musik haram
musik haram

Uki Eks Noah: “Musik Haram”, Benarkah?

Artis hijrah, Uki eks Noah dalam video youtubenya menyarankan supaya generasi muda menghindar sejauh-jauhnya dunia musik. Profesi yang pernah membesarkan namanya dianggap wasilah (perantara) bagi banyak hal yang bisa mendatangkan mudharat. Tegasnya, musik adalah haram.

Artis hijrah merupakan fenomena yang menggembirakan karena ada upaya untuk konsisten dalam menjalankan ajaran Islam yang lebih baik. Tapi, kalau kemudian “ganyeng” dan memposisikan seolah-olah dirinya menjadi sumber kebenaran, tunggu dulu. Apalagi lantas menjadi muballigh, sabar dulu, belajar dulu, supaya tidak merusak “marwah” dan citra agama Islam.

Kenapa? Sudah terlalu banyak da’i dan muballigh karbitan dari muallaf buru-buru menjadi da’i hingga artis hijrah yang mendadak menggurui. Jangan menambah daftar hitam nama-nama yang merusak citra agama Islam karena keganyengan untuk berdakwah tanpa pengetahuan ilmu agama yang memadai.

Para artis yang istilahnya baru hijrah ini-walaupun istilah ini kurang tepat-sebaiknya menyadari dirinya tetap sebagai public figure di bidang musik. Sehingga ketika berbicara agama perlu memperbaiki mutu dan kualitas pengetahuan ilmu pengetahuan keagamaan terlebih dahulu sebelum melempar kepada publik.

Kembali pada ucapan Uki Eks Noah tentang music haram, bagaimana sebenarnya dalam pandangan Islam?

Musik Haram? Ini Pandangan Islam Sebenarnya

Perlu ditegaskan, musik masuk dalam wilayah ijtihadi. Wilayah yang dalam ushul fikih membicarakan hukum yang didasarkan pada dalil-dalil dzanni (memiliki lebih dari satu makna), bukan qath’i (hanya memiliki satu makna), baik al Qur’an maupun hadis. Karenanya, selalu ada khilafiyah atau perbedaan pendapat. Karenanya pula, ulama berbeda pendapat tentang halal dan haramnya musik.

Ulama yang mengharamkan musik berdasar pada al Qur’an surat Luqman ayat 6. “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”.

Baca Juga:  Jalaludin Rumi dan Hakikat Haramnya “Musik”

Menafsiri ayat ini, Imam al Qurthubi dalam tafsirnya menulis, makna lahw al hadits adalah al Ghinna’ yang berarti nyanyian atau senandung. Penafsiran ini antara lain dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas. Ibnu Mas’ud pernah ditanya tentang arti lahw al hadits, ia menjawab dengan bersumpah atas nama Allah sebanyak tiga kali bahwa artinya adalah musik atau nyanyian.

Ibnu Umar, Ikrimah, Maimun bin Mahran dan Makhul juga berpendapat demikian. Menurut Ibnu Mas’ud, nyanyian bisa menimbulkan sifat nifak dalam hati. Dan, menurut Mujahid keharaman musik juga berlaku bagi orang yang mendengarkannya.

Penafsiran ini dijadikan hujjah oleh sebagian ulama bahwa hukum musik haram. Menurut mereka, mengacu kepada penafsiran Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, makna ayat ini adalah, “ada sebagian orang yang menjual agamanya dengan nyanyian, senandung atau musik”. Dengan demikian menjadi jelas bahwa musik hukumnya haram. Lebih tegas Qasim bin Muhammad menyatakan bahwa musik adalah bentuk kebatilan yang mengantarkan ke neraka.

Akan tetapi, menurut Imam Bukhari, keharaman musik apabila sampai menjadikan seseorang lupa untuk beribadah kepada Allah. Hal senada disampaikan oleh Imam Ghazali bahwa haramnya musik tidak bersifat mutlak. Haram apabila dimaksudkan untuk menjual agama. Bila tidak demikian, tentu tidak. Lanjut al Ghazali, jangankan musik, membaca ayat atau menafsirkan ayat dengan tujuan menyesatkan orang lain juga haram. Jadi, pada intinya menurut al Ghazali hukum musik tergantung tujuannya.

