Herry Wirawan
Herry Wirawan

PT Bandung Vonis Mati Predator Santriwati, KPAI:  Pesantren Harus Bersih dari Pelecehan Seksual

Jakarta – Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bandung menjatuhkan vonis hukuman mati kepada pemerkosa 13 santriwati, Herry Wirawan. Vonis itu lebih tinggi dari vonis Pengadilan Negeri Bandung yang menjatuhkan vonis seumur hidup.

Menanggapi vonis hukuman mati itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyambut positif putusan hakim. Revisi hukuman ini dinilai sudah tepat untuk membuat efek jera kepada orang lain. Selain itu, KPAI meminta pondok pesantren harus bersih dari pelecahan seksual.

 

“Putusan ini tentunya menjadi tonggak sejarah penting untuk Indonesia, dalam memberikan efek jera hukuman maksimal, sekaligus edukasi di masyarakat,” kata Kepala Divisi Pengawas, Monitoring, dan Evaluasi KPAI, Jasra Putra, Senin (4/4/2022).

Jasra mengatakan putusan hakim juga sangat diapresiasi para korban dan keluarganya yang telah menunggu lama putusan ini. Dia berharap putusan tersebut bisa menjadi yurisprudensi hukum untuk kasus serupa.

Menurutnya, keberpihakan yang tinggi dari majelis hakim untuk para korban sangat pantas diapresiasi. Sebab, kejahatan seksual akan dihantui trauma dan penderitaan sepanjang hidupnya, yang sangat perlu diantisipasi negara.

“Putusan tersebut juga memperbaiki putusan sebelumnya, yang awalnya restitusi dibebankan ke negara, kini dibebankan kepada pelaku, dengan merampas segala aset yang dimiliki,” ucapnya.

Menurutnya, pemberian hukuman maksimal menjadi lonceng peringatan kepada para pelaku dan yang berniat menjadi pelaku kejahatan seksual anak. Undang-undang pemberatan hukuman maksimal berada di ruang yang hidup, bahwa secara dinamis kondisi para korban menjadi perhatian majelis hakim, meski sudah ada putusan sebelumnya. Bahwa perkembangan korban sebagaimana bunyi aturan tersebut, dapat mengubah putusan di tingkat pengadilan yang lebih tinggi.

“Saya kira belakangan kasus kekerasan seksual menjadi fenomena kekerasan yang muncul beritanya bertubi-tubi di negara kita. Dan menunggu putusan-putusan yang tegas baik hukuman maksimal maupun hukuman mati,” tuturnya.

Baca Juga:  Pandemi Covid-19 Masih Tinggi, Muslim AS Salat Idul Adha Secara Drive Thru

Dia menyesalkan tindakan Herry Wirawan yang menyalahgunakan izin operasional pesantren, amanah mendidik anak untuk belajar agama, amanah para wali santri. Herry malah melakukan aksi kejahatannya bertahun-tahun.

“Sebelumnya kita ketahui, dari ungkapan bukti-bukti di persidangan, ada modus pelaku untuk mengembangkan usaha melalui hasil kejahatan luar biasanya. Yang dilakukan secara berulang-ulang kepada 12 santriwati. Tidak hanya itu, bahkan pelaku juga sudah merencanakan pengembangan usaha melalui hasil kejahatannya, dengan terlahirnya 9 bayi dari rudapaksa tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, Herry sadar betul melakukan kejahatan tersebut. Pasalnya, Herry mempunyai tanggung jawab sebagai pimpinan, tenaga pendidik, pendiri beberapa lembaga pendidikan, dan figur moral berbasis agama.

“Bahkan disayangkan kejahatan yang tidak diketahui tersebut, menempatkan pelaku menjadi Ketua Kelompok Kerja Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS), yang jejak digitalnya dapat dilihat dengan mudah di website resmi Kementerian Agama. Hal tersebut menjadi kedok pelaku dapat dengan mudah bertemu pejabat negara,” katanya. (dtk)

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

muslim houston amerika serikat rayakan idul fitri dengan menggelar festival

Komunitas Muslim Houston bagikan Makan Gratis Tunawisma

JAKARTA – Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, rahmat yang bukan saja untuk umat Islam namun …

ilustrasi logo nahdlatul ulama

Konbes NU 2022 Lahirkan 19 Peraturan untuk Perkuat Landasan Jam’iyah Optimalisasi Khidmah

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) 2022 …