lagu ya thaybah
five vi

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya Thaybah mengandung kesyirikan. Mengapa tidak, lagu yang dipopulerkan oleh artis cilik bernama Sulis ini pernah menjadi lagu favorit umat Islam Indonesia.

Selain bernuansa islami, lagu Ya Thaybah ini juga enak didengar baik kalangan anak-anak, remaja atau pun orang tua. Ketika lagu ini dibilang mengandung unsur syirik, tentu orang akan bertanya-tanya, kenapa dan di mana letak kesyirikannya itu ?

Jika kita cermati dalam kitab-kitab Wahabi, misal dalam Majmu’ Fatawa bin Baz, ada banyak keterangan bahwa istighasah kepada selain Allah swt, baik kepada Nabi dan auliya’ adalah perbuatan syirik[1]. Ia mencontohkan istighasah ini dengan mengucapkan:

يَا رَسُوْلَ اللهِ أَوْ يَا نَبِيَ اللهِ أَوْ يَا مُحَمَّدُ أَغِثْنِيْ أَوْ أَدْرِكْنِيْ أَوْ اُنْصُرْنِيْ أَوْ اِشْفِنِيْ أَوْ اُنْصُرْ أُمَّتَكَ 

Artinya: “Wahai Rasulullah, wahai Nabiyallah, atau wahai Muhammad, tolonglah aku, sampaikanlah kepadaku, obatilah aku, atau tolonglah umatmu”

Karena berseru seperti ini dianggap sebagai minta tolong kepada selain Allah swt dengan meyakini bahwa pemberi manfaatnya adalah orang yang dipanggil itu.

Begitu juga pada “ya thaibah” yang dipahami oleh Five Vi. Lirik lagu ini mengandung berseru kepada selain Allah swt, yaitu kota Madinah, sehingga hukumnya syirik. Sebab selain Allah swt tidak ada yang bisa dimintai pertolongan. Sebagaimana dalam al Qur’an:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

 Artinya: “Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung” (QS.  Al Mu’minun: 117)

Dari pemahaman Five Vi terhadap lagu Ya Thaybah ini, maka patut kita curiga bahwa ia sudah terkonaminasi dengan ajaran Wahabi.

Baca Juga:  Hukum Bertawasul ( 3 ) : Bertawasul Melalui Benda-benda Milik Orang Shaleh

Bagaimana sebenarnya dengan lagu ya Thaybah ? Benarkah mengandung unsur syirik ?

Secara harfiyah Ya Thaybah memiliki arti wahai kota Thaybah maksudnya adalah kota Madinah. Kalimat ini digunakan untuk menyeru kepada sosok atau tempat yang dalam hal ini adalah kota Madinah. Sudah lumrah yang ketika kata Thaybah digunakan untuk menunjukkan sebuah kota yang dimaksud adalah kota Madinah. Sehingga di sini titik temu di mana Five Vi menganggap syirik terhadap lagu tersebut, karena menyeru kepada selain Allah swt, yaitu kota Madinah.

Menyeru atau meminta tolong kepada selain Allah swt tidak pasti berakibat syirik. Bukankah hal itu manusiawi, ketika seseorang membutuhkan orang lain, ia meminta tolong kepadanya. Ketika orang sakit sudah terbiasa meminta tolong kepada dokter, ketika membuat rumah sudah maklum bagi manusia meminta bantuan kepada tukang bangunan. Dan sama sekali itu tidak aneh, sehingga akan menjadi aneh jika perbuatan-perbuatan ini dihukumi perbuatan syirik.

