2 7

Menag Kukuhkan 9 Kiai Majelis Masyayikh Demi Terjaganya Mutu dan Kekhasan Pesantren

Jakarta – Pondok Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan yang mengajarkan agama, naun di pesantren para santri (siswa/siswi) dididik untuk mencintai bangsa dan negaranya, hal demikian tidaklah mengherankan karena sejak zaman perjuangan Pesantren telah menjadi basis perjuangan kemerdekaan.

Denga lahirnya UU Pesantren, maka negara secara langsung telah mengakui sumbangsih pesantren yang telah turut memperjuangkan kemerdekaan dan pembangunan di Indonesia. Maka untuk terus dapat menjaga mutu serta keberhasilan dari amanah UU Pesantren, Kementeria Agama membentuk Majelis Masyayik.

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) resmi mengukuhkan Majelis Masyayikh yang terdiri dari sembilan orang kiai. Yaqut menjelaskan Majelis Masyayikh merupakan bentuk rekoginisi negara terhadap kekhasan pendidikan pesantren.

Acara pengukuhan itu digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, seperti dikutip dalam keterangan tertulis, seperti dikutip dari laamn detik.com Kamis (30/12/2021). Gus Yaqut mengatakan pembentukan Majelis Masyayikh merupakan amanat UU.

“Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren mengamanatkan terbentuknya Majelis Masyayikh sebagai instrumen penting guna mewujudkan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Pesantren,” kata Gus Yaqut.

Gus Yaqut menjelaskan bahwa Majelis Masyayikh adalah lembaga mandiri dan independen yang keanggotaannya berasal dari Dewan Masyayikh. Mekanisme pemilihan majelis ini dilakukan oleh Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) yang berasal dari unsur pemerintah, asosiasi pesantren berskala nasional.

“Proses panjang telah dilakukan untuk dapat menetapkan anggota Majelis Masyayikh, dimulai dari pembentukan AHWA, penjaringan calon, sampai akhirnya mereka yang dipilih berdasarkan rumpun ilmu agama Islam,” jelas Gus Yaqut.

“Selaku Menteri Agama, saya berpandangan bahwa ini adalah hasil terbaik dari ikhtiar kita semua, teriring harapan yang disematkan kepada anggota Majelis Masyayikh yang terpilih untuk dapat membawa Pendidikan Pesantren menjadi makin unggul dalam menjawab tantangan zaman,” sambung Gus Yaqut.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani, memaparkan bahwa berdasarkan usulan AHWA, Menteri Agama menetapkan anggota Majelis Masyayikh berjumlah ganjil, yaitu paling sedikit sembilan orang dan paling banyak berjumlah 17 orang, dengan merepresentasikan rumpun ilmu agama Islam. Penetapan Majelis Masyayikh masa khidmat pertama tahun 2021-2026 ini merujuk pada Keputusan Menteri Agama Nomor 1154 Tahun 2021.

“Kami berharap melalui momentum Pengukuhan Majelis Masyayikh ini dapat memperkuat sistem dan mutu pesantren, baik itu dari sisi lembaga maupun lulusannya, sehingga ke depan kontribusi para santri dapat senantiasa menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” ujar Ramdhani.

Berikut ini sembilan nama yang dikukuhkan sebagai anggota Majelis Masyayikh:

1. KH. Azis Afandi (Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat)
2. KH. Abdul Ghoffarrozin, M.Ed (Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah)
3. Dr. KH. Muhyiddin Khotib (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur)
4. KH. Tgk. Faisal Ali (Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Aceh Besar, Aceh)
5. Nyai Hj. Badriyah Fayumi, MA (Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Bekasi, Jawa Barat)
6. Dr. KH. Abdul Ghofur Maimun (Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah)
7. KH. Jam’an Nurchotib Mansur/Ust. Yusuf Mansur (Pesantren Darul Qur’an, Tangerang, Banten)
8. Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir (Pesantren Annuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur)
9. Dr. Hj. Amrah Kasim, Lc, MA (Pesantren IMMIM Putri, Pangkep, Sulawesi Selatan)

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

TGB Zainul Majdi

Agama Paling Sering Didzalimi Jelang Kontestasi Politik

Surabaya – Mahasiswa dan generasi muda diminta untuk menjaga toleransi dan tidak termakan isu agama …

KH Abun Bunyamin

Gagasan Sesat Fikir, Khilafah Hanya Cara Adu Domba Untuk Tujuan Politik

Purwakarta – Kelompok pengusung ideologi khilafah selalu memanfaatkan momentum untuk dan melancarkan propagandanya. Bahkan, kondisi …