Mempercayai Hari Sial adalah Bentuk Buruk Sangka Kepada Allah

Salah satu ciri perilaku dari orang yang ber-Iman adalah selalu memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Karena optimisme bagi orang beriman adalah sebuah bentuk keyakinan terhadap Allah sebagai penolong dan pelindung hamba-Nya di dalam segala aspek kehidupan.

Optimisme kepada Allah berarti memiliki keyakinan yang baik dan selalu berfikir positif akan segala hal yang terjadi. Orang yang tidak menanamkan prilaku semacam ini akan mudah dimainkan dengan dugaan atau prasangka buruk, kecemasan, ketakutan bahkan bisa sampai berujung keputus-asaan.

Perilaku pesimis dan berburuk sangka tidak dibolehkan dalam ajaran Islam bahkan Allah SWT menyuruh hambanya yang beriman untuk menjauhi prasangka-prasangka demikian seperti dalam firman-Nya pada Q.S Al-Hujurat :12 :

” يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ”

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.”

Termasuk pada prilaku berburuk sangka dan pesimis terhadap Allah adalah dengan mempercayai adanya hari-hari naas atau hari sial, semisal hari rabu di akhir bulan atau hari ketiga dan keempat pada tiap-tiap bulan. Mempercayai hal demikian jelas termasuk perilaku yang tidak mencerminkan keyakinan dan optimisme karena pikiran seseorang yang mempercayainya telah mendahului ketetapan Allah yang pada dasarnya belum diketahui.

Terdapat keterangan dalam kitab Fatawa Al-Haditsiyyah ulama berpendapat :       

“من سال عن النحس وما بعده لا يجاب الا باالاعراض عنه وتسفيه ما فعله ويبين قبحه وان ذلك من سنة اليهود لا من هدي المسلمين المتوكالين على خالقهم وبارءهم الذين لا يحسبون وعلى ربهم يتوكلون”

Artinya : “Barang siapa yang bertanya tentang hari sial dan sesudahnya maka tidak perlu dijawab, melainkan dengan berpaling, menganggap bodoh tindakanya dan menjelaskan keburukanya. Semua itu merupakan kebiasaan orang yahudi dan bukan petunjuk orang islam yang bertawakkal kepada penciptanya yang tidak pernah menggunakan perhitungan dan kepada tuhanya mereka bertawakkal.”

Baca Juga:  Memahami Makna Berkah di Balik Sahur

Dalam keterangan tersebut dijelaskan pada dasarnya yang mempunyai anggapan terhadap sebuah hari yang akan membawa kesialan bukanlah prilaku orang beriman. Sebab orang yang beriman dalam menjalani rutinitas keseharian akan menyerahkan sepenuhnya urusan kepada Allah dan tidak bermain dalam prasangka yang tidak berdasar oleh karena itu mempercayai hari sial merupakan hal yang tidak diperbolehkan.

Dalam keterangan diatas mempercayai hal demikian merupakan tindakan bodoh, itu benar karena  ketika kita mempunyai prasangka yang buruk itu akan menjadi stimulus yang bisa membuat suasana hati buruk juga, imbasnya tindakan kita dalam menjalani rutinitas akan terganggu, tidak bergairah dan produktivitas menurun.

Sebagai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasulnya dan yakin terhadap ketetapan yang telah digariskan terhadap kita, sudah sepatutnya  menghindari semua hal yang dapat mengarah kepada prasangka buruk dan mengarah pada keputus-asaan. Sikap seperti itu secara tidak langsung merupakan bentuk refresentasi dari sebuah keingkaran.

Oleh karena itu bertawakkal dan mempunyai sikap optimisme harus selalu ditanamkan dalam setiap diri. Optimisme ini bisa memupuk keyakinan dan semangat tinggi dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta dapat memberikan ketenangan dalam hati.

Dalam Q.s Al-Hasyr : 18 Allah menyeru : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Wallahu A’lam

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Moh. Rifqi

Avatar
Anggota Matan Kab. Bandung