Al-Fath [48]: 1).

Para mufasir menyebutkan bahwa ayat tersebut menunjukkan bahwa perjanjian Hudaibiyah sebagai kemenangan yang nyata. Selain itu, sebagian besar sejarawan sirah nabawiyah mengungkap bahwa Perjanjian Hudaibiyah adalah kemenangan sejati umat Islam, meskipun beberapa poin dalam perjanjian tersebut dianggap sebagai kelemahan dan kekalahan bagi Islam.

Demikianlah, usai disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah Saw., kembali ke Madinah. Ia dan umat Islam rela menahan kerinduan lebih lama lagi. Mereka rela menunda pulang ke kampung halamannya, Makkah al-Mukarromah.

Dan sejarah kemudian mencatat, bahwa keputusan tersebut adalah keputusan terbaik. Karena dua tahun kemudian, yakni tahun 8 H, umat Islam bukan hanya mengunjungi Makkah, tapi juga membebaskannya dari kekuasaan kaum Quraisy. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan Fathu Makkah. Barakah.

Bagikan Artikel ini:

About Nur Rokhim

Avatar of Nur Rokhim
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY

Check Also

musa dan firaun

Kisah Nabi Musa dan Firaun: Adab Mengkritik Seorang Penguasa yang Sangat Dzalim

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya …

makkah

Ketika Masjidil Haram Ditutup karena Wabah Melanda

Presiden Jokowi telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai tanggal 3-20 Juli mendatang. …