Ngatawi Al Zastrouw
Ngatawi Al Zastrouw

Kunci Utama Orang Terjangkit Radikalisme Karena Pemahaman Agama yang Salah

Jakarta – Kunci utama orang bisa terjangkit virus radikalisme karena pemahaman agama yang salah dan terlalu skriptualis memahami teks-teks agama. Setelah itu baru faktor lainnya seperti kemiskinan, pendidikan dan lain-lain.

“Adanya faktor kemiskinan, ajakan, bodoh karena pendidikan yang buruk, dan lain-lain, menurut saya, kuncinya satu, yaitu kesalahpahaman dalam mamahami agama,” ujar Budayawan NU Ngatawi Al-Zastrow di Jakarta, Minggu (14/8/2022.

Pernyataan itu diucapkan Al-Zastrow dalam Diskusi Publik bertema, “Radikalisme dan Cita-cita Khilafah Perspektif Keamanan Nasional,” yang diselenggarakan Puskamnas Universitas Bhayangkara Jakarta Raya di Jakarta.

Zastrow mencontohkan gembong teroris Dr Azhari yang diduga kuat menjadi dalang dan otak sejumlah aksi teror di Indonesia. “Peracik bom Dr Azhari itu orang kaya. Dokter Azhari itu juga pinter. Tapi karena ia salah memahami agama, ia menjadi teroris,” ungkapnya.

Terkait  radikalisme, mantan Jubir Presiden KH Abdurrahman Wahid ini menyebut radikalisme harus jadi musuh bersama karena menjadi ancaman bagi bangsa. Pasalnya, radikalisme mengancam kemanusiaan, peradaban, dan tatanan sosial.

“Jadi berbahaya dan ini lintas teritori, maka ini jadi musuh bersama bagi nation state. Bukan apa-apa karena yang diancam kemanusiaan, peradaban dan tatanan sosial. Semuanya jadi rusak sehingga dia (radikalisme berbasis kekerasan) jadi alfasad atau perusak,” kata Zastrow.

Selain radikalisme, imbuh Zastrow, deradikalisasi juga harus mendapat perhatian khusus. Menurutnya deradikalisasi atau penyembuhan orang pernah terpapar radikalisme, harus diramu dengan hadirnya kebudayaan yang menyentuh hati. Pasalnya, kebudayaan bisa menghidupkan lagi pemikiran individu yang cara pandang dan berpikirnya sudah menjadi radikal.

“Kalau jalannya (deradikalisasi) lewat budaya, hatinya bisa kena. Munculnya sikap radikal karena hatinya masih keras, makanya kita hidupkan hatinya kembali hati,” tutur Zastrow.

Zastrow tidak sepaham, jika radikalisme dilawan dengan tindakan operasi militer akan bisa berjalan. Sebab, kekerasan dilawan kekerasan tidak akan menjadi solusi dari hilangnya paham radikal pada seseorang yang meyakininya.

“Kalau ditangani dengan operasi militer akan dianggap medan jihad dan mereka akan melegitimasi kalau kekuasaan ini togut, karena mereka tidak meyakini itu, karena itu akan mereka lawan. Kalau budaya yang disasar hatinya hidupkan itu,” tandas Zastrow.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Menkopolhukam Mahfud MD berikan kuliah umum di Universitas Ibrahimy Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah Situbondo

Waspada Radikalisme, Guru Ngaji Wajib Pegang Teguh Ajaran Agama dan Tak Terpancing Paham Radikal

Sumenep – Guru agama berperan penting dalam mencegah penyebaran radikalisme. Karena itu, guru agama atau …

amalan bulan rajab

Khutbah Jumat: Keberkahan Di Bulan Rajab

Khutbah I الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ …

escortescort