santri tutup telinga
santri tutup telinga

Geliat Pengharaman Musik yang Makin Menggelinjang

Tak berapa lama berselang, viral video sekelompok santri yang menutupi telinganya karena ada suara musik yang mendayu. Konon, mereka adalah para santri penghafal al Qur’an yang tidak ingin hafalan mereka terganggu oleh musik. Dengan tujuan ini, sah-sah saja mereka melakukan hal itu.

Tetapi, kalau ini bagian dari kampanye pengharaman musik yang kian waktu makin intensif maka perlu diberikan revisi pengetahuan. Bagaimanapun, halal haram musik adalah pro kontra para ulama. Bahasan yang termasuk kategori ijtihadi, ruang yang terbuka untuk perbedaan.

Kenyataannya, di dalam al Qur’an tidak nash yang secara sharih (terang benderang) menyinggung musik, halal atau haram. Wajar, kalau kemudian fatwa-fatwa ulama juga menunjukkan pendapat-pendapat yang berbeda. Sekelompok ulama membolehkan dan sebagian mengharamkan.

Untuk sekadar mengulang menyampaikan informasi perbedaan ulama tidak ada salahnya bahasan ini diangkat kembali, dengan harapan semoga mampu merevisi dogma pengharaman musik yang sekarang menjadi sangat akut dan seakan menegasikan pendapat ulama yang membolehkan.

Dalil Ulama yang Mengharamkan Musik

Berdasar kesumber primer, yakni al Qur’an, ulama yang mengatakan musik berdasar pada al Qur’an surat Luqman ayat 6. Ulama generasi awal, semisal Ibnu Abbas mengatakan bahwa tafsir ayat ini berbicara tentang nyanyian atau bernyanyi. Lebih spesifik, Imam Mujahid menyatakan, makna ayat ini berbicara tentang bermain drum. Kemudian dipertegas oleh Hasan Basri kontek ayat ini adalah bernyanyi dan bermain musik.

Sementara Ibnu Qayyim, mengacu pada ayat al Isra’ ayat 64, bahwa “Suaramu” dalam ayat ini mengacu pada segala sesuatu yang tidak patuh kepada Allah. Dari sini kemudian beliau menarik kesimpulan siapa saja yang memainkan musik dan menimbulkan bunyi-bunyian termasuk kategori suara iblis. Tegasnya, haram.

Baca Juga:  Beberapa Alasan Nabi SAW dan Sahabat Tidak Melakukan Maulid Nabi SAW

Imam Hanbali mengharamkan musik berdasar pada dua hadis yang mengharamkan pemakaian alat musik drum dan kecapi. Demikian juga Ibnu Taimiyah mengharamkan musik berdasar hadis riwayat Imam Bukhari tentang Ma’azif (alat-alat musik).

Dalil Ulama yang Menghalalkan Musik

Dalil ulama-ulama yang membolehkan musik juga berdasar pada al Qur’an dan hadis yang diapaki para ulama yang mengharamkan. Bahkan menurut Qadi Abu Bukar al Arabi tidak ada satupun hadis shahih yang mengharamkan bernyanyi (musik). Bahkan Ibnu Hazm dengan sangat berani berkata bahwa hadis yang dijadikan dalil haramnya musik adalah dibuat (maudhu’) alias palsu.

Hadis lain sebagai hujjah halalnya musik adalah hadis riwayat Aisyah yang menyatakan suatu waktu pada saat hari raya,  Abu Bakar datang ke rumah yang juga ditinggali oleh Nabi. Di rumah tersebut ada dua wanita yang sedang menyayangi, Abu Bakar marah kepada mereka berdua. Nabi lantas menegur, “Wahai Abu Bakar, masing-masing kaum memiliki hari rayanya. Dan inilah hari raya kita”.

Karenanya, siapa pun boleh mengikuti salah satu dua pendapat di atas. Bebas. Sepenuhnya tergantung masyarakat ingin berkiblat terhadap pendapat yang mana.  Klaim mereka yang mengikuti pendapat yang haram sebagai pihak yang mewakili Islam yang murni adalah klaim yang berlebihan. Atau merasa paling sunnah juga berlebihan.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

toleransi sunnah nabi

Ulama Salaf Semangat Merayakan Maulid, Generasi Kini Semangat Berdebat Hujjah Maulid

Menurut pendapat yang masyhur, Rasulullah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal, Tahun Gajah. Bertepatan …

shalat jenazah di atas kuburan

Bolehkah Shalat Jenazah di atas Kuburan?

Tema ini mungkin agak asing karena jarang terjadi seseorang shalat jenazah di atas kuburan. Namun, …