kitab fikih
kitab fikih

Mengenal Karya-karya Populer dalam Madzhab Imam Syafi’i

Islam adalah agama dengan riwayat. Sanad keilmuan menjadi cukup penting dalam Islam sehingga menjamin apa yang dituntun dan diajarkan oleh Nabi ratusan tahun silam mampu dilaksanakan secara tepat hingga hari ini. Praktek ibadah dari sejak era Nabi hingga para sahabat direkam dalam ingatan dengan al-Quran sebagai pedoman dan Rasulullah sebagai penjelas dan penutur teknis peribadatan.

Di sinilah sebenarnya letak penting para Imam madzhab dalam memberikan uraian yang sistematis dan terkodifikasi dalam keilmuan Islam yang disebut dengan fikih. Para imam Madzhab menjadi penyambut riwayat praktek ibadah dan keyakinan masa Nabi, Sahabat dan Tabiin yang dirangkum dalam kitab-kitab yang sangat berjasa besar tidak hanya dalam ilmu keislaman, tetapi praktek ibadah umat Islam.

Sejatinya teramat pongah jika ada umat bahkan ulama kekinian yang ingin berpaling dan mengabaikan karangan ulama terdahulu dengan alasan kembali kepada al-Quran dan sunnah. Ada persoalan mendasar yang harus diluruskan kembali dalam cara berpikir kembali kepada al-Quran dan Sunnah seraya menolak pemikira para imam madzhab.

Salah satu imam madzhab yang cukup populer adalah madzhab Imam Syafii.  Dalam catatan sejarah, kitab induk madzhab yang dianut mayoritas muslim Indonesia ini adalah al Um dan al Hujjah. Itulah dua karya Imam Syafi’i sebagai pondasi dasar madzhab fikihnya.

Setelah beliau wafat, dua kitab itu kemudian diringkas (Ikhtishar) oleh muridnya, al Muzani supaya mudah dibaca dan dikuasai oleh kalangan awam. Kitab al Muzani ini populer dengan Mukhtashar al Muzani yang secara terus menerus, dari generasi ke generasi, diringkas lagi oleh para ulama yang lain. Banyak kitab yang lahir dari karya al Muzani tersebut.

Klimaks perkembangan Madzhab Syafi’i terjadi empat abad setelah wafatnya sang pendiri. Yaitu pada masa Imam Nawawi. Laju pesat perkembangan Madzhab Syafi’i semakin membumbung tinggi. Ada ratusan karya-karya ulama ahli fikih pengikut Madzhab Syafi’i.

Baca Juga:  Keistimewaan Aisyah sebagai Istri Dunia dan Akhirat Rasulullah

Kapasitasnya sebagai fakih (ahli fikih) tak patut dipertanyakan. Semua ulama di masanya, satupun tidak ada yang meragukan kepiawannya. Imam Nawawi tidak hanya pakar fikih, namun juga ilmu pendukung yang lain seperti tafsir, ilmu hadis, ilmu ushul fikih dan lain-lain.

Sebagai pengikut Madzhab Syafi’i, Imam Nawawi banyak menyumbang karya-karya fikih yang menyokong pesatnya perkembangan madzhab Syafi’i. Hidupnya, sepenuhnya untuk kegiatan keilmuan khususnya dalam fikih. Sampai-sampai dirinya memilih untuk tidak kawin karena kecintaannya terhadap ilmu.

Yang paling populer di antara karya-karya madzhab Syafii saat itu di samping kitab Mukhtashar al Muzani, adalah dua karya Imam al Syirazi al Tanbih dan al Muhaddzab dan dua karya Imam Ghazali, al Wasith dan al Wajiz.

Berpijak pada lima kitab ini, kemudian Imam Nawawi menulis banyak sekali karya dalam bidang fikih aliran madzhab Syafi’i dan memberikan sumbangan tak terhingga terhadap perkembangan Madzhab Syafi’i hingga menapaki hampir seluruh jengkal muka bumi.

Hal ini ia sampaikan sendiri dalam karyanya Tahdzibu al Asma wa al Lughah. Bahwa ia menulis banyak kitab berdasar pada lima kitab populer di atas sebab kelimanya merupakan yang sangat populer. Kitab pegangan di setiap kota dan dipakai oleh kalangan intelektual maupun awam.

Berbarengan dengan Imam Nawawi, Imam Rafi’i juga melakukan hal yang sama. Keduanya melahirkan karya-karya yang juga masyhur. Bahkan dikemudian hari, melebihi kemasyhuran lima kitab yang disebut di atas. Yang paling populer adalah tiga karya Imam Nawawi, yaitu Minhaj al Thalibin, Raudhatu al Thalibin dan al Majmu’ Syarh al Muhaddzab dan dua kitabnya Imam Rafi’i, al Muharrar dan Fathu al ‘Aziz.

Tidak hanya berhenti sampai di sini, pasca Imam Nawawi dan Imam Rafi’i, supaya lebih mudah dipahami sebab karyanya keduanya termasuk kitab muthawwalat (tebal dan panjang lebar bahasanya), ulama-ulama kalangan madzhab Syafi’i meringkas lima kitab tersebut. Banyak sekali kitab-kitab yang lahir dari hasil Ikhtishar lima kitab tersebut. Ulama yang terkenal dan produktif menulis pasca Imam Nawawi dan Imam Rafi’i diantaranya adalah Zakaria al Anshari, Ibnu Hajar al Haitami dan Imam Ramli.

Baca Juga:  Mengapa Nabi Harus Hijrah? Inilah Pelajaran Penting di Balik Hijrah

Di antara karya-karya yang ditulis oleh para ulama pasca Imam Nawawi dan Imam Rafi’i adalah Matan al Lubab karya al Mahamili, Matan al Tanbih tulisan al Syirazi, Qurrotu al ‘Ain yang ditulis al Malibari, dan al Taqrib karya Abu Syuja’.

Yang disebut terakhir merupakan kitab paling ringkas dan mudah dipahami. Cocok bagi pemula untuk membantu memahami hukum-hukum fikih Madzhab Syafi’i. Kitab Taqrib ini kemudian disyarahi (dijelaskan) oleh Ibnu Qashim al Gahzi dengan karyanya Fathu al Qarib.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

salah kiblat

Setelah Shalat Baru Menyadari Ternyata Salah Arah Kiblat?

Titah-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram” (al Baqarah: 145) Yang dimaksud adalah menghadap …

Allah mengabulkan doa

Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya

Apakah semua doa hamba kepada Rabbnya akan dikabulkan? Kita harus yakin bahwa doa yang kita …