Fakhrur Rozi
Fakhrur Rozi

Mengenal Fakhruddin al Razi: Hujjatul Islam Kedua Setelah al Ghazali

Pada tanggal 25 Ramadhan 544 H. Di Jibal Rayy, sekarang masuk wilayah Iran, lahir sosok bayi lelaki yang dikemudian hari tumbuh menjadi remaja yang multi talenta dan menguasai berbagai disiplin ilmu. Diberi nama Fakhruddin al Razi.

Faktor keluarga andil besar terhadap karir keilmuannya, khususnya dalam spesifikasi ilmu agama. Ayahnya adalah seorang ulama besar dan terpandang di tempatnya, dalam fikih menganut madahab Imam Syafi’i sementara dalam bidang aqidah mengikuti Imam al Asy’ari.

Pengembaraan intelektualnya dimulai dari rumahnya. Kepada ayahnya, Fakhruddin al Razi belajar ilmu hadis, fikih, dan ushul fikih. Dan untuk menambah kelengkapan ilmu agamanya, ia kemudian berguru kepada al Majd al Jili untuk belajar filsafat dan ilmu kalam.

Lelaki yang memiliki nama lengkap Abu Abdullah, Abu al Fadl Muhammad Ibnu Umar al Razi setelah dewasa tumbuh menjadi seorang ulama kesohor. Sebagian ulama dan masyarakat Islam bahkan menjulukinya sebagai Hujjatul Islam (pijakan argumentasi hukum Islam) setelah al Ghazali.

Ia memiliki kecerdasan luar biasa. Banyak disiplin ilmu yang dikuasainya dengan baik dan sempurna. Seperti filsafat, sejarah, matematika, kedokteran, astronomi, teologi dan tafsir. Lebih mengagumkan lagi, ia mampu mengungguli para pakar ditiap bidang disiplin ilmu yang dikuasainya tersebut pada masa itu.  Gelar Syaikh al Islam pun disandangnya. Gelar akademik yang tidak sembarang disematkan pada ulama.

Setelah belajar di kampung halamannya, Fakhruddin al Razi memulai pengembaraan intelektualnya ke berbagai tempat hingga sampai ke Bukhara, Khawarizm dan Transoksiana (ma Wara’a al Nahr), Asia Tengah. Di Transoksiana, ia banyak berdiskusi dan berdebat dengan para pakar diberbagai disiplin ilmu. Tujuannya tidak lain hanya ingin menajamkan pisau analisa terhadap ilmu yang dimilikinya. Tetapi karena nalar kritisnya yang sangat tajam dan beberapa pendapatnya dianggap kontroversial (menyimpang), ia harus mengalami pengusiran dari tempat tersebut.

Baca Juga:  Inilah 6 Keutamaan Memperbanyak Shalawat

Nalar kritis yang dimilikinya bersumber dari ilmu filsafat yang dikuasainya yang terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Ibnu Sina, Al Farabi, Muhammad Ibnu Zakaria, dan Al Ghazali. Nalar kritis yang tinggi dan tajam membuatnya selalu terlibat dalam perdebatan sengit. Bahkan dengan para pendukung Ibnu Sina sendiri, seperti Syeikh al Rais. Lebih dari itu, ia juga kontra dengan Nashiruddin al Thusi dan Mulla Syadruddin al Syirazi, dua ulama besar yang sangat disegani.

Tidak berhenti sampai disini, polemik Fakhruddin al Razi berlanjut dengan Ibnu Taimiyah. Sampai-sampai Ibnu Taimiyah menuduhnya telah mengajarkan penyembahan pada berhala dan binatang. Tudingan yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah ini terkait dengan karya Fakhruddin al Razi yang berjudul  Al Sir al Maktum fi Asrar al Nujum (Misteri yang tersembunyi dibalik rahasia bintang-bintang).

Perdebatan, kontroversi dan perbedaan seperti telah disebut merupakan hal biasa dikalangan para ulama. Maka terlepas dari semua itu, yang jelas Fakhruddin al Razi adalah seorang ulama besar dari kalangan sunni khususnya madhab Imam Syafi’i.

Beliau tutup usia pada umur 63 tahun. Tepatnya pada tahun 606 H/1209 M di Haret. Beliau meninggal dunia sebab minumannya dicampur racun oleh para pembencinya.

Salah satu karyanya yang fenomenal dan menjadi rujukan umat Islam sampai saat ini adalah kitab al Tafsir al Kabir yang populer dengan sebutan Mafatih al Ghaib. Selain itu beliau juga menulis Isma al Anbiya, Bahr al Ansab, al Mantiq al Kabir,  al Mahsul wa al Muntakhab, al Arba’in, Nihayat al ‘Uqul, al Bayan wa al Burhan fi al Radd ‘ala Ahli al Zaygh wa al Tughyan, al Mabahith al ‘Imadiyyah fi al Mathalib al Ma’adiyyah, al Mabahith al Masyriqiyyah, Ta’sis al Taqdis fi Takwil al Sifat, al Ma’alim fi Ushul al Din, al Ma’alim fi Ushul al Fiqh, dan masih banyak karya-karya beliau.

Baca Juga:  Waktu dan Tata Cara Doa Akhir dan Awal Tahun Islam

 

 

 

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri