khilafiyah
perbedaan

Menyoal Khilafiyah : Kenapa Dalilnya Sama, Tetapi Hukumnya Beda?

Kata Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya al Sawa’iq al Mursalah, “Terjadinya perbedaan di kalangan umat manusia itu niscaya. Sebabnya karena keragaman motif, taraf penguasaan ilmu, dan daya pikir. Karena keniscayaan, perbedaan itu tidak tercela, yang tercela adalah timbulnya kedzaliman dan kekerasan”.

Abu Abdillah Muhammad dalam kitabnya al Furu’ wa Tashhih al Furu’ mengutip perkataan Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis, “Tidaklah menggembirakanku seandainya tidak ada perbedaan pendapat di antara sahabat Nabi. Sebab, seandainya mereka tidak beda pendapat tidak akan ada yang namanya rukhsah (keringanan hukum)”. Kutipan yang sama juga termaktub dalam al Inabah al Kubro dan Faidh al Qadir.

Lalu, kenapa bisa terjadi perbedaan? Apakah dalil yang dipakai beda?

Perbedaan terjadi karena adanya keragaman manhaj, taraf penguasaan ilmu dan daya pikir. Perbedaan, terutama dalam fikih yang memang terkenal sebagai gudangnya beda pendapat, terkadang justru muncul dari satu dalil yang sama. Seringkali dari ayat dan hadis yang sama muncul hukum yang berbeda.

Khilafiyah Sudah Sejak Zaman Nabi

Hal ini terjadi sejak masa sahabat Nabi. Padahal, mereka masih bersama dan melihat apa yang dilakukan Nabi. Seharusnya kan tidak berbeda, namun faktanya berbicara demikian. Satu misal, pada waktu perang Ahzab Nabi memerintahkan para sahabat untuk tidak shalat ashar kecuali di Bani Quraidzah.

Ternyata, sebelum sampai ke Bani Quraidzah waktu shalat ashar telah tiba. Para sahabat kebingungan untuk menentukan sikap. Perintah Nabi tegas melarang shalat ashar kecuali di Bani Quraidzah, namun waktu ashar telah tiba. Apakah ikut perintah Nabi atau shalat ashar dulu meskipun belum sampai ke Bani Quraidzah.

Mereka beda memahami perintah Nabi. Sebagian shalat ashar dulu, sementara sebagian yang lain akan shalat ashar nanti di Bani Quraidzah sebagaimana teks hadis. Sementara bagi yang memilih untuk  shalat ashar pada saat itu berargumen, Nabi sebenarnya tidak melarang shalat dimanapun. Perintah Nabi tersebut supaya para sahabat berjalan agak cepat dan bisa shalat ashar di Bani Quraidzah, bukan melarang shalat ashar di tempat itu.

Baca Juga:  Cinta Tanah Air Bukan Ashabiyah

Khilafiyah Pasca Nabi

Ini contoh pertama, dalilnya sama hukumnya beda. Terjadi pada saat Nabi masih hidup. Contoh kedua terjadi pasca Nabi, tentang inkaruz zakat (pembangkang zakat). Umar bin Khattab berdasarkan ijtihadnya berpendapat mereka tidak perlu dibunuh atau diperangi. Beliau berhujjah pada hadis Nabi bahwa manusia yang telah mengikrarkan syahadat tidak boleh diperangi.

Berbeda dengan Umar, Abu Bakar berijtihad mereka harus diperangi karena telah memisahkan kewajiban zakat dengan shalat. Abu Bakar tentu juga sangat paham dalil yang dipakai oleh Umar bin Khattab. Tapi beliau berbeda dalam merumuskan hukum.

Khilafiyah di Era Imam Madzhab

Contoh ketiga, terjadi antar imam madhab soal mengusap kepala (rambut) dalam wudhu. Dalil yang dipakai sama, yakni surat al Maidah ayat 6.

Dengan dalil yang sama mereka beda pendapat soal kadar mengusap kepala. Hal ini diceritakan oleh Imam Ali al Shabuni dalam Tafsir Ahkam. Kelompok ulama madhab Maliki dan Hanbali mewajibkan mengusap seluruh kepala, ulama madhab Hanafi mewajibkan seperempat kepala dan ulama madhab Syafi’i mewajibkan sebagian kepala walaupun hanya beberapa helai rambut.

Sekali lagi, dari dalil yang sama hukumnya bisa berbeda-beda. Karenanya, kita, saat ini, yang pengetahuannya tidak sesempurna sahabat Nabi, tidak juga melampaui keilmuan para imam madhab, tentu bisa berpikir realistis bahwa perbedaan itu niscaya. Perbedaan itu indah. Yang dilarang bukan perbedaan itu, tapi kedzaliman dan kekerasan karena perbedaan tersebut.

Karena itulah, umat yang merasa paling benar di tengah persoalan khilafiyah dan bahkan merasa paling masuk surga itulah yang berbahaya. Merasa paling benar akan menyebabkan diri mudah menyalahkan orang lain bahkan menuduh yang lain sesat dalam persoalan khilafiyah.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

hidup masih susah

Sudah Rajin Ibadah Hidup Masih Susah, Tuhan Tidak Adil?

Banyak umat muslim yang merasa kehidupan yang dijalani terasa sangat sulit, padahal ia sudah bekerja …

mendidik anak cinta rasul

Maulid Nabi dan Mendidik Anak Cinta Rasul

Bagi masyarakat di kampung bulan maulid layaknya hari raya. Tidak hanya sekali diperingati tepatnya pada …