pemerkosaan

Telaah Kisah Pemerkosaan di Masa Rasulullah SAW dan Bagaimana Islam Menyikapi?

Kasus perkosaan makin marak terjadi akhir-akhir ini, bahkan juga menimpa anak-anak di bawah umur. Mulai dari kasus pemerkosaan yang di lakukan oleh polisi hingga Kasus pemerkosaan yang di lakukan oleh guru pesantren terhadap 12 santriwati. Untuk melanjutkan pembahasan ini alangkah lebih baik jika belajar tentang kisah pemerkosaan yang pernah terjadi di masa Rasulullah SAW lalu langkah apa yang di ambil beliau?.

Kisah Pemerkosaan Di Masa Rasulullah SAW

Dalam hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, disebutkan bahwa pada masa Nabi SAW, ada seorang perempuan yang keluar rumah untuk melaksanakan shalat berjamaah. Namun di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu memaksanya untuk melakukan hubungan intim. Perempuan itu menolak namun sang lelaki berhasil memperkosanya, sedangkan perempuan itu hanya mampu berteriak. Setelah puas, laki-laki itu kabur dan melarikan diri.

Kemudian lewatlah seorang laki-laki lainnya di hadapannya, ia hendak menolong perempuan tersebut. Namun perempuan itu justru menyangka bahwa ialah yang telah memperkosanya. Kejadian itu terjadi di malam hari sehingga ia tak dapat mengenali sang lelaki yang memperkosanya dengan jelas. Pada saat yang bersamaan, sekelompok orang Muhajirin lewat, perempuan itu pun berkata “Orang itu telah memperlakukanku begini dan begini (memperkosaku)!” Karena dituduh, laki-laki itu pun lari.

Maka pergilah rombongan tersebut mengejar laki-laki yang disangka telah memperkosa sang perempuan dan membawanya ke hadapannya. “Apakah laki-laki ini yang telah memperkosamu?” “Benar, laki-laki inilah yang telah memperkosaku”, jawabnya.

Mereka akhirnya membawa laki-laki malang itu kepada Rasulullah SAW. Maka, ketika hukum rajam hendak dijatuhkan kepada laki-laki itu (yang dituduh), laki-laki yang telah memperkosa perempuan itu berdiri dan mengakui perbuatannya seraya berkata “Wahai Rasulullah, akulah yang telah memperkosanya”.

Maka, selamatlah laki-laki tertuduh tersebut dari hukuman rajam. Rasulullah SAW kemudian menghampiri perempuan tersebut dan bersabda “Pergilah, Allah Swt telah mengampunimu (karena ia dipaksa). Beliau lalu mengatakan ucapan yang baik kepada laki-laki yang telah dituduh. Rasulullah SAW pun berkata “Rajamlah ia (sang pelaku)”. Beliau kemudian bersabda “Dia telah bertaubat (dengan pengakuannya), sekiranya taubatnya dibagikan kepada seluruh penduduk Madinah, niscaya taubatnya akan diterima.

Baca Juga:  Praktek Ber-Islam secara Kaffah

Dalam hadis lainnya Ibnu Majah meriwayatkan:

اسْتُكْرِهَتْ امْرَأَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَدَرَأَ عَنْهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّ، وَأَقَامَهُ عَلَى الَّذِي أَصَابَهَا، وَلَمْ يُذْكَرْ أَنَّهُ جَعَلَ لَهَا مَهْرًا.

“Seorang wanita diperkosa pada masa Rasulullah SAW, kemudian hukuman hudud tidak diberlakukan padanya. Akhirnya hukuman hudud tersebut dilaksanakan pada laki-laki telah memperkosanya, tidak juga disebutkan ia memberikan mahar kepada sang perempuan (HR Ibnu Majah)”.

Berdasarkan hadis di atas, seorang laki-laki yang melakukan pemerkosaan dijatuhkan had. Sedangkan perempuan yang diperkosa (karena paksaan) tidak dijatuhkan had. Perlu diketahui pula, bahwa had tidak akan dijatuhkan kecuali jika sang pelaku mengakui perbuatannya.

Pemerkosaan merupakan tindakan yang keji. Korban bisa saja mengalami trauma seumur hidupnya. Oleh karena itu, Islam amat melindungi perempuan dan ia dibebaskan dari had. Bahkan ia justru diberikan mahar yang dibayarkan sebagai ganti rugi dan penghormatan kepada pihak perempuan.

Hukuman atau Had Pemerkosaan

Hukum pidana Islam, tidak memberikan definisi khusus tentang pemerkosaan baik dalam Alquran maupun hadits. Dalam kitab Fiqh Sunnah yang ditulis oleh Sayyid Sabiq mengklasifikasikan pemerkosaan ke dalam zina yang dipaksa. Sedangkan Pemerkosaan dalam bahasa Arab disebut dengan al wath’u (Al wath’u dalam bahasa Arab artinya bersetubuh atau berhubungan seksual. bi al ikraah (hubungan seksual dengan paksaan). Sementara pengertian paksaan secara bahasa adalah membawa orang kepada sesuatu yang tidak disukainya secara paksa.

Sedangkan menurut fuqaha adalah mengiring orang lain untuk berbuat sesuatu yang tidak disukainya dan tidak ada pilihan baginya untuk meninggalkan perbuatan tersebut. Jadi sanksi yang diberlakukan bagi pemerkosa adalah apabila seorang laki-laki memperkosa seorang perempuan, seluruh fuqaha sepakat perempuan itu tak dijatuhi hukuman zina (had az zina), baik hukuman cambuk 100 kali maupun hukuman rajam. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Quran surat al-An’am (6) ayat 145 yang berbunyi: Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepada-Ku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena Sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S Al An’aam (6):145).

