bunga bank
bunga bank

Menjadi Wasiat Pelaku Teror, Inilah Khilafiyah Ulama Soal Hukum Bunga Bank

Teror di Gereja Katedral dan Penyerangan Mabes Polri menyentak kita semua dengan pertanyaan, mengapa bisa ia melakukan hal itu? Ideologi radikal ISIS sepertinya mencoba tumbuh di Indonesia. Dan, bila sempat tumbuh semusim saja kehancuran Indonesia seperti beberapa negara Timur Tengah bukan hal mustahil.

Ada hal menarik dari para pelaku dengan meninggalkan surat wasiat. Dari dua wasiat tersebut ternyata memiliki satu pandangan keyakinan yang sama baik baik MLA pelaku di Gereja Katedral Makassar Sulawesi Selatan maupun  ZA penyerang Mabes Polri, ternyata memiliki kemiripan.

Salah satu poin kesamaan tersebut terkait transaksi perbankan. Dari surat wasiat yang ditulis MLA dan ZA kita bisa memahami bahwa doktrin yang ditanamkan oleh teroris kepada korbannya adalah kebencian kepada negara dan pemerintah Indonesia dengan dasar dan peraturannya. Salah satu poin di surat wasiat tersebut menganjurkan supaya tidak berurusan dengan Bank karena menjalankan praktek riba.

Bagaimana sebenarnya persoalan hukum transaksi perbankan? Bunga Bank bukanlah wilayah qath’i (ajaran agama yang tak boleh diotak atik), melainkan masuk pada wilayah ijtihadi. Karena masuk wilayah ijtihadi, ada ragam pendapat ulama tentang bunga Bank.

Mengacu pada Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Bandar Lampung tahun 1992, ada tiga pendapat soal bunga Bank menurut para ulama ahli fikih. Pertama, mengatakan bunga Bank sama persis dengan riba. Oleh karenanya, hukum bunga Bank haram secara mutlak. Kedua, bunga Bank hukumnya halal karena bunga Bank tidak sama dengan praktik riba. Ketiga, bunga Bank hukumnya syubhat.

Ulama yang Mengharamkan Bunga Bank

Di antara ulama yang mengharamkan bunga Bank adalah Dr. Yusuf al Qardhawi. Murid Abu Zahrah ini menulis panjang lebar dalil-dalil dan argumen keharaman bunga Bank di dalam karyanya Fawaidu al Bunuk Hiya al Riba al Muharramah.

Dr. Wahbah al Zuhaili juga mengharamkan bunga Bank. Dalam karyanya yang sangat terkenal, Al Fiqhu al Islami wa Adillatuhu, beliau dengan tegas menyatakan keharaman bunga Bank. Bahkan beliau sampai menyebutkannya sampai tiga kali. Bunga Bank haram, haram, haram.

Baca Juga:  Ketika Masuk Masjid Jangan Lupa Shalat Dua Rakaat, Begini Hukum dan Caranya

Ulama berikutnya yang mengharamkan bunga Bank adalah Abu Zahrah, Bin Baz dan Jadil Haq Ali Jadil Haq.

Ulama yang Menghalalkan Bunga Bank

Sedangkan ulama yang menghalalkan bunga bank adalah Dr. Abdul Wahab Khalaf penulis kitab ushul fikih Wahab Khalaf, Syaikh Mahmud Shaltut, Dr. Ali Jumu’ah, Dr. Ahmad Thayyib, Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi, Fahmi Huwaidi dan lain-lain.

Sebagaimana alasan di muka, bunga Bank beda dengan riba. Oleh karena itu halal. Di samping itu juga, bahasan bunga Bank masuk dalam wilayah ijtihad sehingga terjadinya khilafiyah hukumnya sangat mungkin.

Lalau bagaimana sikap seorang muslim yang baik menyikapi khilafah ini?

Sebagaimana biasa, tentu kita boleh memilih mana pendapat yang dianggap lebih baik, yang lebih membawa kepada maslahat hidup, dan yang memberikan manfaat besar kepada seluruh masyarakat.

Jika kita yakin mampu menghindar berhubungan dengan Bank, maka selayaknya memegang pendapat yang mengharamkan. Tetapi jiak keseharian kita tidak bisa lepas pisah dengan Bank, tentu mengambil pendapat yang menghalalkan jauh lebih baik.

Dan yang paling penting, pendapat manapun yang kita pedomani, tidak boleh menafikan pendapat yang lain, apalagi sampai menghakimi salah. Beda pendapat para ulama tidak untuk diperuncing menjadi saling menjelekkan atau mengkafirkan, tetapi dijadikan rahmat.

Karena persoalan khilafiyah terkadang kita membawanya menjadi persoalan qath’i. Dan bahkan takaran kadar keimanan dan keislaman seseorang. Seolah mereka yang menerima dan mempraktekkan transaksi di perbankan dianggap kurang iman dan Islamnya hingga harus bersyahadat kembali atau hijrah.

Menyikapi perbedaan hukum tidak seperti meyakini perbedaan akidah. Bahkan dalam perbedaan akidah pun juga tidak bisa saling memusuhi dan membenci. Manusia hanya kurang bisa bergaul dengan perbedaan sehingga terkadang perbedaan ijtihadiyah menjadi pintu saling serang antar satu dengan lainnya.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Sada'i

Avatar