Musik yang bisa mengantarkan pada ketenangan jiwa, berisi puji-pujian kepada Allah dan Rasulullah, musik yang berisi seruan kemanusiaan dan lain-lain tentu saja boleh, bahkan hukumnya bisa menjadi wajib. Alhasil, musik hukumnya tidak mutlak haram, juga tidak mutlak halal. Tergantung tujuannya.

Baca Juga:  Nabi Muhammad Saw melarang mantunya melakukan poligami

Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin al Ghazali menjelaskan bahwa ulama beda pendapat. Sebagian ulama menyatakan haram. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Imam Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Qadhi Abu Tayyib, Thabari, Sufyan dan lain-lain.

Sedangkan ulama yang membolehkan musik, seperti ditulis dalam kitab Kaf al Ria’ karya Abi al Abbas Ahmad bin Muhammad, di antaranya Abu Thalib al Makki. Alasannya, karena beberapa sahabat Nabi, seperti Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Zubair, Mughirah bin Syu’bah, Mu’awiyah dan sahabat-sahabat yang lain hobi mendengarkan musik.

Ditegaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Sullam al Taufik, menurut Imam Ghazali, tidak ada dalil baik al Qur’an maupun hadis yang dengan tegas mengatakan keharamannya musik. Memang ada hadis yang melarang menggunakan alat musik tertentu, seperti gitar dan seruling.

Akan tetapi menurut al Ghazali, keharaman beberapa alat musik tersebut bukan karena alat itu sendiri, melainkan karena faktor yang lain (amrun kharijiyyun). Seperti gitar dan seruling haram disebabkan oleh faktor lain. Karena waktu awal-awal Islam dua alat musik itu dimainkan di tempat-tempat maksiat.

Dua pendapat tentang hukum musik ini, dengan hujjah yang sama-sama kuat, semakin membuktikan bahwa musik masuk dalam ranah ijtihadi. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ghazali, tidak ada dalil baik al Qur’an maupun hadis yang secara sharih (tegas) mengatakan musik hukumnya haram.

Dengan demikian, apa yang disampaikan Uki eks Noah benar menurut pendapat ulama yang mengharamkan musik. Tapi jangan lupa kalau ada ulama yang mengatakan boleh. Karenanya, sangat tidak etis, dalam soal hukum yang khilafiyah hanya menampilkan satu pendapat dan menafikan pendapat yang lain.

Untuk itu, apabila hendak hijrah, hijrahlah dengan sempurna. Beralih dari suatu kondisi yang tidak baik menjadi lebih baik. Jika hendak berfatwa, pelajari atau lebih dulu bertanya kepada ahlinya. Jangan jadikan alasan hijrah untuk merasa diri lebih baik, apalagi kalau sampai menyampaikan hukum agama tanpa modal ilmu yang memadai.

Baca Juga:  Joget Tik Tok Dalam Sorotan Fikih

Biarlah mereka yang masih menekuni profesi sebagai musisi ataupun penyanyi memainkan perannya sendiri. Tak perlu mencibir mereka apalagi menghina dan menghardik.

Tulisan ini sebagai salam untuk Uki eks Noah, memberitahukan bahwa ulama berbeda pendapat tentang hukum musik. Sebagian ada yang mengharamkan, sementara sebagian yang lain membolehkan. Ketika hijrah harus benar mengenal tidak dari satu sisi, satu ustdaz, satu madzhab dan satu yang dianggap kebenaran apalagi dalam wilayah ijtihadiyah.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

bulan shafar

Menepis Anggapan Bulan Shafar sebagai Bulan Sial

Masyarakat Arab pra Islam atau masyarakat jahiliah mengenal istilah tasyaum. Suatu anggapan bahwa bulan Shafar …

pinjaman online

Pinjaman Online dalam Pandangan Fikih

Pandemi sungguh telah membuat porak poranda sistem kehidupan, tidak hanya korban jiwa, namun juga menyasar …