“Jika umat Islam berada di kawasan Covid-19 yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H, yang salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran aktivitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah, maka shalat Idul Fitri dilaksanakan dengan cara berjemaah di tanah lapang, masjid, mushala, atau tempat lain,” demikian bunyi kutipan salinan fatwa yang dirilis oleh MUI Nomor 28 Tahun 2020 tentang panduan kaifiat takbir dan shalat Idul Fitri saat pandemi Covid-19.

Lalu bagaimana sesungguhnya aturan syari’at berbicara soal shalat idul fitri? Apakah hukum shalat idul fitri? Bagaimana syarat-syaratnya?

Haruskah Idul Fitri Dilakukan Berjemaah atau Bisa Sendiri?

Di kalangan ulama’ fikih (fuqaha’) sepakat bahwa shalat Idul Fitri merupakan syari’at Islam. Perselisihan pendapat di kalangan mereka terjadi di seputar hukum pelaksanaannya. Imam Abu Hanifah berpandangan bahwa shalat Idul Fitri merupakan kewajiban individu (wajib ‘ain) seperti juga shalat Jum’at.

Sementara Imam Malik dan Imam Syafii berpendapat lain, menurut mereka shalat Idul Fitri hukumnya sunnah dilakukan. Sementara Imam Ahmad Ibn Hanbal berpandangan bahwa shalat Idul Fitri merupakan kewajiban sosial (fardhu Kifayah).

Selain itu, mereka juga berselisih pendapat tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi. Imam Abu Hanifah menyebutkan empat syarat yang harus dipenuhi. Pertama, dilakukan oleh orang yang bermukim. kedua, dilakukan oleh sejumlah jamaah. Ketiga, haruus ada rekomendasi pemerintah. Keempat, dilaksanakan di tengah perkotaan.

Namun syarat tersebut dibantah oleh Imam Malik dan Imam Syafii. Menurut keduanya tidak ada syarat dalam melaksanakan shalat Idul Fitri, bahkan, Shalat Idul Fitri boleh dilakukan sendirian di mana saja, termasuk boleh dilakukan di rumah saja. (Rahmah al-Ummah Fi Ikhtilaf al-Aimmah, 63).

Haruskah Ada Khutbah dalam Shalat Idul Fitri?

Kalau dilaksanakan sendirian lalu bagaimana dengan khutbahnya? Dalam pandangan al-Mawardi, khutbah yang disyari’atkan dalam Islam itu ada sepuluh. [1] khutbah Jum’ah. [2] khutbah idul fitri. [3] khutbah Idul Adha. [4] khutbah shalat gerhana matahari. [5] khutbah shalat gerhana bulan.[6] khutbah haji tanggal 7 dzul hijjah. [7]  khutbah haji tanggal 9 dzul hijjah [8] khutbah haji tanggal 10 dzul hijjah.[9] khutbah haji tanggal 12 dzul hijjah. [10] khutbah shalat istisqa’.

Dari sepuluh macam khutbah ini dibagi menjadi dua macam. Pertama, khutbah yang disampaikan sebelum shalat, yaitu khutbah jum’at dan khutbah ‘arafah tanggal 9 dzul hijjah. Kedua, khutbah yang disampaikan setelah shalat, yaitu khutbah selain khutbah jum’at dan khutbah ‘arafah. Status khutbah yang disampaikan sebelum shalat statusnya adalah wajib, sementara khutbah yang disampaikan setelah shalat statusnya adalah sunnah (Al-Hawi al-Kabir, 2/1117).

Mengacu kepada keterangan ini, melakukan shalat idul fitri sendirian walaupun tidak ada khutbah yang disampaikan maka shalat idul fitri itu tetap hukumnya sah. Disampaikannya khutbah idul fitri setelah shalat idul fitri menandakan bahwa khutbah itu bukanlah syarat sahnya shalat idul fitri. Kenapa karena al-Syarth Muqaddamun ‘ala al-Masyruth (syarat harus didahulukan dari yang disyarati).

Kalau memang khutbah itu syarat sah untuk shalat id maka tentunya harus disampaikan sebelum shalai id. Namun nyatanya tidak. Khutbah id disampaikan setelah shalat. Al-mawardi meriwayatkan hadits Ibn ‘Abbas, bahwa Rasulullah berkhutbah id setelah shalat id (Al-Hawi al-Kabir, 2/1117).

Tentu saja, dengan melihat posisi khutbah yang tidak sebagai syarat dalam shalat Idul Fitri, maka shalat di rumah sendiri dan bersama keluarga pun sejatinya tidak mensyaratkan khutbah. Shalat idul fitri tetap sah dilaksanakan.

Fatwa MUI terkait pelarangan shalat idul fitri di daerah tak terkendali covid 19 memiliki titik nadzir relevansi dengan fatwa ulama’ salaf. Maka sudah semestinya, kita mulai belajar menjadi rakyat yang tunduk pada ulil amri. Karena ketundukan kita pada ulil amri menjadi ikon ketundukan kita pada Rasulullah. Dan ketundukan kita pada rasulullah bukti nyata ketundukan kita pada Allah. (QS: al-Nisa’: 59).

Konklusinya tunduk pada ulil amri (pemerintah ataupun ulama’) sejatinya adalah tunduk pada perintah Allah. Berislam adalah menuntut trilogi ketaatan, taat pada Allah, Rasul dan ulil amri. Yuk shalat id dirumah, demi mengekang covid 19 agar tidak semakin meraja rela.

1 KOMENTAR

  1. […] orang mengatakan bahwa Idul Fitri tahun ini sangatlah berbeda dengan biasanya. Tahun ini, idul fitri dibayang-bayangi covid 19. Akibatnya, […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.