Depok – Umat Islam agar tidak larut dalam dominasi gawai dan media sosial yang kian menguasai kehidupan sehari-hari. Umat juga diminta menempatkan Alquran kembali sebagai poros utama kehidupan, khususnya saat memasuki tahun baru 2026.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Cholil Nafis pada tausiyah Dzikir Nasional Republika yang digelar di Masjid At-Thohir, Depok, Rabu (31/12/2025) malam. Di hadapan ratusan jemaah, ia menyinggung realitas masyarakat Indonesia yang rata-rata menghabiskan enam hingga tujuh jam per hari di depan layar ponsel.
“Coba kita jujur pada diri sendiri. Dalam sehari, lebih sering mana yang kita buka, WhatsApp atau Alquran?” ujarnya, mengajak jemaah melakukan refleksi.
Menurut Kiai Cholil, kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan spiritual. Banyak orang justru lebih akrab dengan notifikasi media sosial dibandingkan lantunan ayat suci Alquran. Ia mengingatkan bahwa gawai dapat menjadi pintu masuk berbagai bentuk kemaksiatan apabila tidak dikendalikan dengan iman dan akhlak.
Dengan nada bercanda namun sarat makna, ia menyebut ponsel sebagai “setan gepeng” yang kerap menipu manusia secara halus.
“Dari benda kecil ini, orang bisa tergelincir. Mulai dari reuni, saling tukar nomor, lalu muncul komunikasi yang tak terjaga hingga merusak rumah tangga,” tutur Kiai Cholil menggambarkan fenomena yang sering terjadi.
Karena itu, ia menegaskan bahwa gawai seharusnya tidak dijauhi, tetapi digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Teknologi, kata dia, mestinya menjadi sarana untuk menambah ilmu, memperkuat ibadah, dan memperluas jejaring kebaikan, bukan sebaliknya menjadi sumber kelalaian.
Kiai Cholil juga menyoroti dampak ketergantungan digital yang dapat menjauhkan seseorang dari keluarga, masyarakat, bahkan dari Allah SWT. Ia mengingatkan bahaya ketika manusia lebih percaya pada arus informasi media sosial dan kecerdasan buatan dibandingkan tuntunan agama.
“Ini yang mengkhawatirkan. Kepercayaan kepada Nabi dan kekuasaan Allah bisa tergeser oleh narasi digital yang belum tentu benar,” tegasnya.
Dalam momentum pergantian tahun, ia mengajak umat Islam untuk melakukan muhasabah sebagai bentuk audit spiritual. Muhasabah, menurutnya, bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menyadari kesalahan, memperbaiki niat, dan menata langkah agar kehidupan ke depan lebih bermakna di hadapan Allah SWT.
Ia juga menilai kehadiran jemaah dalam majelis zikir pada malam pergantian tahun merupakan nikmat dan hidayah yang besar. Tidak semua orang, katanya, diberi kesempatan untuk menutup tahun dengan zikir dan doa di rumah Allah.
Kiai Cholil menjelaskan bahwa zikir memiliki dampak personal dan sosial. Bagi individu, zikir menenangkan jiwa dan menumbuhkan kestabilan emosi. Sementara bagi lingkungan sekitar, pribadi yang gemar berzikir akan memancarkan keteduhan, menjaga lisan dan perbuatan, serta membawa rasa aman bagi orang lain.
Menutup tausiyahnya, ia mengajak umat Islam menjadikan tahun 2026 sebagai momentum memperkuat iman dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi sesama.
“Kesuksesan sejati bukan hanya soal pencapaian duniawi, tetapi seberapa besar kehadiran kita memberi manfaat bagi orang lain,” pungkasnya.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah