de aef bcec dfccad
de aef bcec dfccad

KPAI Temui Siswi SMAN 1 Korban Pemaksaan Jilbab, Alami Pukulan Psikologis

Jakarta – Kasus pemaksaan mengenakan jilbab di SMAN Banguntapan, Yogyakarta kini ditangani oleh Komisi Perlindungan Anak (KPAI) dan Kementerian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek). Selain pendampingan terhadap siswi yang menjadi korban, KPAI juga sedang mendalami lebih jauh dampak dari kasus tersebut.

telah menemui pihak korban dan pihak sekolah tempat terjadinya dugaan pemaksaan jilbab terhadap salah satu siswi. KPAI telah melakukan pemeriksaan psikologi terhadap korban.

“Secara singkat dapat kami sampaikan bahwa hasil psikologis pada lapis pertama sudah menunjukkan bahwa korban mengalami pukulan psikologis akibat peristiwa tanggal 18, 20, 25, dan 26 Juli yang dialaminya di sekolah,” kata komisioner KPAI Retno Listyarti dalam keterangan persnya, seperti dilansir dari laman detik.com Kamis (4/8/2022).

Komisioner KPAI Retno bersama Kepala Inspektorat Jenderal Kemendikbud-Ristek Chatarina Girsang telah melakukan kunjungan dalam rangka pengawasan kasus ini. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dugaan pemaksaan jilbab terjadi di SMAN 1 Banguntapan, Bantul.

KPAI bertemu dengan ayah dan ibu korban serta LSM Sapu Lidi yang mendampingi korban sejak 26 Juli. Dari penjelasan ayah korban dan LSM Sapu Lidi, diketahui bahwa korban sempat mengunci diri di dalam kamarnya selama beberapa hari sampai akhirnya korban bisa dibujuk untuk keluar dari kamar.

Untuk hasil asesmen psikologi secara keseluruhan, KPAI tidak bisa menyampaikannya secara keseluruhan ke publik lantaran ada kode etik yang mengaturnya. Namun, yang jelas, ada gejala trauma psikologis akibat peristiwa dugaan pemaksaan jilbab.

Untuk hasil kunjungan ke sekolahan, KPAI dan pihak Kemendikbud-Ristek mendapatkan keterangan dari kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

“Pada intinya, guru BK dan wali kelas memang mengakui ada peristiwa memasangkan jilbab pada anak korban di dalam ruang BK, namun dalihnya hanya sebagai tutorial,” kata Retno.

Baca Juga:  Muslimah Inggris Ciptakan Jilbab Khusus untuk Para Pekerja Konstruksi Wanita

KPAI meninjau sekolah dan mencatat para peserta didik perempuan menggunakan jilbab semua, baik di dalam maupun di luar kelas.

“Menurut keterangan kepala sekolah, memang siswi muslim di sekolah tersebut berjilbab meskipun tidak aturan sekolah wajib menggunakan jilbab,” ungkap Retno.

KPAI juga melihat adanya panduan seragam dilengkapi gambar. Panduan ini beredar di WhatsApp. Ketentuan seragam bagi perempuan adalah mengenakan kemeja panjang, rok/celana panjang, serta jilbab. Pihak sekolah mengakui itu adalah dokumen rilisannya untuk peserta didik.

“Ketentuan seragam dan diperkuat dengan gambar, di sekolah anak korban tidak sesuai dengan ketentuan dari Permendikbud No 45 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam bagi peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan menengah,” kata Retno.

Sebelumnya, siswi kelas X di SMAN 1 Banguntapan, Bantul, DIY mengaku dipaksa berhijab oleh guru BK hingga berujung pindah sekolah. Akibatnya, siswi itu disebut depresi.

Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY dan Disdikpora DIY turun tangan. Pihak sekolah telah dimintai klarifikasi. Kepala SMAN 1 Banguntapan menepis tudingan pemaksaan pemakaian hijab. Sementara itu, ORI DIY menjadwalkan meminta keterangan kepada guru BK SMAN 1 Banguntapan pada Rabu (3/8).

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

kisah nabi adam

Begini Kisah Wafatnya Nabi Adam dan Permintaan Terakhirnya

Jakarta – Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Nabi Adam …

Paham radikalisme pernah menyaru dengan pariwisata pantai di Garut selatan Salah satunya di Desa Mekarwangi Cibalong Yuk lihat keseharian warga Cibalong Pradita Utamadetikcom

Thogutkan Pancasila, Masuk Surga Cukup Bayar Rp 25 Ribu

Garut – Penyebaran paham radikal sudah seperti virus Covid- 19, menyebar dan menyusup ke berbagai …