Menyeru kepada selain Allah swt sudah biasa dilakukan umat Islam. Misal sayyidah Fatimah ra yang berseruh saat Nabi Muhammad saw wafat:

لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلاَمُ وَاكَرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ فَلَمَّا مَاتَ قَالَتْ يَا أَبَتَاهْ أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ يَا أَبَتَاهْ مَنْ جَنَّةُ الْفِرْدَوْسِ مَأْوَاهُ يَا أَبَتَاهْ إِلَى جِبْرِيلَ نَنْعَاهْ فَلَمَّا دُفِنَ قَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلاَمُ يَا أَنَسُ أَطَابَتْ أَنْفُسُكُمْ أَنْ تَحْثُوا عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم التُّرَابَ

 Artinya: “Tatkala sakit Nabi saw semakin parah hingga beliau hampir pingsan, Fatimah As. berkata; “Wahai betapa parahnya sakit ayahku! Nabi saw bersabda kepadanya; Ayahmu tidak akan sakit parah lagi setelah hari ini. Dan tatkala Nabi saw telah wafat, Fatimah berkata; ‘wahai ayahku yang telah memenuhi panggilan Rabbnya, ‘ wahai ayahku yang surga firdaus adalah tempat kembalinya, wahai ayahku yang kepada Jibril ‘As. kami memberitahukan kematiannya. Dan tatkala telah dikuburkan, Fatimah As. berkata; “Wahai Anas, apakah engkau tidak merasa canggung menaburi Rasulullah Saw. dengan tanah?.””

Hadits di atas Sayyidah Fatimah ra juga berseru kepada Nabi saw. Namun sampai sekarang, tidak ada seorang umat Islam pun yang berani mengatakan Sayyidah Fatimah ra telah musyrik karena berseru “ya abatah” (wahai ayahku).

Baca Juga:  10 Karakter yang Harus Dimiliki Pemimpin

Tentang meminta tolong kepada selain Allah swt, cukuplah dengan kisah kemarau panjang yang pernah terjadi di masa khalifah Umar bin Khattab ra, di mana ada seorang laki-laki datang ke makam Rasulullah saw dan berseru:

يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ: أَئْتِ عُمَرَ وَأَقْرِئْهُ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُ أَنَّهُمْ يُسْقَوْنَ

 Artinya: “Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu, karena mereka sungguh-sungguh akan binasa. Lalu Rasulullah saw mendatangi laki-laki tersebut dalam mimpinya dan berkata: Datanglah kepada Umar, dan sampaikan salam saya, serta kabarkan bahwa mereka akan dituruni hujan” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dari riwayat ini menurut Ibn Hajar al Atsqalani dalam kitab Fathul Barinya dan Ibn Taimiyah dalam kitab Iqtidho’ Shiratul Mustaqim: Seandainya mendatangi makam Nabi saw dan meminta tolong kepadanya adalah perbuatan syirik lalu mengapa Umar bin Khattab ra tidak mengingkarinya ? [2]. Dan beranikah anda mengatakan Umar bin Khattab ra telah musyrik karena meminta pertolongan kepada Nabi saw, dan tidak meminta pertolongan kepada Allah swt. ?

Jadi, berseru kepada selain Allah swt atau meminta tolong kepadanya tidak pasti menyebabkan kepada syirik selama orang tersebut masih meyakini bahwa yang memberi manfaat dan mudhorot adalah Allah swt. Begitu juga dengan lagu tersebut, selama yang menyanyikannya tidak meyakini selain Allah swt yang memberikan kebaikan, maka tidak ada alasan mengatakannya musyrik.

Wallahu a’lam

[1] Bin Baz, Majmu’ Fatawa Ibn Baz, Juz 28, Hal 315

[2] Ibn Hajar al Atsqalani, Fath al Bari, Juz 2, Hal 495

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aswaja

Mengenal Aliran Mujassimah (1) : Siapakah Yang Dimaksud Mujassimah ?

Istilah Mujassimah sebenarnya sudah lama. Bahkan ulama genarasi tiga abad yang pertama telah membahas tentang …

aswaja

Benarkah Abu Hasan Al Asy’ari Meyakini Allah Swt Berada di Arsy ?

Sudah berabad-abad lamanya, umat Islam yang sampai pada kita saat ini mayoritas bermadzhab Asya’iroh, yaitu …