bulan shafar
bulan shafar

Menepis Anggapan Bulan Shafar sebagai Bulan Sial

Masyarakat Arab pra Islam atau masyarakat jahiliah mengenal istilah tasyaum. Suatu anggapan bahwa bulan Shafar adalah bulan yang penuh kesialan. Di dalam bulan kedua dalam kalender hijriah ini menyimpan keburukan-keburukan. Mitos ini secara otomatis membuat masyarakat jahiliah dicekam ketakutan dan membatasi aktivitas mereka.

Setelah Islam menjejak di bumi Arab untuk pertama kalinya, mitos Shafar sebagai bulan sial dijelaskan sebagai praduga salah. Dalam Islam, tidak ada ajaran yang menuding bulan Shafar sebagai bulan sial penuh keburukan. Shafar sama seperti bulan-bulan yang lain.

Asal usul penamaan Shafar dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan surat Al Taubah ayat 36. Dalam ayat ini dijelaskan jumlah bulan dalam satu tahun, salah satunya bulan Shafar yang secara bahasa berarti kosong. Sebab masyarakat Arab waktu itu memiliki tradisi mengosongkan tempat tinggalnya, baik dalam rangka sebagai musafir atau berperang. Musabab inilah yang kemudian bulan tersebut dinamakan Shafar.

Penjelasan yang sama disampaikan oleh Ibnu Mandzur dalam Lisan al Arab, dinamakan bulan Shafar karena kosongnya Makkah sebab penduduknya keluar dalam rangka bepergian atau safar.

Rasulullah kemudian menepis anggapan masyarakat Arab yang meyakini bulan Shafar sebagai bulan penuh keburukan dan kesialan. Hal ini seperti dijelaskan oleh Habib Abu Bakar al ‘Adni dalam kitabnya Mandhumah Syarhu al Atsar fi ma Warada ‘an Syahri Shafar.

Dalam kitab ini dijelaskan, bahwa Nabi tidak menganggap bulan Shafar sebagai bulan penuh sial dan menyimpan keburukan-keburukan. Terbukti, beberapa peristiwa penting yang dialami oleh Nabi justru terjadi pada bulan Shafar. Menyebut diantaranya adalah pernikahan Nabi dengan Sayyidatina Khadijah, pernikahan Siti Fatimah dengan Sayyidina Ali dan Nabi memulai hijrahnya ke Madinah pada bulan ini.

Baca Juga:  Jangan Galau Ketika Kamu Dicaci di Medsos, Pilih Dibela Malaikat atau Setan?

Af’al (perbuatan) Nabi yang dilakukan pada bulan Shafar membuktikan dan sebagai pesan tersirat untuk mengungkapkan bahwa bulan Shafar tak ubahnya bulan-bulan yang lain.

Maka, mitos masyarakat jahiliah, juga sebagian orang saat ini, tentang bulan Shafar sebagai bulan sial penuh keburukan merupakan anggapan yang salah tak beralasan. Karenanya, tidak perlu mengikat diri dan membatasi aktivitas apapun di bulan ini.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

mahasiswi taliban

Haruskah Memisahkan Laki-laki dan Perempuan dalam Majelis Ilmu?

Taliban, penguasa baru Afghanistan melalui Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengeluarkan dekrit, mahasiswi dapat …

pinjaman online

Pinjaman Online dalam Pandangan Fikih

Pandemi sungguh telah membuat porak poranda sistem kehidupan, tidak hanya korban jiwa, namun juga menyasar …