aswaja
aswaja

Benarkah Abu Hasan Al Asy’ari Meyakini Allah Swt Berada di Arsy ?

Sudah berabad-abad lamanya, umat Islam yang sampai pada kita saat ini mayoritas bermadzhab Asya’iroh, yaitu mengikuti aqidah imam Abu Hasan al Asy’ari yang dikenal dengan madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Itu diakui oleh umat Islam dunia. Ini membuat iri terhadap firqah-firqah dalam Islam yang berusaha keras menjadi madzhab mayoritas namun tetap saja tidak tercapai. Antara lain yaitu Wahabi, mulai dari membayar pengikutnya sampai dengan cara membunuh untuk meraup pengikut yang banyak, namun faktanya tetap saja menjadi kelompok kecil dalam Islam. Dan lucunya, malah Wahabi menjadi madzhab tertawaan umat Islam sedunia karena aqidahnya yang tidak logis.

Di antara cara licik yang biasa digunakan Wahabi yaitu mengadu domba antara pengikut dan imamnya. Seperti pengikut imam Syafi’i diklaim tidak sejalan dengan imam Syafi’i tentang masalah hukum tahlilan. Padahal tidak ada teks dalam kitab Syafi’i atau riwayat dari murid-murid beliau yang menyatakan imam Syafi’i mengharamkan Tahlilan. Yang ada, justru penafsiran terhadap teks-teksi Syafi’i yang disalah pahami oleh mereka Wahabi.

Di antara adu domba lainnya yang telah mereka lakukan yaitu mengklaim pengikut imam Abu Hasan al Asy’ari tidak sama dengan aqidah imam Abu Hasan al Asy’ari tentang Allah swt berada di Arsy. Pernyataan ini juga pernah disampaikan secara tegas oleh tokoh muda Wahabi Indonesia, Dr. Firanda Andirja dalam channel You Tubenya.

Benarkah imam Abu Hasan al Asy’ari demikian ?

Klaim ini bermula dari naskah kitab al Ibanah An Ushuliddiyanah karya imam Abu Hasan al Asy’ari. Dalam kitab tersebut terdapat redaksi:

يَا سَاكِنَ الْعَرْشِ

Artinya: “Wahai dzat yang menghuni Arsy”

Berdasarkan redaksi di atas, imam Abu Hasan al Asy’ari berarti mengakui bahwa Allah swt berdiam di Arsy.

Baca Juga:  Bolehkah Meniadakan Sementara Shalat Jumat Gara-gara Corona?

Namun ternyata, redaksi ini hanya terdapat dalam kitab Ibanah cetakan Saudi Arabia. Sementara dalam cetakan India, berbunyi:

يَا سَاكِنَ السَّمَاءِ

Artinya: “Wahai dzat yang menghuni langit”

Berbeda lagi dengan cetakan dari Mesir, baik redaksi ya sakinal arsy atau ya sakinassama’ sama-sama tidak ada.

Dari perbedaan redaksi dari percetakan-percetakan yang ada menyebabkan umat Islam menjadi ragu akan keaslian kitab al Ibanah itu. Kitab al Ibanah sangat dimungkinkan telah terjadi penambahan, pengurangan atau perubahan redaksi, sebagaimana terjadi pada kitab-kitab Syafi’i. Sehingga menetapkan imam Abu Hasan al Asy’ari berkeyakinan Allah swt berdiam di Arsy sangat tidak kuat karena ada kecurigaan pemalsuan redaksi.

Sementara itu, pada kitab yang sama, ketika imam Abu Hasan al Asy’ari mengomentari ayat istawa, ia berkata:

الإبانة عن أصول الديانة – الأشعري (ص: 20)

وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى اِسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ عَلَى الْوَجْهِ اَلَّذِي قَالَهُ وَبِالْمَعْنَى اَلَّذِي أَرَادَهُ اِسْتِوَاءً مُنَزِّهًا عَنِ الْمُمَاسَّةِ وَالْاِسْتِقْرَارِ وَالتَّمَكُّنِ وَالْحُلُوْلِ وَاْلاِنْتِقَالِ لَا يَحْمِلُهُ الْعَرْشُ بَلِ الْعَرْشُ وَحَمْلَتُهُ مَحْمُوْلُوْنِ بِلُطْفِ قُدْرَتِهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah beristiwa atas Arsy sesuai apa yang Allah swt firmankan, dan sesuai maksud yang dikehendaki oleh_Nya, yaitu istiwa’ yang bersih dari sifat mumassah (menyentuh), istiqrar (berdiam di tempat), tamakkun (menetap), hulul (masuk) dan intiqal (berpindah), Arsy tidak memikulnya, bahkan Arsy dan yang membawa Arsy dijaga dengan kelembutan kekuasaan Allah swt”[1]

Ada dua makna yang perlu diperhatikan dari redaksi al Ibanah di atas, yaitu:

  1. Makna istiwa’nya Allah swt di Arsy adalah sesuai makna yang dikehendaki oleh Allah swt, bukan makna yang dikehendaki manusia. Ini artinya, makna firman Allah swt istawa alal Arsy dikembalikan kepada Allah swt, sehingga manusia tidak berhak memberikan makna terhadap ayat tersebut. Manakala di artikan Allah swt bertempat, atau berdiam di Arsy ini berarti makna yang sesuai dengan manusia, bukan yang sesuai dengan Allah swt.
  2. Allah bersih dari sifat bersentuhan dengan makhluk, berdiam di suatu tempat, menetap di tempat tertentu, bisa masuk ke dalam makhluk, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Baca Juga:  Pertanyaan Seputar Al-Qur’an : Mengapa Al-Qur’an Diturunkan secara Bertahap?

Jika kita artikan ayat:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Sesuai cara Wahabi, yaitu “kemudian Allah swt berdiam di Arsy”, ini berarti Allah swt tidak bersih dari sifat intiqal (berpindah), istiqrar (bertempat) dan tamakkun (menetap di suatu tempat). Jelas ini bertentangan dengan aqidah imam Abu Hasan al Asy’ari sebagaimana dalam al Ibanah di atas.

Jadi kesimpulannya, imam Abu Hasan al Asy’ari tetap tidak meyakini Allah swt berada di Arsy sebagaimana diyakini para pengikutnya. Wahabi hanya mengadu domba dengan memalsukan kitab imam Abu Hasan al Asy’ari guna mendapatkan legitimasi atas nama imam Abu Hasan al Asy’ari dengan perbuatan licik tersebut. Namun Allah swt maha suci dan adil, sehingga kelicikan mereka tetaplah terbongkar pada akhirnya.

Wallahu a’lam

 

[1] Abu Hasan al Asy’ari, al Ibanah An Ushuliddiyanah, Hal 20

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

4 madzhab

Mengapa Ahlussunnah Wal Jama’ah Hanya Mengikuti 4 Madzhab Saja ? Ini Penjelasannya !

Dalam Risalah fi Taakkudi bi Madzahibil Arba’ah, KH. Hasyim Asy’ari berkata: وَلَيْسَ مَذْهَبٌ فِي هَذِهِ …

hukum bermadzhab

Hukum Bermadzhab bagi Umat Islam Saat Ini

Jargon “Kembali kepada al Qur’an dan al Hadits”  sebagaimana yang sering digembar gemborkan Salafi Wahabi …