Cinta Tanah Air Ashabiyah
Cinta Tanah Air Ashabiyah

Cinta Tanah Air Bukan Ashabiyah

Ada satu narasi yang tak kunjung padam dilontarkan tentang nasionalisme atau cinta tanah air adalah haram. Narasi ini berasal dari ungkapan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari sikap ashabiyah.

Sebenarnya apabila dilacak dasar dari narasi yang mereka kembangkan selalu didasandarkan pada hadis Nabi bersabda, “Barang siapa mati di bawah bendera kebutaan, marah karena ashabiyah, berperang karena ashabiyah, atau mengajak kepada ashabiyah, maka seperti kematian pada masa jahiliyah”. (HR. Ahmad. Imam Muslim meriwayatkan dengan redaksi yang berbeda).

Apakah hadist ini cukup dijadikan sandaran sekaligus memahami apa itu ashabiyah dan apa itu nasionalisme atau cinta tanah air? Mari coba kita lacak lebih mendalam.

Ashabiyah adalah sikap fanatik seseorang terhadap kelompoknya sendiri, suku, dan klan. Itu pun dengan satu catatan penting dengan sikap membela secara membabi-buta, tak peduli salah ataupun benar.

Istilah ini berasal dari akar ‘ashabah yang dalam bahasa Arab artinya kerabat dari pihak bapak. Dalam Lisan al Arab Ibnu Mandzur mendefinisikannya sebagai pembelaan seseorang terhadap kaumnya yang berbuat dzalim.

Ashabiyah tidak dipungkiri lagi merupakan sikap tercela. Dalam kitab al Nihayah Ibnu Atsir mendefinisikannya dengan orang yang marah karena keluarganya dan melindungi mereka. Definisi ini sesuai penjelasan Nabi dalam salah satu hadisnya.

Dari putri Watsilah bin Asqa’ bahwaayahnya bertanya kepada Nabi tentang Ashabiyah? Nabi bersabda, “Yaitu engkau menolong kaummu berbuat dzalim”. (HR. Abu Daud).

Sampai disini bisa dipahami bahwa ashabiyah adalah sikap fanatisme buta terhadap keluarga atau kelompoknya sendiri. Sikap babi buta ini dilandasi pula dengan sikap membela golongannya yang berbuat dzalim.

Lantas apakah cinta tanah air dengan ingin merebut kemerdekaan dari kedzaliman atau mempertahankan kemerdekaan dengan semangat cinta tanah air adalah ashabiyah?

Baca Juga:  7 Faktor Penyebab Penyelewengan Sejarah Menurut Ibnu Khaldun

Fasilah, wanita asal Palestina pernah mendengar ayahnya bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Nabi, apakah termasuk ashabiyah jika ada seseorang yang cinta pada kaumnya?”. Nabi bersabda, “Bukan, ashabiyah adalah membantu kaumnya untuk berbuat dzalim”. (HR. Ahmad)

Nasionalisme atau cinta tanah air muncul dari naluri dan fitrah manusia bukan sesuatu yang haram dan tercela. Seperti Nabi yang begitu mencintai Madinah sampai-sampai beliau mempercepat laju untanya ketika tembok-tembok dinding Madinah terlihat setelah beberapa lama beliau melakukan perjalanan.

Jadi, ashabiyah yang dilarang oleh Nabi adalah ashabiyah terhadap kelompoknya sendiri dengan membabi buta sekalipun kaumnya berbuat dzalim. Dengan kata lain, yang dicela oleh agama Islam adalah ashabiyah dalam pengertian khusus. Sedangkan ashabiyah secara umum seperti eksistensi negara, cinta tanah air, bendera merah putih dan sikap teguh untuk membela kesatuan Republik Indonesia tidak terlarang sama sekali.

Justru, penolakan terhadap  eksistensi bangsa Indonesia beserta produk turunannya seperti bendera merah putih dan Pancasila, merupakan bentuk ashabiyah yang terlarang. Sebab, hal ini akan memicu sikap fanatik buta terhadap kelompoknya sendiri. Membela mati-matian walaupun untuk kedzaliman.

Membela kelompoknya sendiri sekalipun mengatasnamakan agama untuk menentang orang yang mencintai tanah airnya justru ia jatuh dalam bentuk ashabiyah sendiri. Mereka justru akan membantu kelompoknya dengan membenci suatu tatanan negara. Justru itulah adalah bentuk nyata ashabiyah yang dicela oleh Nabi dalam hadis di atas.

Bagikan Artikel

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo