KH Muammar Bakry
KH Muammar Bakry

Menguatkan Kebijakan Pentahelix Ditengah Kontroversi Agama dan Budaya

Makassar – Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan narasi yang mengkontradiksikan antara agama dan budaya. Hal ini membuktikan radikalisme dan terorisme bukan sekedar aksi, tatkala paham ini telah menginfiltrasi ke seluruh lapisan masyarakat tak terkecuali di berbagai lini vital kehidupan bangsa. Konsep Pentahelix dinilai efektif untuk meredam dan menghilangkan radikalisme di Indonesia.

Imam Besar Masjid Al Markas Al Islami Makassar, Sulawesi Selatan, Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M.Ag. mengutarakan pandangannya terkait ricuh perdebatan kontradiksi antara agama dan budaya. Ia berpendapat kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang pantas dipertentangkan.

“Seharusnya kalau kita memahami esensi dari agama, maka antara budaya dan agama tidak pantas untuk dipertentangkan,” ujar  KH. Muammar Bakry   di Makassar, Jumat (25/2/2022).

Ia melanjutkan, bahwasanya agama Islam sendiri khusunya telah menganjurkan dan memerintahkan kepada umat untuk senantiasa menjaga nilai-nilai baik yang hidup ditengah masyarakat, dalam hal ini adat istiadat yang tumbuh ditengah masayarakat.

“Sehingga apapun budaya dan nilai yang tidak bertentangan dengan nilai agama maka tidak perlu dipertentangkan,” tegasnya.

Pasalnya, dewasa ini pola infiltrasi kelompok radikal kian massif hingga telah menyentuh berbagai lini kehidupan, mulai dari pemerintahan hingga Lembaga Pendidikan yang mana kerap kali berusaha untuk menghilangkan nilai budaya dan kearifan lokal bangsa ini.

“Ini dikarenakan, ideologi radikalisme menyerang pikiran, sel saraf manusia yang menghasilkan pemikiran yang membenarkan aksi-aksi kearah manipulasi agama, dan infiltrasi tersebut menjadi bagian dari upaya maksimal mereka, jihad,” terang Muammar.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menilai perlu adanya pelibatan banyak komponen untuk mengahalau laju infiltrasi kelompok radikal. Salah satunya melalui penguatan kebijakan Pentahelix yang dicanangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Baca Juga:  Habib Kribo: Melawan Radikalisme Tak Boleh Basa-Basi, Harus Keras Juga

“Saya kira semua komponen harus terlibat, semua lini dari semua lapisan masyarakat harus terlibat. Dan kebijakan Pentahelix yang digagas BNPTini bisa mempersempit ruang bagi pemikiran radikal ini agar tidak  tumbuh subur ditengah masayarakat,” ujarnya.

Dirinya menilai, dalam penguatan kebijakan Pentahelix sekiranya juga perlu diperkuat juga dengan menumbuhkan semangat dan nilai-nilai kepada seluruh jajaran komponen dan stakeholder terkait.

“Pertama, perlu ditanamkan keilmuan yang mumpuni, sehingga pemahaman itu bisa maksimal untuk nantinya disampaikan oleh stakeholder kepada masyarakat. Harus memiliki kemampuan yang baik tentang literasi agama,” terangnya.

Kedua, menumbukan kesadaran bahwa masyarakat Indonesia ini adalah satu yaitu sebagai bangsa Indonesia dengan segala keragaman dan kebhinekaan yang dipersatukan dengan Pancasila dan UUD 1945 serta kebudayaaan yang khas.

“Kita punya ideologi Pancasila, hidup dalam kebhinekaan, kita punya UUD 1945 dan budaya yang khas. Inilah yang harus dipahamkan dan diperkuat oleh kita semuanya,” tegas pria yang mengajar ilmu Fiqih di UIN Alauddin Makassar ini.

Disamping itu, pria yang juga Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) ini juga menekankan pentingnya penanaman moderasi beragama demi memperkuat  ketahanan bangsa dari ideologi transnasional yang mengancam.

“Kalau pemahaman moderasi beragama kuat dan ditopang dengan nilai kebangsaan dan budaya ya tentu semakin kuatlah kita sebagai orang Indonesia,” ujar Muammar yang juga menjabat Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) provinsi Sulsel ini.

Sebagai akademisi dan pemuka agama, Muammar setidaknya meyebutkan dua contoh peran yang dapat dilakukan oleh sesama rekan akademisi dan juga pemuka agama untuk ikut memperkuat kebijakan Pentahelix ini.

“Berdakwah dengan baik, secara formal maupun nonformal. Menulis artikel di medsos, ini juga perlu masif. Karena jangan sampai ruang media sosial ini diisi oleh mereka yang tidak bertanggung jawab,” tuturnya.

Baca Juga:  Samakan Persepsi Toleransi Untuk Hindari Ujaran Kebencian, Bukan Sekadar Kebebasan Berpendapat

Dalam kesempatan tersebut Muammar juga menjelaskan mengenai program FKPT Sulsel yang kini secara masif terus melaksanakan penguatan kearifan lokal dalam rangka pencegahan dan penanggulangan terorisme di daerah.

“Kami di FKPT Sulsel terus berupaya melakukan penguatan kearifan lokal dengan terus bersinergi bersama masyarakat dan itu tidak boleh putus,” jelasnya.

Terakhir, ia juga menyampaikan pesannya kepada seluruh lapisan masyakat untuk terus meningkatkan kesadaran kebangsaan.

“Kita harus solid sebagai orang Indonesia yang beragama. Karena apapun agama kita, kita harus saling menghormati dan kembali lagi bahwa kita ini orang Indonesia,” ujarnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

muslim houston amerika serikat rayakan idul fitri dengan menggelar festival

Komunitas Muslim Houston bagikan Makan Gratis Tunawisma

JAKARTA – Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, rahmat yang bukan saja untuk umat Islam namun …

ilustrasi logo nahdlatul ulama

Konbes NU 2022 Lahirkan 19 Peraturan untuk Perkuat Landasan Jam’iyah Optimalisasi Khidmah

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) 2022 …