nasionalisme bencana
cinta tanah air

Ramadhan Mengajarkan Cinta Tanah Air

Ramadhan begitu cepat rasanya, sebentar lagi akan selesai. Padahal di awal sepuluh Ramadahan adalah Rahmat, tengah-tengahnya ampunan, dan di akhir sepuluh dibebaskan dari Neraka. Ya Allah… berikanlah rahmat pada kami di awal Ramadhan, dan ampunilah kami di tengah-tengahnya, dan bebaskanlah kami dari api neraka dengan amal yang akan kami lakukan di akhir-nya.

Ramadhan adalah adalah bulan perjuangan dan kemenangan. Di akhir bulan ini Allah SWT. memberikan anugerah kepada baginda Nabi Muhammad SAW. dapat kembali ke tanah kelahirannya; lalu beliau menaklukkan kota Mekkah dengan damai tanpa ada peperangan; tidak ada perlakuan kasar dan kesewenang wengan kepada kaum kafir.

Sebelum ditaklukkan kota Mekkah Allah memberikan kabar gembira dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. (Qs: Al-Fatah 1-3).

Pada tanggal dua puluh Ramadhan tentara-tentara Islam sampai di kota Mekkah untuk menaklukkan kota  agung ini, yang menjadi titik pemisah dalam kehidupan orang-orang Islam, dan kehidupan manusia secara bersamaan. Tentara-tentara Islam bergerak dari kota Madinah menuju kota Mekkah pada tanggal sepuluh Ramadhan, dan tiba pada tanggal dua puluh di tahun delapan hijriyah.

Baginda Rasulullah merasa ada bahaya yang mengancam dari arah utara dan selatan kota Madinah. Di arah utara ada sebagian kabilah-kabilah musyrik, di utara tanah khaibar ada orang Yahudi, di selatan kota mekkah ada golongan musyrik ekstrim yang mempunyai wewenang menjaga kelanggengan situasi  dan kondisi agar tidak ada perubahan; tidak keluar dari jurang kegelapan menuju cayaha islam.

Baca Juga:  Berdakwah dengan Ilmu Dangkal Pasti Intoleran

Mereka membuat kesepakatan ketat kepada Rasulullah, beliau mengetahui itu semua melalui analisa yang bagus terhadap berita-berita, dan dikuatkan wahyu  Allah SWT., bahwa peta ada di depannya, begitu juga negosiator-negosiator muslim berpendapat, bahwa peta ada di depan untuk mencapai keberhasilan perjalanannya.

Dalam negoisasai Rasulullah turun untuk melakukan Umrah di area hudaibiyah, jaraknya kira-kira satu kilo meter dari kota Mekkah, di antara dua pihak ada perdebatan, sampai Umar berkata kepada Rasulullah : wahai Rasulullah… kenapa kita menerima perjanjian dalam perjanjian? Ayo kita perangi mereka, namun Nabi dapat menenangkan hatinya Umar.

Rasulullah menerima perjanjian yang keberpihakannya aneh, seperti yang dikatakan Umar: kita menerima perjanjian dalam perjanjian, tetapi Rasullah menginginkan untuk mengurai terhimpitnya pasukan, dan memperdaya penduduk Mekkah. Maka, di saat naik ke kota, dan menyerbu tanah khoibar dapat memenangkannya, dan memecah himpitan dari sisi utara yang ke dua. Dan di saat orang Quraisy membatalkan perjanjian, maka akan turun, dan kota Mekkah berhasil ditaklukkan pada tahun delapan hijriyah.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah penaklukan kota Mekkah. Seyogyanya orang-orang Islam mengetahui cara negoisasi sehingga mendapatkan keberkahan pelajaran dari Rasulullah, merundingkan bersama, mempelajari permasalan, dan memberikan petunjuk bagaimana berinteraksi secara damai dengan sesama manusia.

Dalam penaklukan kota Mekkah ini kita dapat pelajaran yang luar biasa, bagaimana belajar makna bertetangga yang dilakukan sahabat Abbas RA., beliau adalah orang muslim yang siap-siap untuk berangkat ke Madinah untuk hijrah meninggalkan penduduk di Negara penuh dengan kemusyrikan; di tanah kelahirannya bertetangga dengan penduduk musyrik  dan berdomisili lagi dengan mereka. Lalu Rasulullah bersabda akan menjadi tetangga siapa saja yang bertetangga dengan Abbas.

Baca Juga:  Islam Agama yang Pemaaf dan Toleran

Dari penaklukan kota mekkah ini kita juga mendapat pelajaran tentang cinta tanah air; makna kecintaan manusia terhadap tanah kelahirannya, meskipun ada kezaliman , dan bahkan sampai mengeluarkannya dari rumah dan hartanya. Bahkan Rasulullah  mengungkapkan kecintaan terhadap tanah air dalam sabdanya : “Ingatlah bahwa engkau (mekkah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai, kalau seandainya pendudukmu tidak mengeluarkanku darimu, niscaya aku tidak akan keluar”.  

Ibnu Hazm berkata dalam kitab Jami’u siratihi : bahwa orang Islam yang bertetangga dengan dengan orang musyrik, maka dia adalah termasuk tetangganya, dan dilarang bagi orang-orang Islam memusuhinya, kecuali mereka mengeluarkan tetangganya”. Alangkah luar biasa, ajaran yang ditinggalkan Rasulullah dalam membangun karakter orang islam, mengajarkan bertetangga kepada alam semesta dengan mulia setelah dimuliakan, saling membantu dan bersikap lembut sesama muslim setelah berbuat lembut atau saling membantu.

Oleh karena itu Allah memberikan ketenangan kepada orang-orang beriman, tidak merasa kuatir kepada siapapun di semesta ini, dan tidak cepat-cepat mengumbar hawa nafsunya, tetapi intropeksidiri atas semua yang terjadi pada sekelilingnya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Inilah yang dapat dipelajari dari penaklukan kota Mekkah, bagaimana membangun rasa cinta tanah air, hidup bertetangga, berkepribadian seorang muslim yang cinta atas perdamaian, sehingga menjalani hidup penuh dengan ketenangan. Salah satu tokoh Nahdhatul Ulama’ yaitu KH. Wahab Chasbullah mengajak masyarakat Indonesia untuk cinta kepada tanah air dengan slogan: Cinta Tanah Air Adalah Sebagian dari Iman.

Semoga dengan mempelajari sejarah tentang kecintaan Nabi terhadap tanah air, akan menimbulkan rasa nasionalisme kita dan cinta negeri pertiwi ini. Amin.

Wallahu A’lam

Bagikan Artikel ini:

About Achmad Amiruddin Lc

Avatar of Achmad Amiruddin Lc

Check Also

shalat taubat

Jangan Putus Asa Ketika Berdosa, Berbaik Sangkalah Kepada Tuhan

Setiap insan tidak lepas dari kesalahan, kecuali para para Rasul dan Nabi yang selalu dijaga …

doa tahun baru islam

Tadabbur Makna Hijrah di Tahun Baru 1442 H; Belajar pada Sejarah dan Tidak Mendistorsi Sejarah

Memperingati Tahun Baru Islam sekaligus mengenang sejarah hijrah. Karena itu sebuah keniscayaan kita belajar terhadap sejarah dengan baik agar tidak terjadi distorsi sejarah