perbedaan madzhab
perbedaan madzhab

Bagi yang Suka Memaki Perbedaan Urusan Khilafiyah, Bacalah Karya Imam Sayuthi Ini

Satu di antara sekian banyak karyanya, Al Hafidz Jalaluddin bin Abdurrahman al Sayuthi, kemudian lebih dikenal dengan sapaan Imam Sayuthi, adalah kitab bertajuk Jazil al Mawahib fi Ikhtilafi al Madzahib. Dalam kitab tersebut Imam Sayuthi mengurai secara spesifik sebab-sebab Ikhtilaf atau perbedaan yang terjadi antar madzhab.

Karya ini hendak menterjemahkan secara luas dan panjang lebar adagium “perbedaan adalah rahmat” yang sangat familiar namun sulit diterima dan diamalkan oleh sebagian kalangan. Dalam karyanya ini Imam Sayuthi seakan ingin berkata kepada kita semua, jangan suka menyalahkan orang lain, apalagi sampai memurtadkan atau bahkan mengkafirkan orang lain karena hanya perbedaan madzhab dan perbedaan pendapat.  

Bagi yang suka dan mudah membid’ahkan, memurtadkan, dan mengkafirkan saudara semuslim dalam persoalan khilafiyah disarankan membaca kitab Jazil al Mawahib fi Ikhtilafi al Madzahib ini. Kalian pasti akan memahami dan menikmati indahnya perbedaan.

Perbedaan Madzhab itu Anugerah

Di pashal pertama, beliau langsung mengingatkan dengan tegas bahwa beda pandang antara satu madzhab dengan madzhab yang lain merupakan nikmat dan anugerah besar bagi umat Islam. Ada rahasia yang sangat samar dalam perbedaan-perbedaan tersebut dan hanya orang berilmu yang bisa memahaminya.

Sebaliknya, orang-orang bodoh tidak akan mampu mengurai rahasia-rahasia itu. Sehingga, karena sebab rendahnya pengetahuan ilmu agamanya tersebut, mereka berkata, “Syariat Nabi itu satu, tidak banyak, tetapi kenapa banyak madzhab”?.

Jawaban pertanyaan ini telah disinggung oleh Imam Sayuthi dalam pengantarnya. Tulisnya, madzhab-madzhab fikih bukan untuk mengkotak-kotakkan umat Islam ke dalam firqah-firqah, para pendiri madzhab tujuannya bukan seperti ini. Madzhab-madzhab yang ada tidak lain hanya sebagai madrasah tempat belajar untuk memahami dan memperjelas makna syariat.

Baca Juga:  Mengenal Fakhruddin al Razi: Hujjatul Islam Kedua Setelah al Ghazali

Kalau kesimpulan hukumnya berbeda-beda, tak lebih karena metodologi, analisis dan media instinbat hukumnya yang tidak sama. Tapi perlu diingat, perbedaan mereka hanya pada masalah-masalah yang juziyyat, pada dalil dzanni bukan pada dalil qath’i.

Tetapi, lagi-lagi sebagian orang tidak memahami hal ini. Atau paham tapi kemudian hanyut dalam pusaran satu madzhab saja, tidak menerima dan mencemooh madzhab yang lain. Sangat fanatik terhadap madzhab yang dianutnya.

Kata Imam Sayuthi, lebih mengherankan lagi seseorang yang ngotot terhadap madzhab anutannya dan meremehkan madzhab lain. Ujungnya adalah fanatisme buta dalam bermadzhab. Padahal para ulama madzhab sendiri tidak seperti itu.

Jangan Menjadi Juhhal ( Orang Sangat Bodoh)

Lebih jauh kata Imam Sayuthi, perbedaan pendapat telah ada sejak era sahabat Nabi. Dan kita semua tahu mereka adalah generasi umat Islam terbaik. Walaupun berbeda pandang mereka tidak saling menyalahkan apalagi mencemooh. Perbedaan hal yang biasa bagi mereka senyampang memiliki argumentasi yang kuat.

Satu catatan penting seperti telah disebutkan sebelumnya, hanya orang-orang yang lemah ilmu agamanya yang tidak mampu menerima perbedaan yang ada. Imam Sayuthi menyebutnya “Juhhal” yang berarti orang-orang yang sangat bodoh.

Dengan demikian, sepatutnya umat Islam memahami hal ini. Madzhab-madzhab fikih hadir sebagai rahmat bukan laknat. Tidak perlu lagi saling menyalahkan, apalagi sampai menuduh sesat, murtad dan kafir.

Terakhir, dengan membaca ulasan Imam Sayuthi di atas, kita telah mendapat petunjuk untuk menakar pemahaman kita terhadap agama. Yang mampu menerima perbedaan berarti telah mumpuni ilmu keagamaannya sebagaimana para imam dan ulama madzhab yang legowo dengan beda pendapat diantara mereka. Dan yang tidak bisa menerima perbedaan, maka masuk kategori “Juhhal” seperti ditulis Imam Sayuthi.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

mc perempuan

Kasus MC Perempuan dan Sikap Islam Terhadap Kesetaraan Gender

Belum lama berlalu, media ramai membicarakan kasus MC perempuan di Bali yang diwajibkan melakoni pekerjaannya …

anal seks

Fikih Berbicara Anal Seks

Ramai publik membicarakan hubungan ranjang yang abnormal dan tidak semestinya. Ya, anal seks lagi hebohnya …