Mengenal Ksatria Islam dengan Julukan “si Pedang Allah”

0
540

Era Kekaisaran Romawi Bizantium dan Kekaisaran Sassaniya Persia dapat ditumbangkan oleh para pejuang Muslimdalam kurun waktu kurang lebih 18 tahun. Tumbangnya dua kekuatan besar ini membuka pintu besar perkembangan Islam yang terus meluas hingga ke wilayah Eropa, Afrika, dan Asia Tengah.

Dalam rentetan tinta emas sejarah perkembangan dan penaklukan Islam itu muncul nama-nama besar yang berhasil membawa nama besar Islam. Salah satu yang sangat populer dan dikenal luas adalah Khalid bin Walid. Tidak hanya pemberani, tapi Khalid dikenal cerdas dalam meramu taktik perang sehingga memberikan buah manis kemenangan setiap peperangan.

Pada Mulanya adalah Musuh

Awalnya Khalid bin Walid termasuk musuh Islam. Beliau adalah seorang panglima perang yang termasyhur dan ditakuti di medan perang. Dalam Perang Uhud, ia memimpin pasukan kuda Quraisy yang berhasil memukul balik pertahanan kaum Muslimin. Saat itu, pada mulanya kaum kafir Quraisy terdesak sehingga berlarian menyingkir dari tebasan pedang pasukan Muslim.

Mereka meninggalkan harta benda di belakang. Melihat musuhnya tunggang-langgang, pasukan Muslim yang bertugas mengawasi dengan senjata panah dari bukit justru turun merebut harta rampasan perang. Di sinilah Khalid melihat peluang. Khalid bergegas menyerang pasukan Muslim dari arah belakang.

Dalam situasi terkejut, cukup banyak pasukan muslim yang terkena serangan anak buah Khalid. Akan tetapi, Khalid tidak mampu menembus benteng kokoh yang terdiri atas tubuh-tubuh kelelahan para sahabat yang setia menjadi tameng hidup untuk melindungi Rasulullah SAW.

Kekaguman Membawa Hidayah

Masuk Islamnya Khalid tidak terjadi begitu saja. Awalnya Khalid mengamati langsung bagaimana umat Islam berbondong-bondong dan bergerak bersama-sama dari Madinah ke Makkah hanya untuk satu tujuan, yakni menuntaskan kerinduan pada kampung halaman Nabi SAW serta menjalani ibadah haji.

Di sinilah Khalid merasa bahwa apa yang diperjuangkan Nabi Muhammad bukanlah fanatisme kesukuan atau harta benda, melainkan sesuatu yang lebih luhur, yakni keimanan pada Allah SWT. Dengan kata lain, Nabi tidak menyimpan dendam pada orang-orang Quraisy yang telah menyingkirkannya dari Makkah.

Seperti ditulis dalam kitab Shuwar min Siyar ash-Shahabiyyat, “Pada suatu hari Khalid merenungkan agama Islam yang ia saksikan sendiri semakin besar pengikut dan marwahnya. Khalid pun berkata, Demi Allah, sungguh jalan kebenaran telah tampak. Orang itu (Nabi Muhammad SAW) benar-benar utusan Allah. Lalu, sampai kapan aku memeranginya? Demi Allah, aku akan pergi menghadapnya dan masuk Islam.”

Di tahun ke-8 Hijriyah, Khalid pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah dan menyatakan beriman kepada Allah. Sesudah mengucapkan dua kalimat syahadat, Khalid memohon ampunan kepada Allah dan meminta pengertian dari Nabi akan perangainya dahulu sebagai pemimpin pasukan kafir Quraisy.

Rasul pun bersabda :“Sesungguhnya Islam menghancurkan dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya (orang masuk Islam).”

Memulai Perjuangan Bersama Islam

Pertempuran Mu’tah adalah pertarungan pertama Khalid di dalam barisan tentara Muslim. Inilah pertempuran yang mempertemukan tentara Muslim dan Bizantium yang pernah membantai orang-orang Islam di wilayah Suriah. Romawi mengerahkan pasukan yang jauh lebih besar dari pasukan umat Islam. Konon, jumlah pasukan Romawi berjumlah 200.000, sementara tentara Muslim hanya 3.000 pejuang.

Tiga komandan Muslim yang telah ditunjuk oleh Rasulullah terbunuh selama pertempuran. Pasukan Islam mengalami kekosongan panglima dan dalam kondisi terdesak. Ketika pendamping Thabit ibn al-Arqam datang, beliau lantas memberikan tampuk pimpinan kepada Khalid bin Walid yang dianggap pantas karena memiliki pengalaman perang yang luas.

Awalnya Khalid ragu-ragu untuk menerima jabatan tersebut. Dia merasa bahwa Thabit lebih layak mendapatkannya. Saat itu Khalid merasa belum pantas memimpin tentara muslim karena dia baru masuk Islam, ibadah dan ilmunya tentang Islam dirasa tidak dapat disamakan oleh tentara Islam lainnya. Tapi Thabit dan para tentara muslim lainnya berkeras bahwa Khalid yang memimpin pasukan muslim.

Khalid mengintruksikan agar tentara muslim mundur untuk mencegah kekalahan yang lebih besar. Kemudian dengan kemampuan militernya, Khalid mengganti strategi dengan merombak sayap kanan dan kiri tentara muslim. Selain itu Khalid juga membentuk sebuah divisi yang datang belakangan untuk menanamkan ketakutan di hati tentara Bizantium.

Strategi ini dibuat agar divisi baru itu tampak seperti bala bantuan yang baru tiba untuk memberikan tambahan kekuatan. Setelah tentara Bizantium merasa ragu untuk menyerang, Khalid mundur dengan pasukannya dengan selamat ke Madinah.

Di pertempuran inilah Rasulullah memberikan julukan Khalid as Sayf-ul-llah atau Khalid si Pedang Allah yang Terhunus. Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Zayd memegang panji lalu terbunuh. Kemudian Ja’far memangkunya dan ia pun terbunuh. Lalu Ibn Rawaahah mengambilnya sampai ia pun terbunuh.” Rasulullah, sallallaahu ‘alayhi wa sallam, menitikkan begitu banyak air mata dan berkata: “Lalu salah seorang pedang Allah dari pedang-pedang Allah (Saif min Suyufillah) mengambil panji hingga Allah Maha Besar menganugerahkan kemenangan bagi mereka.” [HR. Al-Bukhari].