Baca Juga:  Fikih Nusantara (27): Kitab Mathla' al Nurain Karya Syeikh Zakaria bin Haji Ahmad

Sedangkan bagi pelaku pemerkosa, hukum pidana Islam membagi kepada dua kelompok yakni:

Pertama, Pemerkosaan Tanpa Mengancam Dengan Senjata

Orang yang melakukan pemerkosaan semacam ini dihukum sebagaimana hukuman orang yang berzina. Jika dia sudah menikah maka hukumannya berupa dirajam, dan jika pelakunya belum menikah maka dihukum cambuk seratus kali serta diasingkan selama satu tahun. Sebagian ulama mewajibkan kepada pelaku pemerkosa untuk memberikan mahar bagi wanita korban pemerkosaan. Beberapa pendapat ulama mengenai hukuman bagi pemerkosa yakni:

Pertama, Imam Malik berpendapat yang sama dengan Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Yahya (murid Imam Malik) mendengar Imam Malik berkata bahwa, apa yang dilakukan di masyarakat mengenai seseorang memperkosa seorang wanita, baik perawan atau bukan perawan, jika ia wanita merdeka, maka pemerkosa harus membayar maskawin dengan nilai yang sama dengan seseorang seperti dia. Jika wanita tersebut budak, maka pemerkosa harus membayar nilai yang dihilangkan. Had adalah hukuman yang diterapkan kepada pemerkosa, dan tidak ada hukuman diterapkan bagi yang diperkosa. Jika pemerkosa adalah budak, maka menjadi tanggungjawab tuannya kecuali ia menyerahkanya.

Kedua, Imam Sulaiman Al Baji Al-Maliki mengatakan bahwa wanita yang diperkosa, jika dia wanita merdeka (bukan budak), berhak mendapatkan mahar yang sewajarnya dari laki-laki yang memperkosanya. Hukuman had dan mahar merupakan dua kewajiban untuk pelaku pemerkosa, hukuman had ini terkait dengan hak Allah SWT, sementara kewajiban membayar mahar terkait dengan hak makhluk. Abu Hanifah dan Ats Tsauri berpendapat bahwa pemerkosa berhak mendapatkan hukuman had, namun tidak wajib membayar mahar. Sedangkan menurut Imam Syafi’I dan Imam Hambali bahwasanya barangsiapa yang memperkosa wanita, maka ia harus membayar mahar misil.

Kedua, Pemerkosaan Dengan Menggunakan Senjata

Pelaku pemerkosaan dengan menggunakan senjata untuk mengancam, dihukum sebagaimana perampok. Sementara hukuman bagi perampok telah disebutkan dalam firman Allah dalam surat al-Maidah (5) ayat 33 yang berbunyi: Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS Al-Maidah (5): 33). Dari ayat di atas, ada empat pilihan hukuman untuk perampok yaitu:  dibunuh, disalib, dipotong kaki dan tangannya dengan bersilang misalnya di potong tangan kiri dan kaki kanan, diasingkan atau di buang.

Baca Juga:  Adab Menghadapi Pemimpin : Oposisi Yes, Caci Maki No!

Dari uraian diatas, tidak disebutkan sanksi khusus bagi pelaku pemerkosa anak, namun pada dasarnya pelaku pemerkosa anak dapat dijatuhi sanksi pidana yang serupa dengan yang disebutkan diatas, disebabkan dalam hukum pidana Islam tidak ada pembahasan khusus mengenai sanksi pidana bagi pemerkosa anak, oleh karenanya menurut hemat penulis sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap pelaku pemerkosa anak tersebut dapat berupa had, dengan syarat pelaku pemerkosaan tersebut tidak menggunakan senjata, apabila pelaku melakukan pemerkosaan dengan menggunakan senjata disertai dengan ancaman maka pelaku pemerkosaan dapat dijatuhi sanksi pidana berupa kejahatan perampokan dengan hukuman yang dipilih dari empat macam bentuk yakni dibunuh, disalib, dipotong kaki dan tangannya dengan bersilang misalnya di potong tangan kiri dan kaki kanan, diasingkan atau di buang.

Dan dari tujuan pidana menurut hukum pidana Islam bahwa sanksi yang diberikan merupakan sebuah pencegahan dengan tujuan agar menahan pembuat agar tidak mengulangi perbuatan jarimahnya atau agar ia tidak terus menerus memperbuatnya, disamping itu bertujuan pencegahan terhadap orang lain selain pembuat agar ia tidak memperbuat jarimah, sebab ia bisa mengetahui bahwa hukuman yang dikenakan terhadap orang yang memperbuat pula perbuatan yang sama, hal ini dapat dilihat dari bentuk ancaman yang lebih keras dibandingkan ancaman hukuman yang ada di dalam hukum pidana positif yaitu berupa pidana penjara.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

ulil albab

Makna dan Karakteristik Ulil Albab dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran orang-orang yang menggunakan akalnya diberi sebutan dengan gelar ulil albab (orang-orang yang …

moderasi beragama dalam al-quran

4 Prinsip Ajaran Moderasi Beragama dalam Al-Qur’an

Moderasi beragama berdasarkan definisi yang diberikan oleh kementerian agama lewat buku yang disusunnya berjudul ModerasiBeragama, …