allah
allah

Allah Swt Suci Dari Tempat Dan Arah (4) : Hukum Bertanya “Dimana Allah Swt ?”

Sudah mutlak dalam aqidah mayoritas ummat Islam sejak masa Nabi Muhammad saw, ulama’ salaf hingga generasi ummat Islam saat ini menolak Allah swt ada di suatu tempat atau memiliki arah. Menolak adanya tempat dan arah bagi Allah swt merupakan kesempurnaan keimanan seorang muslim. Syaikh Nawawi al Jawi berkata:

مَنْ تَرَكَ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ كَمُلَ إِيْمَانُهُ أَيْنَ وَكَيْفَ وَمَتَى وَكَمْ

Artinya: “Barang siapa yang meninggalkan empat kalimat maka keimanannya akan sempurna”[1]

Yang dimaksud syaikh Nawawii dengan empat kalimat yang menjadi kesempurnaan keimanan seorang muslim adalah bertanya “dimana Allah?”, “bagaimana Allah?”, “kapan Allah ada?” dan “berapa banyaknya Allah?”. Karena pertanyaan-pertanyaan ini dapat menjebak seseorang kepada jawaban syirik.

Misal pertanyaan “dimana Allah?” , pertanyaan ini menggiring seseorang untuk menjawab terhadap tempat Allah swt. Karena kata “dimana” merupakan pertanyaan yang berkonsekwensi kepada jawaban “tempat”. Sehingga pertanyaan “dimana Allah” secara spontan akan memberikan jawaban tempat keberadaan Allah swt.

Al Hafidz Ibn ‘Araby al Maliki berkata: “Yang dikehendaki dari pertanyaan di mana Allah sesungguhnya menanyakan tempat Allah, padahal adanya tempat bagi Allah adalah hal yang mustahil”[2]

Inilah sebenarnya tujuan utama Salafy Wahaby dalam buku-buku pembelajaran karangan mereka diawali dengan pertanyaan “dimana Allah ?”. Tidak lain untuk mensugesti pembacanya agar memiliki pandangan bahwa Allah swt memiliki tempat. Sehingga benar sekali apa yang dikatakan Syaikh Nawawi di atas agar menjadi Islam yang sempurna harus meninggalkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lalu bagaimana hukum bertanya “dimana Allah swt ?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membutuhkan jawaban tajsim dan tasybih ?

Ibn Hajar al Atsqalany menjawab tentang pertanyaan seperti demikian dalam kitabnya Fath al Bari: “Menggambarkannya akal manusia terhadap rasahia-rahasia Allah berarti membatasi terhadap Allah. Sebab itu tidak boleh seseorang menggambarkan terhadap apa yang telah Allah tetapkan dengan bertanya “mengapa” dan “bagaimana” sebagaimana tidak boleh menanyakan keberadaan Allah “dimana” dan “darimana”[3]

Baca Juga:  Tata Cara Berdiri dalam Shalat

Sebab itu, ketika Rasulullah saw ditanya oleh sahabatnya “dimana Tuhanmu”, maka Allah swt langsung menurutkan ayat:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al Baqarah: 186)

Menurut para mufassir ayat ini diturunkan untuk memalingkan Rasulullah saw dari pertanyaan-pertanyaan tersebut[4].

Maka dari itu umat Islam yang benar-benar beriman kepada Allah swt dan mensucikan Allah swt dari sifat-sifat makhluk harus meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggambarkan Allah swt sama dengan makhluknya. Seperti bertanya “dimana Allah”, “bagaimana Allah”, “darimana Allah”, “mengapa Allah” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menggambarkan Allah swt seperti makhluknya. Karena yang demikian berarti telah membatasi Allah swt seperti yang tergambar dalam pikiran manusia. Padahal Allah swt dzat maha tidak terbatas dengan apapun.

Wallahu a’lam


[1] Al Nawawi al Jawi, Kasyifatussaja fi Syarh Safinatunnaja, Hal 20

[2] Abu Bakar bin al ‘Araby al Maliky, ‘Aridhah al Ahwadzi bi Syarh Shahih al Tirmidzi, Juz 11, Hal 273

[3] Ibn Hajar al Atsqalany, Fath al Bary, Juz 1, Hal 221

[4] Jarir al Thabari, Tafsir al Thabari, Juz 3, Hal 481, Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Juz 1, Hal 506

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

doa orang yang baru datang haji

Doa Orang yang Baru Datang Dari Haji

Berdo’a untuk suatu kebaikan tidak dipermasalahkan adalam agama, karena berdo’a sendiri merupakan anjuran dari Allah …

wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam …