Suaib Tahir
Suaib Tahir

Memahami 5 Fungsi Puasa di Bulan Ramadan yang Memerdekakan dan Mempersatukan

Bogor – Umat Islam di seluruh dunia saat ini tengah melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan dengan rangkaian ibadah yang mempersatukan dan memerdekan. Merdeka dari nafsu, egoisme, fanatisme, adu domba dan perpecahan. Semangat Ramadan yang memerdekan dan mempersatukan ini sejatinya hanya bisa dicapai jika umat Islam mampu memahami fungsi dan makna dibalik ibadah berpuasa tersebut.

Dosen Pasca Sarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta Dr. H. Muhammad Suaib Tahir, Lc, MA, menyebutkan setidaknya ada lima fungsi berpuasa yang perlu dipahami umat agar mampu memerdekakan diri dari dorongan-dorongan hawa nafsu yang justru dapat menimbulkan perpecahan dan merusak esensi bulan Ramadan sebagai bulan yang suci.

“Saya melihat bahwa puasa merupakan membentuk karakter seseorang. Artinya puasa ini memiliki beberapa fungsi terhadap seseorang dalam menjalankan puasa. Pertama, puasa memiliki fungsi konfirmatif,” ujar Dr. H. Muhammad Suaib Tahir, Lc,  MA, di Sentul, Bogor, Selasa (5/4/2022).

Fungsi konfirmatif, jelas Suaib, adalah dengan berpuasa, mengkonfirmasi bahwa seseorang adalah hamba Tuhan yang beriman. Dengan menyelenggarakan puasa, berarti menyatakan diri sebagai hamba yang tunduk pada perintah Allah SWT.

“Yang kedua, fungsi puasa adalah lebih bersifat kepada purifikatif, artinya membersihkan jiwa. Sehingga di bulan Ramadhan ini adalah sebuah kesempatan untuk membersihkan diri dari hal-hal dan kebiasaan buruk,” ujar pria yang juga Pengamat Timur Tengah ini.

Fungsi purifikatif, menurutnya bermakna bahwa puasa sebagai cara dan kesempatan untuk bagaimana umat dapat mengembalikan diri sebagai orang yang bersih atau orang yang fitrah dengan meninggalkan sifat-sifat yang tidak terpuji, yang tentunya harus dihindari dalam beribadah.

“Ketiga. fungsi iluminatif, yaitu untuk memperbaiki sesuatu. Sebagaimana puasa mendorong kita untuk memenuhi target, untuk berpindah dari derajat ke derajat lain dalam hal karakter dan ketaqwaan,” ungkapnya.

Baca Juga:  KSAD Jenderal Dudung Abdurrachman Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pembina Badan Koordinasi Mubalig

Fungsi keempat, lanjutnya, adalah fungsi preservatif yaitu bagaimana puasa yang konteksnya adalah ibadah serta urusan antara manusia dan Tuhannya, namun mampu juga memberikan kebermanfaatan misalnya dalam segi kesehatan.

“Puasa menjaga keadaan tubuh kita, seperti yang sering kita dengar ada seorang dokter dan para ahli ahli mengatakan bahwa berpuasa itu memberikan kesehatan. Dan terbukti banyak yang merasakan manfaat bagaimana mengatur makanan dengan baik,” ujar Suaib.

Fungsi kelima puasa yaitu transformatif, dimana berpuasa seharusnya mendorong seseorang agar dapat bertransformasi menjadi umat yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

“Dengan kita memahami fungsi-fungsi dari puasa itu. Tentunya kita akan bebas dari kungkungan hawa nafsu yang selalu akan mengarahkan kita kepada hal-hal yang negatif yang tidak bermanfaat bagi seseorang,” tutur jebolan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Suaib mengungkapkan, makna bulan Ramadan sebagai bulan yang memerdekakan adalah bagaimana seseorang mengontontrol hawa nafsu. Artinya manusia yang berpuasa dan beriman serta bertaqwa pada Allah SWT, maka dia akan terbebas dari pengaruh hawa nafsu atau dorongan dorongan hawa nafsu.

“Ketika orang-orang sudah bebas dari dorongan-dorongan hawa nafsu itu, tentunya manusia akan kembali ke naturalnya bahwa kita semua ini adalah sama, kita ini adalah satu, kita tidak boleh terpecah-pecah,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Sekertaris Jenderal Pengurus Besar Darud Da’wah Wal Irsyad (Wasekjen PB DDI) ini..

Suaib juga menyinggung polemik dan permusuhan yang kerap terjadi di bulan suci Ramadan terkait pembatasan operasional rumah makan selama bulan Ramadan. Menurutnya hal ini terjadi ketika seseorang gagal memaknai dan memahami fungsi Ramadan.

“Ketika kita tidak memahami fungsi puasa tadi, maka akan mendorong kita kepada hawa nafsu. Jadi akibatnya ibaratnya puasa ini adalah membawa musibah bagi orang lain, karena kesalahan kita di dalam memaknai puasa itu. Padahal ini hubungan dengan  Tuhan, sehingga tidak harus dihargai oleh orang lain,” jelas peraih doctoral Islamic University Khartoum, Sudan ini.

Baca Juga:  Covid- 19 Belum Selesai, Mesir Larang I'tikaf dan Iftar di Masjid Saat Ramadhan

Ia menyebut, tindakan pemaksaan penutupan operasional sejumlah rumah makan sebagai fanatisme kosong, tanpa ilmu. Hal ini menurutnya harus diredam agar tidak semakin menimbulkan perpecahan suku, ras, budaya dan khusunya agama itu sendiri ditengah pluralisme bangsa.

“Saya pikir apapun itu harus ilmu. Jadi orang yang fanatik itu harus belajar, harus membaca lebih banyak. Karena di dalam agama itu ‘agama itu adalah akal’. Artinya, tidak ada agama bagi orang yang tidak punya akal,” katanya.

Pasalnya, menurut Suaib, sering kali masalah ditengah masyarakat yang terkait dengan agama dan persatuan umat diakibatkan oleh penceramah yang menganggap dirinya memiliki ilmu agama yang mumpuni, padahal sebenarnya tidak.

“Karena orang kalau sudah punya ilmu tentunya tidak akan fanatik, enak untuk diajak berbicara. Artinya ketika dia berbicara dia akan memberikan pengetahuan bagi kita. Beda jika orang itu tidak punya ilmu, kita hanya akan membuat pertengkaran yang tidak ada gunanya,” tegasnya.

Terakhir, Kyai Suaib berpesan untuk seluruh masyarakat di bulan suci Ramadan agar bisa bersama-sama menyadari bahwa bangsa Indonesia ini sangat beragam. Di mana masyarakat diminta untuk tidak merasa diri paling benar, yang pada akhirnya justru malah merusak keindahan negeri yang beragam ini.

“Kita hidup di dalam satu komunitas yang berbeda-beda. Karena perbedaan ini adalah suatu keniscayaan. Tetapi jangan sampai perbedaan itu menjadi saling menjatuhkan dan saling menimbulkan persoalan antara yang satu dengan yang lainnya,” pungkas Direktur Eksektutif Damar Institute ini.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

KH Sholahuddin Al Aiyub

Radikalisme dan Liberalisme Distorsi Pemahaman Agama, Islam Wasathiyah Solusinya.

Jakarta – Radikalisme dan liberalism agama telah mendistorsi pemahaman agama. Karena itu, Islam wasathiyah menjadi …

maulid nabi

Khutbah Jumat – Hubbun Nabi

Khutbah I اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ …