Dir Pencegahan BNPT Brigjen Ahmad Nurwakhid
Dir Pencegahan BNPT Brigjen Ahmad Nurwakhid

Komponen Pentahelix Harus Militan Lawan Infiltrasi Paham Radikal Terorisme

Jakarta – Strategi  Pentahelix dalam penanggulang radikalisme dan terorisme yang melibatkan multipihak, harus maksimal dalam memberikan penguatan ideologi kepada keluarga, jamaah, dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Peranan dan keterlibatan semua pihak akan membuat pencegahan radikalisme dan terorisme akan semakin masif dalam mewujudkan Indonesia yang damai, aman, religius, dan menjunjung tinggi toleransi.

Itu bukan menjadi hal yang sulit dicapai jika para pemuda bangsa dan stakeholder yang ada memiliki militansi dalam menjaga bangsa, sebagaimana para founding fathers telah memperjuangkan dan mengorbankan diri untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Terlebih dewasa ini bangsa ini sedang dihadapkan pada permasalahan infiltrasi kelompok radikal dan terorisme.

Hal tersebut dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT),  Brigjen Pol R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM,  dalam webinar “Waspada Bahaya Infiltrasi Paham Radikal Di Masyarakat” yang diselenggarakan oleh Komunitas Agama Cinta di Jakarta, Minggu (28/3/2022).

“Semua pihak harus bisa menggelorakan dan meresonansi serta militan melawan sebaran hoax, konten hate speech, adu domba. Ini common enemy, sehingga kami mencanangkan strategi pentahelix yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Nurwakhid.

Ia melanjutkan, masyarakat tidak hanya dituntut untuk militan dalam melawan sebaran hoax, propaganda dan narasi kelompok radikal saja. Namun lebih dari itu, ia juga mengharapkan masyarakat menjadi militan dalam penyebarluasan narasi cinta tanah air, toleransi, akhlakul karimah serta persatuan.

“Karena kelompok radikal ini suka menyebarkan narasi hoax, fitnah, hate speech, adu domba dsb. Adu domba anak bangsa ini kalau dibiarkan akan menjadi konflik seperti negeri konflik di luar sana. Karena sejatinya ini gerakan politik dengan memanipulasi, mendistorsi agama untuk kepentingan politik, kekuasaan maupun lainnya yang ingin mengganti ideologi negara Pancasila,” paparnya..

Baca Juga:  “Pesantren Tangguh Semeru Covid-19” Persiapan Pesantren Sambut New Normal

Hal ini menurutnya, terkait dengan salah satu strategi kelompok tersebut upaya memecah belah bangsa. Kemudian strategi kedua, mereka mengaburkan, menghilangkan dan menyesatkan sejarah bangsa agar masyarakat kehilangan jati diri serta kehilangan kebanggan atas tanah airnya sendiri.

“Ketiga, kelompok ini berupaya untuk menghancurkan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia ini, mereka nyinyir dan mengkafirkan budaya. Tentunya kalau moderat, pasti akan tetap menghormati kebudayaan itu,” ungkap mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri ini.

Dalam kesempatannya, Direktur Pencegahan BNPT juga kembali menegaskan masyarakat untuk waspada terhadap infiltrasi kelompok radikal yang saat ini sudah pandai bersiasat menyembunyikan diri untuk mengamankan visi misinya.

“Karena radikalisme terorisme mengatasnamakan Islam dalam konteks di Indonesia khususnya, sejatinya adalah gerakan politik yang memanipulasi agama untuk mengambil kekuasaan dan ingin mengganti ideologi negara dan ideologi atau sistem negara.  Sebenarnya endingnya, output atau visi misinya sama,” ujar mantan Kapolres Jembrana ini.

Untuk itu, alumni Akpol tahun 1989 ini pun mengimbau kepada para seluruh masyarakat untuk tidak memberikan ‘panggung’ serta berhenti mengikuti ustad atau tokoh yang menyebarkan paham radikal dan intoleran baik di lingkungan sosial maupun media sosial.

“Kita harus menggelorakan dan mengingatkan para umat dan masyarakat untuk tidak memfollow. Kalau sudah terlanjur follow maka unfollow! tinggalkan oknum-oknum yang memenuhi kriteria pencermaah yang intoleran, jangan beri panggung” tegas Nurwakhid.

Terakhir, ia menegaskan kepada seluruh lapisan masyarakat khusunya generasi muda untuk membangun kesadaran dan bersatu menjaga ideologi Pancasila yang merupakan amanah dari para Founding Fathers bangsa ini yang mana rumusan Pancasila itu sendiri digali dari nilai luhur agama dan budaya nusantara, sehingga mampu menepersatukan heterogenutas dan pluralitas.

Baca Juga:  Kawanan Burung ‘Tawaf’ Diatas Ka’bah, Pakar Telematika: Itu Nyata

“Kita harus bersatu menjaga ideologi kita Pancasila yang merupakan amanah dari para founding fathers kita, yang terbukti mampu memperstaukan bangsa kita yang sangat plural, majemuk, serta mampu memoderasi ideologi yang mencoba dipaksakan untuk diterapkan di Indonesia,” tandasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

muslim houston amerika serikat rayakan idul fitri dengan menggelar festival

Komunitas Muslim Houston bagikan Makan Gratis Tunawisma

JAKARTA – Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, rahmat yang bukan saja untuk umat Islam namun …

ilustrasi logo nahdlatul ulama

Konbes NU 2022 Lahirkan 19 Peraturan untuk Perkuat Landasan Jam’iyah Optimalisasi Khidmah

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) 2022 …