takdir
takdir

Memahami Hubungan Takdir dan Usaha

Pertanyaan tentang hubungan antara takdir dan usaha telah menjadi salah satu problem abadi yang terus menjadi bahan perdebatan dalam filsafat dan agama. Apakah nasib seseorang ditentukan sepenuhnya oleh usaha, ataukah sepenuhnya oleh takdir?

Manusia sering dihadapkan pada dilemma, apakah kondisi hidup mereka merupakan hasil dari kurangnya usaha, sistem yang tidak adil, atau memang sudah ditakdirkan demikian? Ia menegaskan bahwa manusia memiliki kuasa untuk berusaha sebaik mungkin, namun hasil akhirnya tetap bergantung pada kehendak Tuhan. Dalam Islam, konsep ini dikenal dengan istilah sunnatullah (hukum alam) dan qadarullah (takdir Allah yang pasti).

Sunnatullah merupakan ketetapan Allah yang bersifat hukum sebab-akibat. Contohnya, seseorang yang ingin sehat harus berolahraga dan makan makanan bergizi. Hukum ini mengajarkan manusia bahwa keberhasilan tidak mungkin diraih tanpa usaha yang maksimal. Jangan nunggu takdir jika kita belum berusaha.

Di sisi lain, beliau juga mengingatkan bahwa ada kalanya hukum sunnatullah tidak berjalan sesuai ekspektasi. Misalnya, seseorang yang bekerja keras mungkin tetap mengalami kegagalan, sementara orang lain yang tampaknya tidak berusaha justru mencapai keberhasilan. Inilah yang disebut dengan qadarullah, bagian dari ketetapan ilahi yang kadang tidak sejalan dengan logika manusia.

Untuk memperjelas hubungan antara usaha dan takdir, ada kisah Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika, seorang pencuri beralasan bahwa tindakannya adalah takdir Allah. Umar membalasnya dengan memukul sang pencuri dan berkata, “Pukulan ini juga takdir.” Kisah ini mengajarkan bahwa manusia tidak seharusnya menyalahkan takdir untuk membenarkan tindakan benar atau salah. Karena pada dasarnya Tindakan yang salah yang pencuru lakukan merupakan pilihan yang diambil oleh sang pencuri.

Pentingnya menyikapi takdir dengan sikap syukur, terlepas dari apakah hal tersebut tampak baik atau buruk di mata manusia. Terdapat seorang pedagang yang kehilangan uangnya di pasar, tetapi dalam proses pencarian uang tersebut, ia bertemu dengan seseorang yang menawarkan peluang bisnis baru. Apa yang awalnya dianggap kerugian ternyata menjadi pintu rezeki yang lebih besar. Kadang, kita tidak langsung memahami hikmah di balik suatu kejadian, tetapi waktu akan menunjukkan bahwa semuanya memiliki maksud yang baik.

Seperti halnya pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia di tahun 2020, yang merupakan contoh nyata, dimana Sebagian orang menganggap pandemi sebagai bencana, tetapi sebagian lain menemukan hikmah dalam situasi tersebut, seperti waktu lebih banyak bersama keluarga atau introspeksi diri.

Nasib merupakan hasil usaha manusia yang logis, sementara takdir adalah intervensi Tuhan yang berada di luar kendali manusia. Dengan memahami perbedaan ini, seseorang dapat mengelola hidup dengan lebih bijaksana tanpa merasa putus asa.

Dalam Islam, kepercayaan terhadap takdir justru menjadi motivasi untuk terus berusaha. Dalam al-Quran di jelaskan bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” (Surat Ar-Rad; 11). Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa meskipun takdir berada di tangan Allah, usaha manusia tetap memiliki peran penting.

Manusia perlu memahami bahwa kehidupan adalah harmoni antara ikhtiar manusia dan ketetapan Ilahi. Dengan mengerahkan usaha terbaik dalam koridor sunnatullah, manusia diajak menerima takdir dengan hati yang lapang dan penuh rasa syukur, meskipun hasilnya terkadang jauh dari ekspektasi.

 

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

akhlak karimah

Ataraxia dan Akhlak Mulia: Belajar Tiga Sifat Penghuni Surga

Konsep ataraxia dalam filsafat Yunani kuno mengacu pada keadaan ketenangan jiwa yang bebas dari kecemasan …

sinar matahari

Hikmah Larangan Rasul, Duduk di Tempat yang Setengah Terkena Matahari dan Setengahnya Teduh

Salah satu ajaran Nabi Muhammad yang sering kali tampak sederhana namun mengandung kedalaman makna adalah …