non-biner
non biner

Mahasiswa Mengaku Non-Biner Diusir, Bagaimana Seharusnya Islam Menyikapi?

Beberapa waktu terakhir ini, Indonesia kembali di kejutkan oleh video yang sempat viral tentang peristiwa pengusiran seorang mahasiswa baru (MABA) dari Universitas Hasanuddin (Unhas) yang mengaku gender netral atau non-biner. Ialah  M. Nabil Arif yang pengakuannya mendadak menjadi perbincangan publik, dan unggahan itupun sempat trending di berbagai linimassa.

Dalam video tersebut terlihat M. Nabil Arif sempat berselisih paham dengan seorang Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, fakultas Hukum. Video tersebut memicu perdebatan publik di kalangan masyarakat umum. Sebagian masyarakat menganggap perilaku mahasiswa tersebut tidaklah pantas dan dianggap tidak menghormati hukum di Indonesia, padahal dirinya adalah seorang maba yang masuk di fakultas Hukum. Dan sebagian masyarakat lainnya menganggap sikap dosen tersebut berlebihan dan mencerminkan sikap diskriminasi terhadap seorang mahasiswa yang jujur mengakui bahwa dirinya seorang non-biner.

Meski memang Negara memberikan jaminan terhadap kebebasan berekspresi dan bersikap, namun tentu sana kebebasan tersebut tidak boleh melawan norma hukum, norma kesusilaan, dan norma agama. Sedangkan pengakuan Nabil ini jelas menyalahi ketiga norma tersebut di atas. Di Indonesia dengan jelas hanya mengakui dua kelamin.

Lalu bagaimana Islam memandang fenomena seperti ini?Allah melalui firmannya, “Dan bahwasannya Dia-lah menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan.” (Surat an-Najm ayat 45) ayat tersebut menyebutkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan fitrahnya sebagai seorang laki-laki atau perempuan. Apabila manusia hidup tidak sesuai fitrahnya, itu sama saja dengan menolak apa yang telah di fitrahkan untuknya, serta merupakan bentuk penyimpangan dari ajaran islam.

Jelas hal ini merupakan sesuatu yang salah meskipun tindakan tersebut dibungkus dengan label Hak Azasi Manusia. Sebagai umat muslim harusnya kita menyadari, sampai batasan mana Allah memberikan hak kepada umatnya untuk memilih apa yang telah ditentukan, tapi bukan dengan menolak fitrah dan mengatasnamakan hak.

Agama Islam jelas secara terang dan tegas melarang seorang laki-laki yang menyerupai atau berpenampilan seperti wanita, pun sebaliknya, melarang seorang wanita berpenampilan layaknya laki-laki. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan secara berpasang-pasangan sehingga mampu menghasilkan keturunan, sehingga mampu menciptakan peradaban. Bayangkan saja, apabila dahulu anak dari nabi Adam adalah seseorang yang menyimpangkan gendernya, pastilah peradaban manusia tidak akan pernah ada.

Terlepas dari Hak Azasi atau bukan, fenomena non-biner ini sama sekali tidak bisa di benarkan. Indonesia memang negara yang memiliki toleransi yang tinggi, namun bukan negara yang mentolelir sebuah penyimpangan. Perlu diingat, Indonesia merupakan negara yang beragama dan tidak membenarkan adanya sebuah penyimpangan gender. Norma-norma agama masih dijunjung tinggi di Indonesia.

Namun jika ditinjau dari segi pendidikan, Nabil memang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tercantum dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya perlunya pemerintah untuk mampu membimbing orang-orang yang jelas melakukan penyimpangan dan krisis moral supaya fenomena seperti ini tidak terulang lagi, dan mempersempit tempat untuk orang-orang yang melakukan penyimpangan seperti ini sehingga mereka tidak memiliki pilihan selain mengikuti norma yang berlaku di Indonesia.

Setiap warga negara dengan orientasi gender apapun jelas mendapatkan hak yang sama. Hanya saja, perlu ada bimbingan dan pendampingan lebih lanjut agar perilaku itu bisa disembuhkan, bukan didiskriminasi apalagi dikucilkan. Merangkul orang dengan kelainan seperti itu bukan berarti membenarkan, tetapi agar mendapatkan jati diri yang kuat untuk kembali disembuhkan. Tentu saja, dalam konteks itu, hak-haknya harus tetap terpenuhi termasuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

Cheng Ho

Cheng Ho : Islamisasi Nusantara dari Perpaduan Islam dan China

Di Indonesia, sentimentasi anti China merupakan salah satu konstruksi sejarah paling kejam. Letupan besar dari …

dispensasi nikah

Dispensasi Nikah : antara Mencegah atau Mengafirmasi Pernikahan Dini?

Mengagetkan di Indramayu, terdapat ratusan anak di bawah umur kisaran usia 19 tahun mengajukan dispensasi …

escortescort