allah
allah

Allah Swt Suci dari Tempat dan Arah (1) : Makna Istiwa’ Allah Swt di ‘Arsy

Di dalam al Qur’an, Allah swt menyebutkan dirinya beristiwa di ‘Arsy. Misal ayat:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya: “Yang maha Rahman beristiwa’ atas ‘Asrys” (QS. Thaha: 5)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya: Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian beristiwa’ atas ‘Arsy” (QS. Yunus: 3)

Dan ayat-ayat lain yang menyebutkan Allah swt beristiwa’ di ‘Arsy.

Bagi Salafi Wahabi ayat ini sharih bahwa Allah swt bertempat dan berarah, yaitu di Arsy, karena “istawa” memiliki makna “istaqarra”. Ibn Taimiyah, salah seorang ulama’ pentolan Salafi Wahabi ketika membantah aqidah Jahmiyah yang mengatakan Allah swt berada di mana-mana, lalu Ibn Taimiyah menampilkan ayat tersebut (arrahmanu alal ‘arsyi istawa) dan menafsirkannya dengan “istaqarra” yang bermakna “menetap” atau “tinggal”. Kemudian Ibn Taimiyah menegaskan kembali bahwa Allah swt tidak ada di mana-mana tetapi berada di tempat yang tinggi[1].

Di sisi lain, Ibn Taimiyah juga mengatakan bahwa di Arsy itu dalam posisi duduk. Dalam Majmu’ al Fatawa Ibn Taimiyah mengatakan:

مجموع الفتاوى (6/ 166)

وَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ إذَا جَاءَهُمْ وَجَلَسَ عَلَى كُرْسِيِّهِ أَشْرَقَتْ الْأَرْضُ كُلُّهَا بِأَنْوَارِهِ

Artinya: “Ini adalah dalil bahwa ketika Allah mendatangi mereka, dan duduk di atas kursinya, maka bumi menjadi terang dengan cahayanya”[2]

Parahnya, bagi Ibn Taimiyah, orang-orang yang tidak sepakat bahwa Allah swt ada di Arsy dianggap menentang al Qur’an sehingga dihukumi kafir. Dalam kitab Dar’u Ta’arud al ‘Aql wa al Naql setelah menyebutkan ayat-ayat istiwa’, Ibn Taimiyah berkata:

فَهَذَا كُلُّهُ وَمَا أَشْبَهَهُ شَوَاهِدُ وَدَلَائِلُ عَلَى الْحَدِّ وَمَنْ لَمْ يَعْتَرِفْ بِهِ فَقَدْ كَفَرَ بِتَنْزِيْلِ اللهِ وَجَحَدَ آيَاتِ اللهِ

Baca Juga:  Allah Swt Suci dari Tempat dan Arah (3) : Apakah Peristiwa Isra’ Mi’raj Dapat Dijadikan Bukti Allah Berada di atas Langit ?

Artinya: “Kesemuanya ini dan yang sama dengan (dalil-dalil) ini adalah bukti dan dalil bahwa Allah swt terbatas. Siapa saja yang tidak mengakui dengan ini semua, berarti telah kufur terhadap Allah swt menurunkan al Qur’an juga mengingkari ayat-ayat Allah swt”[3].

Itulah pandangan Salafy Wahaby yang memberikan makna istawa dengan istaqarra sehingga memberikan kesimpulan Allah swt berada di atas ‘Arsy. Padahal Allah swt suci dari tempat.

Bagaimana menurut Ahlussunnah wal Jama’ah ?

Tentang ayat tersebut, sebagaimana disampaikan oleh Imam al Nawawi bahwa tentang ayat sifat menggunakan dua pendekatan; Pertama menyerahkan seluruh maknanya kepada Allah swt tanpa memberikan makna khusus terhadap ayat tersebut. Ini yang kemudian dikenal dengan istilah tafwid dan digunakan oleh mayoritas ulama’ Salaf. Kedua, memalingkan makna tersebut kepada makna lain yang masih bagian dari makna “istawa”, agar membersihkan sifat Allah swt dari sifat-sifat makhluknya. Seperti “istawla” yang bermakna “menguasai”, atau “ista’la” yang bermakna “maha tinggi”. Ini yang dikenal dengan Ta’wil dan digunakan sebagian ulama’ Khalaf dan sebagian ulama’ Salaf.[4]

Kedua pendekatan yang dilakukan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah bukan karena mengingkari ayat tersebut. Ahlussunnah wal Jama’ah tetap meyakini kebenaran ayat tersebut hanya saja tidak mau dengan pemahaman yang dilakukan oleh Salafy Wahaby. Sebab pemahaman sebagaimana yang dilakukan Salafy Wahaby dapat mentasybih (menyamakan Allah swt dengan makhluknya) disamping juga mentajsim (meyakini Allah swt terdapat elemen-elemen atau tubuh). Sementara Allah swt tidak sama dengan makhluknya baik dalam sifat seperti bertempat atau dzatnya yaitu jisim. Allah swt maha suci dari hal itu semua.

Sebab itulah, Ahlussunnah wal Jama’ah tidak mengartikan istiwa dengan makna yang mengandung tasybih dan tajsim seperti “duduk” atau “berdiam”. Karena dua makna ini merupakan sifat jisim manusia. Seseorang dikatakan duduk jika memiliki pantat, dikatakan berdiam jika ada  tempat berdiam. Ahlussunnah wal Jama’ah lebih condong dengan pemaknaan ulama’-ulama’ hadits, ulama’ tafsir dan ulama’-ulama’ lainnya, yaitu membiarkan maknanya sesuai lafadz yang diturunkan oleh Allah swt atau memalingkan maknanya dari makna dzahir kepada makna lain yang bersih dari tasybih dan tajsim.

Wallahu a’lam


[1] Ibn Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, Juz 5, Hal 404

Baca Juga:  Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

[2] Ibn Taimiyah, al Asma’ wa al Sifat, Juz 1, Hal 81

[3] Ibn Taimiyah, Dar’u Ta’arud al ‘Aql wa al Naql, Juz 1, Hal 264

[4] Syarf al Nawawi, Syarh Nawawi ala al Muslim, Juz 1, Hal 323

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam …

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …