ade armando
ade armando

Ade Armando Babak Belur Saat Demo, Bagaimana seharusnya Menyampaikan Aspirasi dalam Islam

Berita mengejutkan datang dari unjukrasa 11 April 2022 di depan Gedung DPR. Aksi itu pada akhirnya dibumbui oleh cemaran anarkisme yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap pegiat media sosial dan Dosen UI, Ade Armando.

Tidak hanya persoalan kekerasan, yang justru menjadi viral dari penggeroyokan itu adalah kalimat tauhid dan klaim darah halal yang dilontarkan para pelaku terhadap Ade Armando. Mereka seolah bangga menemukan musuhnya yang dianggap halal dibunuh.

Terlepas dari kasus yang sedang diproses oleh pihak berwenang, tulisan ini lebih ingin memotret tentang demontrasi dalam Islam dan bagaimana etikanya?

Demonstrasi dalam bahasa Arab disebut dengan “Muzhaharat. Tentang hukumnya, secara eksplisit tidak ditemukan dalil yang mengharamkan dalam al Qur’an dan hadits, begitu juga dalil yang membolehkannya.

Kalau tidak ditemukan dalil sharih (tegas) tentang suatu aktivitas seperti demo, maka berlaku dua kiadah fikih untuk menentukan hukumnya.

Pertama, dalam ruang ibadah berlaku kaidah “Al Ashlu fi al Asya’ al Tahrim ma lam yadulla al Dalil ala ibahatihi”, hukum asal setiap ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang membolehkannya. Artinya, semua aktivitas ibadah harus berdasarkan pada dalil, tidak boleh dibuat-buat.

Kedua, dalam muamalah (relasi antar manusia) berlaku kaidah “Al Ashlu fi al Asya’ al Ibahah ma lam yadulla al Dalil ala Tahrimihi”, selama tidak ada dalil yang melarang hukumnya boleh.

Demonstrasi masuk dalam ranah muamalah. Oleh karena tidak ditemukan dalil yang secara eksplisit melarangnya, maka hukumnya boleh.

Akan tetapi, kebolehan disini bukan bebas tanpa batas. Hal ini seperti disampaikan oleh Dr. Abdul Qadir Audah dalam al Tasyri’ al Jina’i al Islami. Menurutnya, syariat Islam sangat mengapresiasi kebebasan berpendapat,  segala bentuk penyampaian pendapat diperbolehkan dan menjadi hak setiap individu. Tetapi ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Penyampaian aspirasi harus dengan etika, akhlak dan tidak melanggar syariat Islam.

Baca Juga:  Ade Armando Bilang Perintah Salat Lima Waktu Tidak Ada Dalam Alquran

Hani bin Abdullah bin Jubair dalam kitabnya Hurriyatu al Ra’yi wa al Dawabith al Syar’iyyah li al Ta’biri ‘Anhu menjelaskan, manusia memiliki hak menyampaikan kebenaran dan nasihat secara tegas dan terbuka, baik persoalan dunia maupun agama yang bertujuan untuk kemaslahatan kaum muslimin. Dengan catatan, harus menjaga kemaslahatan individu, masyarakat dan ketertiban umum.

Cukup jelas, demo adalah hal yang dibenarkan selama tidak merusak kemaslahatan umum. Kalau sebaliknya, demo secara anarkis, melanggar kemaslahatan individu maupun kemaslahatan umum atau melanggar undang-undang yang berlaku, hukumnya haram.

Menyampaikan amar ma’ruf, seperti menyampaikan aspirasi, tidak boleh sembarangan, ada tuntunannya dalam Islam.

Titah-Nya: “Pergilah kalian berdua menemui Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka, bicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thaha: 43-44)

Imam Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddinnya juga menjelaskan etika menyampaikan pendapat. Yakni, dengan cara menyampaikan penjelasan, memberikan koreksi dan menawarkan solusi. Semua itu harus disampaikan dengan kata-kata yang lemah lembut. Tidak boleh disampaikan dengan kata-kata kotor, keji, mencemooh, mencaci, tidak sopan, dan menghina.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

qorun

Kisah Qarun: Simbol Oligarki Finansial dalam Al Qur’an

Terlalu sederhana, hanya menceritakan Qarun sebagai pengusaha tamak sampai lupa perintah zakat. Hampir tidak ada …

haman

Haman: Kisah Politikus Rakus pada Zaman Fir’aun yang Diceritakan Al-Quran

Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair, namun hancur di tangan politikus Dr. Muhammad Iqbal Haman …